Semasa hidupnya, Carlo Acutis adalah remaja yang rajin berdoa, berbagi kebaikan, dan menyebarkan iman Katolik secara daring.
06 Sep 2025 12:03 WIB · Internasional
Dengan julukan ”Sang Pemengaruh Tuhan”, Carlo Acutis menghabiskan kehidupan singkatnya dengan penuh makna. Ia rajin berdoa, berbagi kebaikan dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menyebarkan iman Katolik secara daring. Karena kesaksian dan teladan iman yang begitu luar biasa semasa hidupnya, Vatikan pada Minggu (7/9/2025) akan menobatkannya sebagai santo pertama dari generasi milenial.
Semasa hidupnya, Acutis (15) adalah remaja Italia yang dekat dengan Tuhan. Berbekal keterampilan teknologi digital, ia mendokumentasikan mukjizat iman Katolik secara daring. Namun, pada 2006, Acutis meninggal akibat leukemia.
Paus Leo XIV akan memimpin kanonisasi Acutis di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, pada pukul 10.00 waktu setempat. Ribuan orang akan menjadi saksi penobatannya sebagai orang suci. Lebih dari 800 pemeluk Katolik akan berangkat dari Roma, Italia, menuju makam Acutis di Assisi, Italia, dengan kereta api khusus.
Uskup Assisi Domenico Sorrentino mengeluarkan pernyataan melalui keuskupan tentang Acutis, Jumat (5/9/2025), waktu setempat. Dia mengajak anak muda untuk mengikuti teladan Acutis.
”Lebih dari sebelumnya, sekarang kita membutuhkan teladan positif, kisah hidup yang dapat membantu kaum muda tidak mengikuti gambaran yang mengecilkan hati, kekerasan, dan tren sesaat yang tidak meninggalkan jejak,” kata Sorrentino.
Ketika seseorang menjadi santo, Gereja Katolik percaya bahwa orang tersebut telah menjadi orang suci. Orang itu juga telah berada di surga bersama Tuhan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/06/e292254f-896b-415c-8853-8a9be0e98f84_jpg.jpg)
Acutis telah mendapat gelar beato atau yang terberkati di era mendiang Paus Fransiskus pada tahun 2020. Vatikan juga telah mengakui Acutis melakukan dua mukjizat sejak kematiannya. Pengakuan ini adalah langkah penting menuju penobatan sebagai orang suci.
Keajaiban pertama Acutis adalah kesembuhan seorang bocah Brasil yang menderita malaformasi pankreas yang langka. Adapun keajaiban kedua merupakan kesembuhan seorang pelajar Kosta Rika yang mengalami cedera serius akibat kecelakaan. Para kerabat dari kedua anak itu berdoa memohon bantuan Acutis.
Kanonisasi Acutis seharusnya berlangsung pada 27 April lalu. Namun, upacara itu ditunda ketika Paus Fransiskus wafat.
Di samping Acutis, Pier Giorgio Frassati (24) yang meninggal pada 1925 juga akan ditetapkan sebagai santo. Pendaki gunung asal Italia ini terkenal dengan komitmen sosial dan spiritualnya. Frassati telah membuat keajaiban kedua dengan menyembuhkan seorang pemuda Amerika yang koma.
Acutis lahir pada 3 Mei 1991 di London, Inggris. Orangtuanya berkebangsaan Italia, yaitu pasangan Andrea Acutis dan Antonia Salzano. Walaupun ayah dan ibunya tidak dekat dengan Tuhan, Acutis tumbuh sebagai sosok dengan iman yang kuat.
Setelah pindah ke Milan, Italia, Acutis semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Ia menghabiskan waktu berjam-jam berdoa di hadapan Ekaristi setiap hari. Tidak ada hari yang terlewat. Dalam agama Katolik, praktik ini dikenal sebagai adorasi Ekaristi.
Acutis juga menebarkan kebaikan ketika bercengkerama dengan sesama. Dia berteman dengan anak-anak korban perundungan. Selain itu, ia suka membawakan makanan serta kantong tidur untuk tunawisma.
Antonia Salzano mengatakan, bakat putranya terletak pada kemampuan melihat bahwa setiap manusia adalah unik, asli, dan tidak terulang. ”Setiap orang bukanlah kopian, seperti yang biasa dikatakan Carlo,” ujarnya.
Sebagai anak yang cerdas, Acutis belajar pemrograman dasar secara otodidak. Dia membaca buku komputer tingkat perguruan tinggi. Teknologi menjadi jalan untuk menyebarkan iman Katolik. Dia mendokumentasikan mukjizat Ekaristi secara daring dalam situs miracolieucaristici.org yang berisi informasi tentang 196 mukjizat sepanjang sejarah Gereja.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/06/5db7eeaf-80dd-4e22-9d9a-21cbcb550750_jpeg.jpg)
Pada Oktober 2006, Acutis jatuh sakit karena leukemia akut. Dia mengembuskan napas terakhir hanya dalam beberapa hari.
Jenazah Acutis dilapisi cetakan lilin yang menyerupai dirinya. Tubuhnya terbalut baju olahraga, celana denim, dan sepatu sneakers. Layaknya anak remaja biasa. Bagian luar makam terbuat dari kaca sehingga orang bisa melihat jenazah.
Makam Acutis terletak di Assisi, sebuah kota abad pertengahan. Acutis memilih Assisi karena memiliki kedekatan iman dengan Santo Fransiskus, santo yang menginspirasi nama mendiang Paus Fransiskus. Santo Fransiskus terkenal akan pengabdiannya pada orang miskin, perdamaian, dan kerendahan hati. Setiap tahun, ribuan orang berziarah ke makam Acutis secara langsung atau virtual.
Menurut Antonia Salzano, daya tarik putranya adalah karena ia menjalani kehidupan yang sama dengan remaja lainnya era tahun 2000-an. Acutis bermain, berteman, dan bersekolah, tetapi juga membuka pintu hati kepada Yesus.
”Dia ingin membantu orang-orang untuk memiliki lebih banyak iman, untuk memahami bahwa ada kehidupan setelah kematian, bahwa kita adalah para peziarah di dunia ini,” kata Antonia yang kembali rajin ke gereja bersama suaminya.
Kisah Acutis menarik perhatian anak muda, termasuk di sebuah sekolah Katolik di Chicago, Amerika Serikat. Di kota kelahiran Paus Leo XIV itu, siswa kelas V membaca komik berjudul Digital Disciple tentang Acutis. Mereka mendiskusikan mukjizat yang konon terjadi melalui remaja itu.
Menurut Pastor Ed Howe di Paroki Beato Carlo Acutis, Chicago, Acutis adalah santo yang rasanya bisa ditemui di sekitar lingkungan. Dia bukan tokoh level dunia, seperti Bunda Teresa atau Santo Yohanes Paulus II.
”Ketika saya pertama kali membaca kisahnya, rasanya seperti terguncang karena ia sungguh tertarik kepada Yesus Kristus dan selalu menghadiri misa sejak usia dini,” tutur Sona Harrison, siswa kelas VIII di Sekolah St John Berchmans, bagian dari Paroki Acutis.
Harrison merasa Acutis adalah orang yang sangat mudah dipahami. ”Saya benar-benar merasa lebih dekat dengan Tuhan ketika membaca tentangnya,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/06/9a1dfb7e-cc11-4022-8f22-672f7c6dc8ba_jpeg.jpg)
Begitu cepatnya Acutis menjadi santo tidak lepas dari peran mendiang Paus Fransiskus. Paus Fransiskus menyadari, gereja membutuhkan sosok yang modern agar kaum muda Katolik tetap berpegang dalam iman di era digital. Popularitas Acutis terdongkrak oleh kampanye terpadu Vatikan.
Profesor sejarah di Universitas Notre Dame, Kathleen Sprows Cummings, mengatakan, upaya Gereja Katolik tersebut bukanlah hal yang baru. Dalam sejarah selama 2.000 tahun, gereja selalu mendorong kehadiran para santo untuk menanggapi kebutuhan tertentu pada waktu tertentu.
Sprows Cummings melanjutkan, kanonisasi adalah bentuk ”kampanye” dari gereja. ”Namun, hal itu tidak mengurangi kesucian dari orang yang dihormati untuk mengatakan bahwa mereka adalah yang terpilih,” ujarnya.
Melihat popularitas Acutis, tampaknya upaya dan pesan Gereja Katolik telah terjawab. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji