Jose Mourinho telan kekalahan perdana bersama Benfica. Stamford Bridge buktikan semua di Chelsea tidak ada yang bakal melupakan jasa ”Special One”.
01 Okt 2025 14:09 WIB · Olahraga
Jose Mourinho terus kekal dalam sejarah Chelsea. Sudah di mana pun dia berada, klub apa pun yang dipegangnya, ketika kembali ke Stadion Stamford Bridge, London, suporter Chelsea selalu menyambutnya dengan tangan terbuka. Lagu anthem untuk ”Special One” selalu bergema.
Situasi itu juga terjadi pada laga Chelsea kontra Benfica di Liga Champions Eropa, Rabu (1/10/2025) WIB, di Stamford Bridge. Mourinho mengasuh Benfica, tim Portugal, yang ditanganinya sejak 18 September lalu.
Pertarungan dengan ”Si Biru” adalah debut sosok juru taktik legendaris berusia 62 tahun itu di Liga Champions bersama Benfica. Mourinho juga kembali ke Liga Champions sejak terakhir kali menangani Tottenham Hotspur hingga babak 16 besar edisi 2019-2020.
Dalam laga comeback di Stamford Bridge dan Liga Champions, Mourinho gagal mempersembahkan Benfica kemenangan. Tim tuan rumah, Chelsea, unggul 1-0 lewat gol bunuh diri gelandang Benfica, Richard Rios, ketika pertandingan baru berjalan 18 menit.
Benfica belum meraih poin di Eropa. Mourinho merasakan kekalahan pertama pada rezim keduanya menangani ”Si Elang”, julukan Benfica. Pada tiga gim sebelumnya di kancah domestik, Mourinho memberikan dua kemenangan dan sekali imbang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/01/e484de403bc75ebb7c4ecb70527141fa-wires_photo_2025_10_01T135351.998.jpg)
Namun, hasil akhir tampaknya tidak terlalu mengusik Mourinho. Ia sangat menikmati kembali ke rumahnya, Stamford Bridge. Tempat ia mengangkat tiga trofi Liga Inggris yang sangat disyukuri dalam karier kepelatihannya.
Di luar pertandingan selama 90 menit, Mourinho juga bernostalgia dengan sejumlah staf Chelsea yang menemaninya sejak mendarat pertama kali di London, 3 Juni 2013. Salah satu pensiunan staf Chelsea, Brian Pullman, menghampiri Mourinho di meja konferensi pers seusai pertandingan.
Pullman adalah karyawan di bidang media Chelsea yang mengabdi untuk Si Biru selama 56 tahun. Ia purnatugas pada 2024. Khusus untuk Mourinho, ia kembali datang ke ruang konferensi pers Stamford Bridge yang nyaris setiap hari ia sambangi selama puluhan tahun.
Mourinho yang hendak meninggalkan arena konferensi pers tersenyum lebar melihat Pullman di sisi kanan meja. Tanpa basa-basi, ia langsung bertanya.
”Mana biskuit favorit saya?” kata Mourinho merujuk biskuit krim custard yang menjadi rider alias permintaan favoritnya kepada Pullman setiap sesi konferensi pers sebagai pelatih Chelsea.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/01/6a05a4ec47b9c8cc1dcd0101e16f18bb-wires_photo_2025_10_01T140014.928.jpg)
Bak sudah mengenal baik kelakuan mantan bosnya itu, Pullman langsung memberikan sebuah biskuit beralaskan tisu berwarna putih kepada Mourinho. Menerima biskuit itu, Mourinho tersenyum dan langsung memakannya. Keduanya pun berjalan meninggalkan ruang konferensi pers sembari berangkulan.
Pada sesi memantau kondisi stadion dan lapangan, Senin (29/9/2025), Mourinho juga kedapatan memeluk salah satu staf setia Chelsea, Thresa Conneely. Bahkan, Conneely rela menunggu Mourinho berbicara dengan staf Benfica di lorong menuju lapangan Stamford Bridge.
Mourinho langsung semringah melihat Conneely. Pelukan hangat diberikan pria asal Portugal itu. Mereka pun berbincang penuh senyuman.
Tak hanya staf, Mourinho pun menyapa dan berbincang dengan mantan anak asuhnya, Joe Cole, yang menjadi komentator untuk TNT Sports, untuk laga Chelsea versus Benfica.
”Joe Cole selalu berbicara bagus tentang saya, baik hal baik atau buruk saya lakukan. Joe adalah Joe-ku. Ia adalah pandit terbaik dalam sejarah,” kata Mourinho tentang Cole yang bermain dalam 124 laga di bawah asuhannya.
Cole menyebut pengaruh Mourinho tidak akan bisa ditandingi di Chelsea. ”Dia adalah Shankly (Bill Shankly, manajer legendaris Liverpool) untuk Chelsa. Dia selalu meninggalkan jejak dan pertanda. Hingga saat ini, saya masih merasakan peninggalannya di sini (Chelsea),” tutur Cole.
Mourinho tidak diragukan adalah manajer tersukses dalam sejarah Chelsea. Delapan trofi telah dipersembahkan dalam total 2.134 masa bakti sebagai manajer Si Biru selama dua periode.
Secara rata-rata, ia meraih satu trofi untuk Chelsea setiap 267 hari. Meskipun gagal memberikan Chelsea trofi Liga Champions, Mourinho membuka jalan bagi Chelsea untuk naik level dari tim medioker menjadi raksasa baru di Inggris dan Eropa pada awal dekade 2000-an.
Rasa cinta pendukung Chelsea yang datang langsung ke Stamford Bridge kian menggelora ketika Mourinho menyambangi tribune pendukung Benfica di menit ke-40.
Mourinho berusaha menenangkan pendukung tim tamu yang melempari gelandang Chelsea yang dibeli dari Benfica, Enzo Fernandez, dengan botol air mineral saat ingin mengeksekusi sepak pojok.
”Tentu, saya berterima kasih kepada (pendukung) atas reaksi dan sambutan mereka kepada saya,” kata Mourinho dilansir BBC.
”Saya berharap bisa kembali ke sini pada 20 tahun lagi dengan cucu-cucu saya. Mereka (Chelsea) bagian dari sejarah hidup saya, saya pun punya bagian dalam sejarah mereka,” ucapnya.
Mourinho selalu memiliki tautan abadi dengan Chelsea. Ketika dunia membencinya, hanya Chelsea yang tetap menyajikan cinta untuk sang maestro.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto