Selama 70 menit, China akan memamerkan peralatan militer mutakhir. Semuanya sistem aktif dan diproduksi di dalam negeri.
22 Agt 2025 14:00 WIB · Internasional
Pada 3 September 2025, China akan memamerkan kekuatan militer mutakhir dalam parade di Lapangan Tiananmen, Beijing. Ini bukan sekadar parade peralatan militer, melainkan ada kisah sejarah, trauma, dan kemenangan di dalamnya.
Parade militer sejatinya digelar untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II setelah Jepang menyerah. Namun, parade ini akan menjadi proyeksi kekuatan militer China yang semakin besar. Kantor berita Reuters, Jumat (22/8/2025), menyebutkan, ini penting mengingat China menghadapi aneka situasi seperti ketidakpercayaan yang mendalam terhadap Barat, ketidakpastian geopolitik dengan Amerika Serikat, dan pertikaian teritorial dengan negara-negara tetangga.
”Parade militer berdurasi 70 menit akan memamerkan peralatan militer mutakhir China yang mencerminkan upaya modernisasi persenjataan militer oleh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA),” ujar Mayor Jenderal Wu Zeke, pejabat Komisi Militer China dalam konferensi pers, Rabu.
Semua senjata dan peralatan militer yang akan dipamerkan dipilih dari sistem tempur utama yang diproduksi dalam negeri dan saat ini aktif. Wu memaparkan, pameran mencakup senjata berat strategis, sistem presisi hipersonik, serta peralatan nirawak dan antinirawak.
Sebagian besar persenjataan merupakan senjata dan peralatan militer China yang baru diluncurkan. Parade militer menjadi ajang penampilan perdana persenjataan baru itu.
”Parade ini melibatkan lebih dari 10.000 personel, lebih dari 100 pesawat, dan beberapa ratus kendaraan darat,” ujar Mayor Jenderal Xu Guizhong, Wakil Direktur Eksekutif Kantor Komando Parade Komando Teater Pusat PLA di Beijing, seperti dikutip CNN.
Lebih dari 100 jenis peralatan turut dipamerkan. ”Semuanya siap tempur dan diproduksi di dalam negeri,” kata Xu.
Parade tersebut rencananya akan menampilkan pasukan China yang berbaris dalam formasi, kendaraan lapis baja, dan perlengkapan tempur berteknologi tinggi lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/22/d947c8cdfdec6704631e26979b68920e-China_Military_Parade_131962326.jpg)
Presiden China Xi Jinping akan meninjau pasukan peserta parade bersama para tamu kehormatan. Di antaranya yang akan datang adalah Presiden Rusia Vladimir Putin. Kremlin telah mengonfirmasi kehadiran Putin, yang juga hadir dalam parade serupa pada 2015. Sebagian besar pemimpin Barat diperkirakan tidak akan hadir.
”Putin dan Xi menganggap peringatan perang begitu serius karena hal itu menunjukkan bahwa Rusia dan China dapat berbangga dengan sejarah mereka dan bahwa upaya Barat untuk menodai masa lalu mereka akan gagal,” kata Joseph Torigian, profesor di American University sekaligus pakar sejarah China-Soviet.
Selain persiapan parade, Beijing melancarkan kampanye untuk menekankan pandangan yang benar tentang sejarah Perang Dunia II. Beijing ingin menekankan bahwa China dan Soviet memainkan peran penting dalam memerangi pasukan fasis di wilayah Asia dan Eropa.
Sebuah komentar di media China, People’s Daily, pada minggu ini mengklaim, kontribusi China dalam memerangi Jepang diabaikan dan diremehkan oleh beberapa pihak. Komentar itu juga menyebutkan, upaya Partai Komunis di masa perang sengaja diremehkan dan difitnah.
”Mengabaikan fakta sejarah yang sangat kuat, mengabaikan puluhan juta nyawa tak berdosa yang hilang dalam perang, dan berulang kali menyangkal atau bahkan mengagungkan sejarah agresi merupakan pengkhianatan yang tak tahu malu,” demikian bunyi komentar itu.
Para cendekiawan China berupaya menulis ulang narasi yang mereka yakini sebagai arus utama yang berpusat pada Barat tentang Perang Dunia II. Mereka menyatakan, perang sebenarnya dimulai pada tahun 1931 dengan invasi Jepang ke China.
”China dan Rusia adalah pemenang terbesar dan menderita kerugian terbesar selama perang,” kata Wang Wen, Dekan Institut Studi Keuangan Chongyang di Universitas Renmin, China.
”Perlawanan China memainkan peran sangat diperlukan untuk menghabiskan sumber militer Jepang, yang melandasi upaya mengalahkan kekuatan Poros,” lanjut Wang.
Selama perang perlawanan terhadap Jepang, korban yang jatuh di China, sebagaimana diyakini di dalam negeri, diperkirakan 20 juta-35 juta orang. China mengatakan, lebih dari 35 juta orang tewas, termasuk 300.000 orang yang dibunuh tentara Jepang saat Pembantaian Nanjing tahun 1937.
Para sejarawan umumnya sepakat bahwa pemerintahan republik China terlibat dalam sebagian besar pertempuran langsung dengan Jepang. Sementara pasukan gerilya Komunis melancarkan serangan terhadap jalur pasokan Jepang.
Di salah satu museum di pinggiran Beijing yang didedikasikan untuk perang itu, koleksi yang dipamerkan menunjukkan pasukan Komunis ”memusnahkan pasukan Jepang secara substansial”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/09/10/China-Military_91457245_1599714517_jpg.jpg)
Menjelang peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, pasukan China berlatih manuver dalam formasi di sebuah kamp militer di pinggiran barat laut Beijing. Saat Reuters berkunjung ke kamp militer pada Rabu, sekelompok pasukan kehormatan, baik laki-laki maupun perempuan, berada dalam barisan yang terdiri dari 15 atau 20 orang. Mereka menyebar di sepanjang lintasan yang menyerupai landasan pacu sementara para perwira meneriakkan perintah.
Pihak berwenang juga meningkatkan keamanan di Beijing sejak latihan pertama bulan ini. Aparat keamanan mendirikan pos pemeriksaan, mengalihkan lalu lintas, dan menutup pusat perbelanjaan serta gedung perkantoran.
Beijing sejauh ini sudah menggelar dua latihan skala besar pada 9-10 Agustus dan 16-17 Agustus. Latihan diikuti masing-masing 22.000 orang dan 40.000 orang yang terdiri dari pasukan, polisi, dan penonton.
Resepsi kenegaraan dan pertunjukan budaya direncanakan digelar pada malam hari yang sama. Banyak warga Beijing yang mengalami gangguan kehidupan sehari-hari karena latihan parade selama berminggu-minggu berharap dapat beristirahat sejenak.
Terakhir kali parade diadakan, pada 2015, China memberlakukan libur nasional tiga hari dan sekolah-sekolah di Beijing menunda awal semester. Untuk parade militer 2025, warga China dalam pelantar media sosial China, Weibo, menyatakan tak sabar ingin menonton parade militer. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan