Di era modern, China adalah contoh melekat dengan pembangunan ekonomi disertai perencanaan kuat pemerintah yang dipuji ekonom peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2001 Joseph E Stiglitz.
23 Des 2022 06:04 WIB · Opini
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/22/fc2e5e35-58d4-4869-a5c9-d56d65b1d812_jpg.jpg)
Tidak ada pembangunan bagus tanpa perencanaan dan tanpa sentuhan pemerintah. China sangat andal soal ini dan sedang fokus pada misi 2035.
Peran pemerintah tidak pernah luput dari pakar ekonomi pembangunan. Kestabilan politik, harga misalnya, ada di tangan pemerintah. Arah pembangunan ekonomi ada di tangan pemerintah, tanpa mendistorsi mekanisme pasar.
Di era modern, China adalah contoh melekat dengan pembangunan ekonomi disertai perencanaan kuat pemerintah yang dipuji ekonom peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2001 Joseph E Stiglitz. China melaju sebagai basis produksi manufaktur global karena memproduksi dalam skala ekonomi berbiaya rendah. Ini penguat perdagangan global seperti diutarakan Paul Krugman, peraih Nobel Ekonomi 2008.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/22/90caaece-42f1-4310-8b77-d77065733e29_jpg.jpg)
Baca juga: Dubes Lu Kang: Visi Pembangunan China 2035 untuk Kerja Sama Tanpa Syarat dan Inklusif
Kini China mencanangkan pada 2035 pendapatan per kapita warga dari 19.170 dollar AS (purchasing power parity) akan setara dengan pendapatan per kapita negara maju. China dikenal fokus dan diuntungkan dengan kepemimpinan kuat dan kesediaan mendengar aspirasi, sejak Deng Xiaoping.
Di bawah Presiden Xi Jinping, China melaju tidak hanya fokus pada inovasi, tetapi juga memakmurkan dunia. Impian Xi adalah mengubah tatanan menuju dunia yang saling maju dan harmonis. ”Pada abad ke-21 kita tak bisa hidup dengan pemikiran lama,” kata Xi, dikutip Xinhua (26/10/2022). ”Jalan China menuju modernisasi tidak hanya menjadi kebanggaan bagi warganya, tetapi juga menawarkan kesempatan bagi negara lain mempercepat pembangunannya sembari tetap independen,” demikian Xinhua, melanjutkan visi Xi.
Pesan itu disampaikan Dubes China untuk Indonesia Lu Kang, di Jakarta, Rabu (21/12). Lu menekankan visi pembangunan China 2035 yang mengutamakan kerja sama saling menguntungkan, tanpa syarat, dan inklusif.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/22/6c089f83-cba2-4734-91d9-bc474449677f_jpg.jpg)
Baca juga: China-Arab Kian Erat
Tawaran China kadang dilihat sebagai muslihat. Pakar geopolitik dari Chicago University, Amerika Serikat (AS), John Mearsheimer, mengutarakan, ”Itu cara manis China yang pasti akan berubah jika semakin kuat.” China gemar mendalami ilmu Barat dan kenyang dengan tuduhan ”jebakan utang”, memaksa dan hendak menggusur pengaruh AS. China tidak segan mengatakan tatanan dunia tidak adil. China juga tidak segan-segan memamerkan sistem sosialisme komunisme.
Namun, China menekankan tidak berniat mengejar hegemoni berbasis pemikiran Barat. China mendalami jatuh bangunnya negara-negara, di antaranya, disebabkan kepemimpinan yang tidak bagus. China tak perlu membujuk semua negara karena mustahil mengajak semuanya untuk searah, pesan Profesor Yan Xuetong dari Tsinghua University.
Di samping kritik Barat yang sarat kecurigaan, mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon berujar, ”Andaikan bukan karena pengaruh China, kita tidak akan memiliki Paris Agreement.” Humphrey Moshi, Direktur Center for Chinese Studies University of Dar es Salaam, Tanzania, mengatakan, Afrika melihat sukses China yang mampu mengatasi kemiskinan.
Penulis:
RedaksiEditor:
ANTONIUS TOMY TRINUGROHO