22 Apr 2018 03:00 WIB · Nusantara
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2018/04/64603860.jpg)
Analisis paling umum sebagai faktor pendorong harga minyak mencakup beberapa hal, yakni kenaikan eskalasi konflik di Timur Tengah, krisis yang mendera Venezuela sebagai salah satu produsen minyak, dan pemotongan suplai atau pasokan oleh Arab Saudi serta sejumlah negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Yang menarik, analisis fundamental lain yang mendasari proyeksi terkereknya harga minyak saat ini dan selanjutnya adalah naiknya permintaan atas minyak di Asia, terutama China.
”Kenaikan tensi di Timur Tengah memang memengaruhi penguatan harga minyak, tetapi kami percaya bahwa pasar fisik yang ketat sebagai faktor kunci penggerak harga,” kata Jefferies dari Goldman Sachs, Kamis (19/4/2018), sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan, ia tidak dapat menerima cara-cara yang dilakukan negara-negara anggota OPEC. Cara atau kesepakatan anggota-anggota OPEC untuk mempertahankan dan atau menambah harga melalui kesepakatan menjaga pasokan adalah modus usang organisasi itu.
Beberapa pejabat Arab Saudi mengatakan, pemotongan pasokan minyak saat ini masih jauh dari target pengurangan suplai minyak global dalam tiga tahun. Tiga pejabat negeri itu mengungkapkan kepada Reuters, mereka akan senang jika harga minyak menembus 80 atau 100 dollar AS per barrel.
Melalui akun Twitter-nya pada Jumat (20/4/2018), Trump mengkritisi kesepakatan yang diambil pada pertemuan para menteri perminyakan sejumlah anggota OPEC dan aliansinya di Jeddah, Arab Saudi, tengah pekan ini. Materi pertemuan itu adalah mendiskusikan kesepakatan untuk memotong tingkat produksi sehingga membuat harga minyak naik. Negara anggota OPEC seperti Arab Saudi dan juga mitranya seperti Rusia bergantung pada harga minyak yang relatif tinggi untuk mendorong kuantitas keuangan mereka.
”Dengan rekor jumlah minyak di semua tempat, termasuk yang diusung kapal-kapal di laut, harga minyak sangat tinggi itu buatan semata! Tidak bagus dan tidak dapat diterima!” tulis Trump dalam cuitan di akun Twitter-nya.
Harga-harga minyak pun langsung kembali turun, menggerus kenaikan dalam perdagangan sebelumnya. Para menteri perminyakan OPEC pun buru-buru menyatakan, tidak ada modus atau cara khusus yang mereka lakukan untuk membuat kenaikan harga minyak di pasaran global. Mereka menegaskan, harga minyak saat ini merefleksikan kenaikan tensi di Timur Tengah sebagai pusat produksi minyak dunia.
Harga minyak lebih tinggi, kata mereka, antara lain karena ketegangan politik global, penyebutan sanksi pada Venezuela, ancaman bagi kesepakatan nuklir Iran, serangan ke Suriah, dan kegaduhan soal Korea Utara.
Permintaan Asia
Menarik mencermati pernyataan pihak Goldman Sachs bahwa permintaan pasar di Asia terhadap minyak menjadi faktor pendorong kenaikan harga minyak. Data perdagangan di Thomson Reuters Eikon menunjukkan, impor minyak mentah oleh pembeli-pembeli utama di Asia naik, bahkan mencapai rekor tertingginya bulan April. Dan, permintaan tertinggi itu berasal dari pembeli-pembeli di China.
Hingga akhir April ini, China diperkirakan menyedot lebih dari 9 juta barrel per hari (bpd), jumlah tertinggi dalam sejarah. Jumlah itu hampir mencapai 10 persen dari konsumsi global dan lebih dari sepertiga permintaan seluruh Asia. Katakan saja harga rata-ratanya di level 75 dollar AS per barrel, maka biaya bulanan bagi China akan lebih dari 20 miliar dollar AS.
Rekor dari sisi jumlah itu sendiri tidak memperhitungkan masa-masa perawatan yang biasanya memperketat impor sekali setahun. Hal itu juga dapat mengindikasikan permintaan China atas minyak lebih tinggi dari yang diperkirakan.
”Permintaan China tampaknya bakal tumbuh menguat,” demikian pernyataan Goldman Sachs kepada kliennya, seraya menggarisbawahi, ”lebih tinggi daripada yang diperkirakan saat ini”.
Konsultan lembaga Energy Aspects, Michael Meidan, mengatakan, para pembeli di China tampaknya tengah menambah stok mereka setelah stok mereka turun menjelang akhir tahun lalu. Permintaan baru dari China atas minyak juga diduga muncul akibat kehadiran perusahaan-perusahaan penyuling swasta. Mereka bertindak sebagai importir minyak mentah.
”Para penyuling memulai unit distilasi minyak mentah baru ataupun pascapakai sehingga membutuhkan minyak baru,” kata Meidan, seraya menambahkan kemungkinan pembelian untuk menambah stok.
Pertumbuhan ekonomi China yang lebih tinggi dari perkiraan semula dinilai sejumlah analis juga turut mendorong permintaan atas minyak. Di tengah suplai yang dijaga atau dibatasi, harganya pun terkerek naik.
Menurut Suresh Sivanandam dari lembaga konsultasi energi Wood Mackenzie, permintaan minyak tahun ini diperkirakan tumbuh hingga 370.000 bpd menjadi 12,78 juta bpd. Permintaan yang turun baru akan muncul pada pertengahan tahun ini, terutama terkait perbaikan yang dilakukan sejumlah perusahaan penyulingan.
Penulis:
Benny D KoestantoEditor: