China siap menggelar parade militer besar, 3 September 2025. Sebagian pemimpin negara akan hadir, termasuk Presiden Prabowo Subianto, Vladimir Putin, Kim Jong Un.
29 Agt 2025 07:00 WIB · Internasional
BEIJING, KOMPAS – Pemerintah China memastikan segala persiapan telah matang menjelang parade militer besar pada 3 September 2025 di Lapangan Tiananmen. Ini disebut-sebut parade militer terbesar yang pernah digelar sejak Republik Rakyat China berdiri pada 1949.
Hal ini mengemuka pada konferensi pers di Beijing, China, Kamis (28/8/2025). Asisten Menteri Luar Negeri China Hong Lei mengatakan, ada 26 pemimpin negara lain yang akan hadir di parade ini. Beberapa di antaranya Presiden Prabowo Subianto, Presiden Rusia Vladimir Putin, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dan Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif.
Selain itu, para pemimpin dari Myanmar, Iran, Belarus, Uzbekistan, Serbia, Nepal, Armenia, Tajikistan, Kongo, Malaysia, Maladewa, dan Mongolia juga turut hadir. Tidak ada pemimpin negara Barat yang disebut akan hadir.
Undangan parade militer juga disampaikan ke pihak-pihak yang membantu China selama berperang melawan Jepang pada 1931-1945. Ada 50 sahabat dan perwakilan keluarga dari 14 negara yang akan hadir, seperti Amerika Serikat, Kanada, Rusia, Inggris, dan Perancis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/28/ec929c8c-bd34-4dd3-8201-c7c064affc43_jpg.jpg)
Parade militer merupakan salah satu rangkaian acara peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. China juga menandai berakhirnya perang melawan Jepang yang terjadi selama 14 tahun. Menurut catatan China, perang menewaskan 35 juta anggota militer dan warga sipil. Kerugian langsung dan tak langsung karena perang ditaksir lebih dari 600 miliar dollar AS.
China berharap sejarah kelam tidak terulang kembali. Beijing pun menegaskan sikap untuk menjaga perdamaian dunia.
”Di tengah situasi global yang kompleks dan defisit perdamaian yang meningkat, menjaga perdamaian dunia adalah tugas menantang. Tema acara peringatan ini adalah ’Mengingat Sejarah, Mengenang Para Pahlawan, Menghargai Perdamaian, dan Menciptakan Masa Depan yang Lebih Baik’,” kata Hong.
Menurut Wakil Direktur Jenderal Biro Operasional Departemen Staf Gabungan Komisi Militer China Mayor Jenderal Wu Zeke, parade ini untuk menunjukkan kemajuan China dalam modernisasi militer. Ada berbagai macam senjata dan peralatan militer yang akan ditampilkan selama parade. Sebagian di antaranya baru akan ditampilkan ke publik untuk pertama kali.
Senjata dan peralatan militer ini dibuat di dalam negeri dan saat ini aktif. Pameran mencakup, antara lain, peralatan nirawak dan antinirawak, serta sistem presisi hipersonik.
Ada lebih dari 10.000 personel yang terlibat dalam parade, 100 pesawat, serta ratusan kendaraan darat. Selain itu, ada lebih dari 100 jenis peralatan yang akan dipamerkan (Kompas.id, 22/8/2025).
Di sisi lain, parade militer dipandang bukan hanya sebagai peringatan 80 tahun setelah Perang Dunia II. Sebagian pihak menilai ini sebagai cara China untuk unjuk kekuatan.
”(Presiden China) Xi Jinping berupaya menunjukkan bahwa ia sangat kuat, bahwa ia masih sangat berkuasa dan diterima dengan sangat baik di China,” ujar Alfred Wu, Associate Professor dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, seperti dikutip dari Reuters.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/27/e00f620194d28ac7bad8ed605d22c0b9-DSCF5749.JPG)
Hong merespons bahwa China menggelar parade militer untuk menunjukkan pembangunan damai, serta tekad untuk menjaga kedaulatan wilayah. Ia menambahkan, China punya reputasi baik dalam menjaga kedamaian dan keamanan. Ini tampak, antara lain, dari masuknya China sebagai anggota permanen Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Adapun selain parade, China juga berkampanye agar dunia melihat ulang sejarah Perang Dunia II. Beijing menilai China punya peran penting dalam sejarah Perang Dunia II dan memerangi pasukan fasis di Asia, utamanya pasukan Jepang. Namun, peran dan kontribusi China diabaikan.
Sebelum parade, China menggelar tiga kali latihan pada malam hingga pagi hari. Latihan terakhir berlangsung pada 23-24 Agustus 2025. Sejumlah jalan ditutup untuk latihan ini, termasuk area Chaoyang yang berjarak 3,7 kilometer dari Lapangan Tiananmen.
Selama latihan berlangsung, warga diimbau untuk tidak keluar rumah, serta membuka jendela atau pintu balkon. Pengambilan foto dan video juga tidak disarankan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/28/f79abd85-ac2c-432b-9128-b1710266682f_jpg.jpg)
Wakil Wali Kota Eksekutif Beijing Xia Linmao mengatakan, latihan ini dilakukan dengan mengupayakan gangguan minimal atas kegiatan warga. Mereka meningkatkan proporsi penggunaan kereta bawah tanah, serta menggunakan metode putaran kereta bawah tanah untuk mengangkut banyaknya personel militer yang terlibat dalam latihan.
”Ini untuk meminimalkan dampak pada transportasi darat, terutama di wilayah pusat kota,” kata Xia.
Selain parade, China juga bakal menggelar pertunjukan seni dan budaya dengan melibatkan generasi muda. Wakil Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Lu Yingchuan menyebut, pertunjukan ini memadukan seni tradisional dan kontemporer.
Penulis:
Sekar Gandhawangi, dari Beijing, ChinaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto