China Siap Luncurkan Pesawat Siluman Terbaru

Pesawat tempur J-35 dan J-15 T yang digadang-gadang sebagai pesawat tak terdeteksi radar akan dipamerkan di Zhuhai untuk pertama kali.

11 Nov 2024 20:20 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

ZHUHAI, SENIN – China untuk pertama kali memamerkan pesawat tempur terbaru mereka di pameran angkasa Zhuhai, Provinsi Guangdong, Senin (11/11/2024). Bagi Beijing, pameran ini menunjukkan kemampuan China memproduksi pesawat-pesawat militer yang tidak kalah canggih dari Barat, terutama Amerika Serikat. Akan tetapi, bagi para pengamat militer, kemampuan pesawat buatan China, walaupun baik, belum secanggih milik Washington.

Pesawat-pesawat yang akan dipamerkan sebagai sorotan utama adalah Shenyang J-35A dan Shenyang J-15T. Pesawat J-35 oleh para ahli dikatakan sebagai tiruan dari pesawat tempur milik AS, Lockheed Martin F-35. Akan tetapi, ini dilihat dari penampilan luar. Dari segi kemampuan mesin, komputer, dan navigasi belum ada yang bisa berkomentar karena aspeknya masih dirahasiakan oleh Beijing.

’’Kalaupun ketika pameran ada pertunjukan akrobat udara, tidak akan mengungkap kemampuan jelajah dan tempur J-35A. Hanya, berkaca dari keyakinan China memamerkannya, berarti pesawat ini sudah siap diluncurkan atau memasuki masa final sebelum peluncuran,” kata pakar isu militer China di Universitas Teknologi Nanyang Singapura (NTU), James Char.

BEIJING, CHINA - SEPTEMBER 03:   Chinese made carrier-borne J-15 fighter jets flying past Tiananmen Square during a military parade to mark the 70th anniversary of the end of World War Two on September 3, 2015 in Beijing, China. China is marking the 70th anniversary of the end of World War II and its role in defeating Japan with a new national holiday and a military parade in Beijing. (Photo by Andy Wong - Pool /Getty Images)

Peluncuran ini pun belum menjamin pesawat tersebut memang akan betul-betul diproduksi dan dipakai oleh Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA). Harian terafiliasi Pemerintah China, People’s Daily menulis, J-35A merupakan pesawat berukuran menengah dan memiliki sistem siluman atau tidak terdeteksi radar.

Selain J-35A, Shenyang juga memproduksi pesawat J-15T. Pesawat ini khusus untuk dipakai oleh Angkatan Laut PLA karena dibuat agar bisa mendarat dan lepas landas dari kapal induk Liaoning. Majalah kajian militer AS, National Interest edisi Minggu (10/11/2024) menjelaskan, J-15 dibuat dengan rancangan berdasar pesawat Rusia Su-33 bekas yang dibeli Beijing dari Ukraina.

Hal ini karena awalnya Beijing ingin membeli Su-33 dari Moskwa, tetapi perjanjiannya batal. Tetap ingin memiliki pesawat dengan kinerja serupa, ilmuwan China melakukan rekayasa mundur (reverse engineering) pesawat Su-33 yang mereka beli dari Ukraina. Dari proses itu, lahir rumus membangun J-15.

Dikatakan, mesin dari J-15 lebih baik daripada Su-33 untuk segi jarak dan lama masa pemakaian. Selain itu, rasio dorong berat pesawat ini 10 persen lebih baik dibandingkan F/A-18 Super Hornet milik AS. Demikian pula dengan beban sayapnya yang secara ukuran 25 persen lebih baik dari Super Hornet. Akan tetapi, ini tidak serta-merta berarti J-15 secara umum superior. Hingga saat ini, sudah ada 60 unit yang diproduksi.

US Secretary of Defense Lloyd Austin speaks at the B-21 Raider unveiling ceremony at Northrop Grumman's Air Force Plant 42 in Palmdale, California, December 2, 2022. - The high-tech stealth bomber can carry nuclear and conventional weapons and is designed to be able to fly without a crew on board. The B-21 -- which is on track to cost nearly $700 million per plane and is the first new US bomber in decades -- will gradually replace the B-1 and B-2 aircraft, which first flew during the Cold War. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)

Terdapat pula pesawat siluman pengebom Xi’an H-20 yang dibuat berdasarkan pesawat Northrop Grumman B-21. Menurut laporan yang dikutip National Interest, jarak tempuhnya 16.000 kilometer atau bisa mencapai Hawaii di AS. Pesawat ini bisa memuat bom dengan berat keseluruhan 40 ton.

Melansir Defense One, China sudah mengembangkan H-20 sejak tahun 2016. Menurut seorang pejabat Departemen Pertahanan AS yang meminta namanya dirahasiakan, H-20 tidak secanggih yang digembar-gemborkan Beijing. Akan tetapi, Pentagon terus mengawasi perkembangannya.

Pejabat itu menjelaskan, persoalan dari pesawat-pesawat China bukan dari teknologi, melainkan dari sumber daya manusia. Tidak ada data apabila PLA memiliki sederet pilot dan teknisi yang mampu mengoperasikan maupun mengelola pesawat-pesawat tersebut. Apalagi, pesawat-pesawat militer termutakhir tidak lagi dikendalikan secara manual. Butuh program yang rumit untuk menjalankan misi dengan efektif.

Selain pilot-pilot yang pandai dalam hal teknologi, pengalaman pun penting. Menurut pejabat Pentagon itu, AS memiliki bank data pengalaman mereka berperang di berbagai belahan dunia. Bahkan, pilot-pilot AS sampai sekarang aktif terjun ke titik-titik konflik global. Ini memberi ketangguhan mental yang berbeda daripada sekadar latihan simulasi tempur.

”Namun, ini tidak berarti kita meremehkan China,” kata pejabat itu. Mereka terus menjaga agar konflik bisa dihindari.

Selain pesawat tempur, pameran di Zhuhai juga memamerkan berbagai pesawat nirawak (drone). Secara teknologi, lagi-lagi AS yang paling canggih. Akan tetapi, China memproduksi terbanyak secara jumlah sehingga paling banyak pula dipakai. Pesawat nirawak buatan China ini digunakan oleh Rusia di Perang Ukraina.

China memiliki pesawat nirawak induk Jiutian SS UAV berbobot 10 ton. Pesawat ini bisa memuat banyak pesawat nirawak kecil-kecil untuk misi pengintaian sampai dengan penyerangan. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W