BEIJING, KOMPAS — China memasang target lebih rendah untuk pertumbuhan ekonomi 2026. Konsumsi domestik jadi andalan pertumbuhan.
Pada 2026, China menargetkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,5 persen hingga 5 persen. Pada 2025, Beijing menargetkan pertumbuhan 5 persen. ”Target pertumbuhan PDB selaras dengan tujuan jangka panjang kami hingga tahun 2035 dan secara umum sejalan dengan potensi pertumbuhan jangka panjang ekonomi China,” kata Perdana Menteri China Li Qiang pada pembukaan Kongres Rakyat Nasional (NPC) Ke-14 di Balai Agung Rakyat, Beijing, China, Kamis (5/3/2026).
Hadir pula dalam kongres, Presiden China Xi Jinping dan hampir 3.000 delegasi dari berbagai penjuru China. NPC berlangsung pada 4-12 Maret 2026.
Ada sejumlah isu yang dibahas, seperti ekonomi, politik, teknologi, industri, dan lingkungan. Isu tersebut diusulkan menjadi kebijakan oleh NPC, lalu dipertimbangkan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC), badan penasihat tertinggi China.
NPC 2026 akan menghasilkan Rencana Lima Tahun untuk periode 2026-2030. Rencana Lima Tahun adalah cetak biru yang akan menentukan arah kebijakan China.
NPC dilakukan secara paralel dengan Komite Nasional CPPCC tiap Maret. CPPCC berlangsung sehari lebih awal dari NPC, yakni 4-11 Maret 2026. Pelaksanaan dua agenda ini disebut ”Dua Sesi” atau ”Two Sessions”.
Adapun target pertumbuhan ekonomi masih sejalan dengan target modernisasi China pada 2035. Ini merujuk ke upaya ”Negeri Tirai Bambu” agar pendapatan per kapita warga tumbuh dari 19.170 dolar AS menjadi setara dengan pendapatan per kapita negara maju.
Tujuan itu bisa dicapai jika ekonomi tumbuh 4,2 persen per tahun selama satu dekade ke depan. Pada 2025, ekonomi China tumbuh sesuai target.
Untuk mencapai target, China berupaya meningkatkan konsumsi masyarakat kota dan desa, termasuk meningkatkan pendapatan mereka. Ini dapat menjadi tantangan setelah pandemi Covid-19 dan ketidakpastian global akibat situasi geopolitik. China menyadari tantangan tersebut.
Juru Bicara Sidang Keempat NPC Ke-14 Lou Qinjian mengatakan, konsumsi berkontribusi 52 persen pada pertumbuhan ekonomi. Untuk menggenjot konsumsi, pemerintah berencana memperluas program perdagangan impor barang konsumsi.
Potensi konsumsi jasa juga akan ditingkatkan. Sebelumnya, konsumsi jasa di sektor pariwisata, budaya, rekreasi, dan transportasi dilaporkan naik 5,5 persen.
Pasokan barang dan jasa juga bakal diperluas. Selain itu, lingkungan konsumsi internasional juga diperkuat guna menggenjot kampanye ”Belanja di China”.
”Tahun ini, kami akan berpegang pada fokus strategis untuk memperluas permintaan domestik, secara aktif meningkatkan konsumsi, dan mendorong pembangunan pasar domestik yang kuat,” kata Lou.
Ia menambahkan, peningkatan lapangan kerja akan ditingkatkan. Turunan rencana itu ialah mengadakan pelatihan keterampilan vokasi skala besar. Hingga kini, angka pekerja di China ada di angka 52 persen.
Agar masyarakat mau meningkatkan konsumsi, pemerintah berencana mengurangi kekhawatiran publik lewat sejumlah program kesejahteraan. Program itu mencakup antara lain pemerataan layanan publik dasar, jaminan kesehatan, perawatan warga lansia, dan penitipan anak.
Ada pula rencana memberi sokongan perumahan buat pasangan yang baru pertama kali menikah, pasangan yang memiliki anak pertama, dan keluarga yang butuh hunian layak. Ini sejalan dengan sikap China untuk mendorong pernikahan dan kehamilan mengingat angka kelahiran turun.
Reformasi dan pembukaan
Reformasi dan pembukaan ekonomi juga jadi strategi China untuk menumbuhkan ekonomi. Pada Desember 2025, China meresmikan sistem bea khusus di Hainan. Sistem ini bagian dari upaya menguatkan Hainan sebagai wilayah pelabuhan perdagangan bebas.
Pada 2018, pemerintah mengumumkan rencana mengembangkan Hainan sebagai model pelabuhan perdagangan bebas China. Lokasi Hainan yang ada di ujung selatan China, serta bersimpangan dengan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, dianggap strategis untuk menjadi penghubung China dengan dunia internasional.
Pelabuhan perdagangan bebas Hainan adalah zona khusus yang mendorong Hainan sebagai pusat perdagangan, investasi, dan pembangunan industri. Untuk mencapai tujuan ini, pemerintah memberlakukan kebijakan liberalisasi perdagangan dan pajak. Dengan kebijakan ini, ada investor dari 176 negara dan wilayah yang beroperasi di Hainan.
”Hainan akan menjadi gerbang penting untuk era keterbukaan baru China dan magnet bagi sumber daya global, serta menawarkan kesempatan pembangunan langka bagi investor dan pengusaha global,” kata Kepala Departemen Publisitas dan Juru Bicara Komite Partai Komunis China Provinsi Hainan Wang Bin pada Desember lalu.
Hainan merupakan pulau paling selatan China. ”(Sistem kepabeanan khusus) ini bukan berarti menutup pulau tersebut (Hainan). Sebaliknya, pelabuhan perdagangan bebas Hainan akan menerapkan kebijakan yang lebih terbuka, memungkinkan pertukaran internasional yang lebih bebas serta konektivitas yang lebih efisien dengan daratan China,” kata Wang.
Per September 2025, sebanyak 565 perusahaan yang memanfaatkan kebijakan tarif nol persen. Nilai barangnya mencapai 27,06 miliar yuan atau 3,8 miliar dolar AS.
Sementara itu, perang dagang China-AS dianggap berpotensi menjadi tantangan. Walakin, Beijing menyebut bahwa dua negara mencapai hasil positif dari lima sesi dialog antara China dan AS. ”Pemahaman penting bersama” juga dicapai oleh dua kepala negara saat bertemu di Busan, Korea Selatan, pada 2025.
”Di bidang internasional, kami mengambil pendekatan yang beralasan, kuat, dan efektif dalam menangani isu-isu ekonomi dan perdagangan serta teguh melindungi kepentingan nasional China,” tutur Li Qiang.
Di sisi lain, teknologi berbasis inovasi juga masuk dalam daftar rencana China ke depan. Sejauh ini China membuat terobosan teknologi China, mencakup antara lain akal imitasi (AI), robot humanoid, biomedisin, teknologi kuantum, dan cip domestik.
Humanoid yang menanamkan AI pada tubuh robot menandai lompatan inovasi China. Menyitir data Morgan Stanley 2025 dari South China Morning Post, China membukukan 7.705 paten robot humanoid dalam lima tahun terakhir.
BEIJING, KOMPAS — China memasang target lebih rendah untuk pertumbuhan ekonomi 2026. Konsumsi domestik jadi andalan pertumbuhan.
Pada 2026, China menargetkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,5 persen hingga 5 persen. Pada 2025, Beijing menargetkan pertumbuhan 5 persen. ”Target pertumbuhan PDB selaras dengan tujuan jangka panjang kami hingga tahun 2035 dan secara umum sejalan dengan potensi pertumbuhan jangka panjang ekonomi China,” kata Perdana Menteri China Li Qiang pada pembukaan Kongres Rakyat Nasional (NPC) Ke-14 di Balai Agung Rakyat, Beijing, China, Kamis (5/3/2026).
Serial Artikel
China Tumbuh walau Terus Digoyang
Kebangkitan ekonomi China terjadi sejak kuartal ketiga 2020 dan berlanjut hingga kuartal keempat. Hal ini membuat China mengalami pertumbuhan ekonomi 2,3 persen pada 2020, satu-satunya yang tumbuh di tengah pandemi.
Hadir pula dalam kongres, Presiden China Xi Jinping dan hampir 3.000 delegasi dari berbagai penjuru China. NPC berlangsung pada 4-12 Maret 2026.
Ada sejumlah isu yang dibahas, seperti ekonomi, politik, teknologi, industri, dan lingkungan. Isu tersebut diusulkan menjadi kebijakan oleh NPC, lalu dipertimbangkan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC), badan penasihat tertinggi China.
NPC 2026 akan menghasilkan Rencana Lima Tahun untuk periode 2026-2030. Rencana Lima Tahun adalah cetak biru yang akan menentukan arah kebijakan China.
NPC dilakukan secara paralel dengan Komite Nasional CPPCC tiap Maret. CPPCC berlangsung sehari lebih awal dari NPC, yakni 4-11 Maret 2026. Pelaksanaan dua agenda ini disebut ”Dua Sesi” atau ”Two Sessions”.
Adapun target pertumbuhan ekonomi masih sejalan dengan target modernisasi China pada 2035. Ini merujuk ke upaya ”Negeri Tirai Bambu” agar pendapatan per kapita warga tumbuh dari 19.170 dolar AS menjadi setara dengan pendapatan per kapita negara maju.
Tujuan itu bisa dicapai jika ekonomi tumbuh 4,2 persen per tahun selama satu dekade ke depan. Pada 2025, ekonomi China tumbuh sesuai target.
Untuk mencapai target, China berupaya meningkatkan konsumsi masyarakat kota dan desa, termasuk meningkatkan pendapatan mereka. Ini dapat menjadi tantangan setelah pandemi Covid-19 dan ketidakpastian global akibat situasi geopolitik. China menyadari tantangan tersebut.
Juru Bicara Sidang Keempat NPC Ke-14 Lou Qinjian mengatakan, konsumsi berkontribusi 52 persen pada pertumbuhan ekonomi. Untuk menggenjot konsumsi, pemerintah berencana memperluas program perdagangan impor barang konsumsi.
Potensi konsumsi jasa juga akan ditingkatkan. Sebelumnya, konsumsi jasa di sektor pariwisata, budaya, rekreasi, dan transportasi dilaporkan naik 5,5 persen.
Pasokan barang dan jasa juga bakal diperluas. Selain itu, lingkungan konsumsi internasional juga diperkuat guna menggenjot kampanye ”Belanja di China”.
”Tahun ini, kami akan berpegang pada fokus strategis untuk memperluas permintaan domestik, secara aktif meningkatkan konsumsi, dan mendorong pembangunan pasar domestik yang kuat,” kata Lou.
Ia menambahkan, peningkatan lapangan kerja akan ditingkatkan. Turunan rencana itu ialah mengadakan pelatihan keterampilan vokasi skala besar. Hingga kini, angka pekerja di China ada di angka 52 persen.
Serial Artikel
China Fokus pada Misi 2035
Di era modern, China adalah contoh melekat dengan pembangunan ekonomi disertai perencanaan kuat pemerintah yang dipuji ekonom peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2001 Joseph E Stiglitz.
Agar masyarakat mau meningkatkan konsumsi, pemerintah berencana mengurangi kekhawatiran publik lewat sejumlah program kesejahteraan. Program itu mencakup antara lain pemerataan layanan publik dasar, jaminan kesehatan, perawatan warga lansia, dan penitipan anak.
Ada pula rencana memberi sokongan perumahan buat pasangan yang baru pertama kali menikah, pasangan yang memiliki anak pertama, dan keluarga yang butuh hunian layak. Ini sejalan dengan sikap China untuk mendorong pernikahan dan kehamilan mengingat angka kelahiran turun.
Reformasi dan pembukaan
Reformasi dan pembukaan ekonomi juga jadi strategi China untuk menumbuhkan ekonomi. Pada Desember 2025, China meresmikan sistem bea khusus di Hainan. Sistem ini bagian dari upaya menguatkan Hainan sebagai wilayah pelabuhan perdagangan bebas.
Pada 2018, pemerintah mengumumkan rencana mengembangkan Hainan sebagai model pelabuhan perdagangan bebas China. Lokasi Hainan yang ada di ujung selatan China, serta bersimpangan dengan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, dianggap strategis untuk menjadi penghubung China dengan dunia internasional.
Pelabuhan perdagangan bebas Hainan adalah zona khusus yang mendorong Hainan sebagai pusat perdagangan, investasi, dan pembangunan industri. Untuk mencapai tujuan ini, pemerintah memberlakukan kebijakan liberalisasi perdagangan dan pajak. Dengan kebijakan ini, ada investor dari 176 negara dan wilayah yang beroperasi di Hainan.
”Hainan akan menjadi gerbang penting untuk era keterbukaan baru China dan magnet bagi sumber daya global, serta menawarkan kesempatan pembangunan langka bagi investor dan pengusaha global,” kata Kepala Departemen Publisitas dan Juru Bicara Komite Partai Komunis China Provinsi Hainan Wang Bin pada Desember lalu.
Hainan merupakan pulau paling selatan China. ”(Sistem kepabeanan khusus) ini bukan berarti menutup pulau tersebut (Hainan). Sebaliknya, pelabuhan perdagangan bebas Hainan akan menerapkan kebijakan yang lebih terbuka, memungkinkan pertukaran internasional yang lebih bebas serta konektivitas yang lebih efisien dengan daratan China,” kata Wang.
Per September 2025, sebanyak 565 perusahaan yang memanfaatkan kebijakan tarif nol persen. Nilai barangnya mencapai 27,06 miliar yuan atau 3,8 miliar dolar AS.
Serial Artikel
Jejak Kopi Indonesia di Hainan
Sejak dulu, kopi Indonesia dibawa pedagang untuk dijual ke negara-negara asing dengan kapal. Kopi Indonesia pun berlabuh di Hainan, provinsi paling selatan China.
Sementara itu, perang dagang China-AS dianggap berpotensi menjadi tantangan. Walakin, Beijing menyebut bahwa dua negara mencapai hasil positif dari lima sesi dialog antara China dan AS. ”Pemahaman penting bersama” juga dicapai oleh dua kepala negara saat bertemu di Busan, Korea Selatan, pada 2025.
”Di bidang internasional, kami mengambil pendekatan yang beralasan, kuat, dan efektif dalam menangani isu-isu ekonomi dan perdagangan serta teguh melindungi kepentingan nasional China,” tutur Li Qiang.
Di sisi lain, teknologi berbasis inovasi juga masuk dalam daftar rencana China ke depan. Sejauh ini China membuat terobosan teknologi China, mencakup antara lain akal imitasi (AI), robot humanoid, biomedisin, teknologi kuantum, dan cip domestik.
Humanoid yang menanamkan AI pada tubuh robot menandai lompatan inovasi China. Menyitir data Morgan Stanley 2025 dari South China Morning Post, China membukukan 7.705 paten robot humanoid dalam lima tahun terakhir.