Sutradara Drew Hancock menyebut film ini adalah tentang cerita cinta. Hubungan tidak sehat antara Josh dan Iris menjadi akar permasalahan.
27 Jan 2025 07:35 WIB · Hiburan
Orang bilang, ada berjuta alasan untuk bisa jatuh cinta dan ada ribuan lainnya untuk bisa berpasangan. Namun, ternyata film Companion (2025) membawa kita melihat berjuta alasan lain untuk berani memutus cinta.
Companion adalah film debut penyutradaraan dari Drew Hancock yang berpusat pada ”hubungan toxic” antara pria dan sebuah robot. Seperti film bertema robot pintar yang sudah-sudah, film ini juga mengeksplorasi bagaimana jadinya apabila robot mendapatkan kuasa atas kesadaran. Tentu, dilengkapi dengan aksi pembunuhan tragis.
Cerita bermula dari pasangan sejoli, Josh (Jack Quaid) dan Iris (Sophie Thatcher), yang ingin berlibur bersama di sebuah vila pinggir kota. Mereka ditemani oleh dua pasangan lain, yaitu Sergey dan Kat serta Eli dan Patrick. Liburan ini berjalan menyenangkan sampai sebuah insiden terjadi. Iris ditemukan membunuh Sergey.
Di sinilah penonton mulai mengetahui bahwa Iris bukan manusia, melainkan sebuah robot terprogram milik Josh. Iris adalah ”robot pasangan” yang dibeli Josh untuk memenuhi hasrat cintanya. Josh dapat dengan bebas mengatur Iris, baik secara fisik maupun psikologis, melalui aplikasi di ponsel.
Iris yang tidak sadar dirinya adalah robot merasa panik dan melapor kepada Josh atas perbuatannya. Josh dan kawanannya dengan cepat menyekap Iris. Mereka mengungkap kepada Iris bahwa dirinya adalah robot. Diketahui juga bahwa pembunuhan Sergey sebenarnya diprakarsai oleh Josh yang memperalat Iris.
Setelah semua kisruh terjadi, Josh dan kawanannya bersekongkol untuk menyalahkan pembunuhan Sergey pada Iris. Mereka akan melaporkan Iris sebagai robot rusak yang bertindak agresif. Iris mulai menyadari hal tersebut sejalan dengan kesadarannya yang mulai terkonsolidasi. Ia pun berhasil melarikan diri saat Josh gegabah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/9afeb82c5d908e95a9b3d0ab2dd9bba4-COM_TP3_004_proxy_High_Res_JPEG.jpeg)
Pelarian Iris tidak berjalan mulus. Sebagai sebuah robot, Iris sudah diprogram untuk selalu ingin bersama Josh, seperti ia merasa itulah satu-satunya tujuan hidup. Di sisi lain, kesadarannya yang mulai tumbuh menginginkan kebebasan.
Sutradara Drew Hancock menyebut film ini adalah tentang cerita cinta. Hubungan tidak sehat antara Josh dan Iris menjadi akar permasalahan yang akhirnya merembet pada hal-hal tragis. Josh hanya menganggap Iris sebagai alat, sedangkan Iris merasa fungsi utama dirinya adalah untuk membahagiakan Josh.
”Pada dasarnya ini adalah cerita putusnya (hubungan) seorang pria dan wanita,” kata Hancock saat diwawancarai oleh SFX Magazine pada Selasa (31/12/2024).
Sebagai kisah cinta, Companion memiliki fondasi cerita yang cukup menarik. Di film ini, robot cerdas bukanlah obyek yang leluasa melakukan apa pun, mereka sepenuhnya diatur oleh pemiliknya melalui aplikasi ponsel. Mereka pun dirancang untuk tidak dapat melukai manusia. Inilah sebab Iris akan selalu mencintai Josh apa pun yang terjadi.
Pada dasarnya ini adalah cerita putusnya seorang pria dan wanita.
Lika-liku perasaan Iris ini diperankan dengan baik oleh Thatcher. Meski tergolong pendatang baru di dunia film, Thatcher telah memberikan penampilan yang nyaris tanpa cela. Bahkan, sang sutradara merasa takjub dengan Thatcher.
”Aku tidak bisa membayangkan orang lain memainkan peran itu. Sebelum proses shooting dimulai, aku tahu, mencari pemeran karakter itu sangat susah,” ucap Hancock.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/e0b52c73ce4b89b3cf3baee89b7977d4-COM_FP_0036_proxy_High_Res_JPEG.jpeg)
Quaid yang berperan sebagai Josh juga berhasil mengimbangi akting Thatcher. Hanya dengan mimik wajah serta intonasi suara saat berbicara, kita dapat melihat bahwa Josh adalah pria dengan masalah ego. Quaid dipilih langsung oleh Hancock untuk berperan di film ini.
Film ini tidak memiliki banyak karakter, tapi seluruh pemeran tampil dengan maksimal. Film semakin seru dengan balutan humor ala sitkom dengan takaran yang pas.
Babak pertama dari film ini dibuat sangat apik oleh Hancock. Sebagai sutradara, ia telah berhasil membangun fundamen cerita yang membuat penonton terus terpaku pada layar. Jujur saja, perkenalan karakter serta permulaan konflik yang disajikan di 30 menit pertama mampu menghipnotis dan mengajak penonton masuk ke dalam cerita.
Kuatnya alur film terasa dari pengungkapan setiap tokoh. Sifat asli setiap tokoh diurai secara rapi dan tertata. Penonton juga diberikan petunjuk di sepanjang adegan pembuka tentang kebenaran sosok Iris. Pengadeganan pembunuhan Sergey juga terasa mulus, meski menakutkan.
Sayangnya, kesuksesan tersebut tidak berlangsung lama. Cerita terasa mulai membosankan setelah memasuki babak pertengahan film. Fondasi konflik yang telah dibangun tidak dimanfaatkan dengan baik. Aksi pengejaran Iris yang seharusnya dapat dieksplorasi dengan menarik justru dibuat sebatas cerita bunuh-membunuh tak masuk akal seperti film slasher.
Penonton juga sering dibuat gusar dengan berbagai tindakan bodoh yang terus dilakukan para tokoh, misalnya ketika Josh dengan gegabah meninggalkan ponsel miliknya yang berujung pada terbebasnya kesadaran Iris. Bukankah seharusnya Josh bisa lebih waspada, mengingat ponsel itu memiliki kendali penuh atas Iris? Terasa sekali pembuat film tidak mau ambil pusing dengan kelogisan cerita yang disajikan.
Meski demikian, Hancock mengatakan sengaja membuat film yang campur aduk. Ia ingin film ini memiliki nuansa baru yang mengejutkan penonton. Nyatanya, eksekusi ide tersebut tidak maksimal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/acd99e4edc19e2ad6e9f5f6f9fe71802-COM_TP3_003_proxy_High_Res_JPEG.jpeg)
”Kami menjual film ini sebagai film horor, tapi sebenarnya film ini memiliki enam genre. Aku sebenarnya ingin menempatkan horor di genre ke-4 atau ke-5 dari daftar,” ungkap Hancock.
Cerita juga semakin mudah ditebak, bahkan ada beberapa bagian yang terasa repetitif. Selain itu, sutradara juga terkesan kehabisan ide dalam membangun ketegangan penonton. Alih-alih memberikan ketakutan dari atmosfer penceritaan, film ini justru dipenuhi dengan tembakan pistol yang dibuat untuk memberi rasa kejut layaknya jumpscare.
Kita menjual film ini sebagai film horor, tapi sebenarnya film ini memiliki enam genre. Aku sebenarnya ingin menempatkan horor di genre ke-4 atau ke-5 dari daftar.
Companion adalah karya pertama Hancock sebagai sutradara sekaligus penulis cerita. Dapat terlihat Hancock memiliki visi yang ideal terhadap film ini. Namun, dengan kekurangan dan kelebihannya, Companion dapat dikatakan sebagai tontonan yang seru.
Film ini akan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 29 Januari 2025. Companion layak disaksikan oleh penonton yang ingin melihat cerita romansa dalam balutan thriller modern.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/b5f29ffb9186bfe03ffc522b320e3f86-COM_FP_0009_proxy_High_Res_JPEG.jpeg)
Catatan: Artikel ini merupakan hasil kolaborasi dengan peserta magang harian Kompas, yakni Ammar Rezqianto, mahasiswa Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran.
Penulis:
Dwi AS SetianingsihEditor:
Moh. Hilmi Faiq