Cuaca Ekstrem di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga Akhir Januari

Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diprediksi bakal mengalami peningkatan intensitas hujan menjelang akhir Januari 2026.

20 Jan 2026 20:43 WIB · Lingkungan

KOMPAS/YOLA SASTRA

Oleh Ahmad Arif

JAKARTA, KOMPAS — Pertumbuhan awan konvektif secara signifikan terpantau di sebagian wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara bakal mengalami peningkatan intensitas hujan menjelang akhir Januari 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Jakarta, Selasa (20/1/2026), mengatakan, gangguan atmosfer saat ini bisa memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan. Kondisi ini dapat memicu potensi banjir, tanah longsor, dan gangguan pada sektor transportasi di wilayah terdampak.

”Kami mengimbau masyarakat tenang, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari ini. Dinamika atmosfer saat ini memang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia,” kata Faisal.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, terdapat sejumlah faktor teknis yang memengaruhi kondisi cuaca sepekan ke depan. Faktor teknis tersebut yaitu adanya bibit siklon tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan kecepatan angin maksimum sekitar sistem mencapai 15 knot (28 kilometer per jam) dan tekanan udara 1.001 hPa.

”Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatera hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” ujar Andri.

Warga menembus banjir yang merendam Perumahan Grand Permata Residence 2 di Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (19/1/2026). Pendataan BPBD Kabupaten Bekasi mencatat hingga Senin (19/1/2026) pukul 08.00 WIB, banjir masih melanda 39 desa di 17 kecamatan dan 14.855 kepala keluarga (KK) terdampak serta 1.336 jiwa mengungsi di 12 lokasi. Ketinggian air berkisar 10-100 sentimeter. Warga memanfaatkan masjid, sekolah, pondok pesantren sebagai lokasi pengungsian sementara. Intensitas hujan yang sangat tinggi dan merata di wilayah hulu dan hilir sejak Sabtu (17/1/2026) berimbas meluapnya Kali Gabus, Sungai Cibeet, Sungai Citarum, Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL), Kali Bekasi dan Kali Ciherang. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
19-1-2026

Di sisi lain, monsun Asia diprediksi menguat hingga 23 Januari 2026 disertai dengan seruak udara dingin (cold surge) yang signifikan dari wilayah daratan Asia. Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin di Laut China Selatan dan memicu pertumbuhan awan hujan secara masif di wilayah selatan khatulistiwa.

Secara bersamaan, aktifnya gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Equator, dan Kelvin, juga memperkuat pembentukan awan kumulonimbus di atmosfer.

Quote

Kami mengimbau masyarakat tenang, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari ini.

Andri menambahkan, situasi ini berpadu dengan kelembaban udara yang tinggi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer. Labilitas atmosfer yang kuat ini mendukung penuh proses konvektif skala lokal di wilayah Indonesia bagian selatan. Kombinasi seluruh faktor tersebut secara aktif memicu potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah terdampak.

Data BMKG juga menunjukkan, terdapat siklon tropis Nokaen yang berkembang dari bibit siklon tropis 91W sejak 15 Januari 2026 pukul 13.00 WIB. Posisi siklon ini di Laut Filipina sebelah utara Maluku Utara. Siklon ini tidak berdampak langsung terhadap cuaca di Indonesia, hanya memicu peningkatan gelombang laut kategori sedang, yaitu 1,25-2,5 meter di Samudra Pasifik utara Maluku.

Pergerakan bibit siklon dan siklon tropis Nokaen, yang mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia.

Sebaran hujan lebat

Hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan, potensi hujan lebat yang menyertai kilat dan angin kencang akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia secara bergantian menjelang akhir Januari 2026.

Pada 21 Januari, cuaca ekstrem berpotensi terjadi di wilayah Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Memasuki 22 Januari, potensi dampak cuaca serupa masih membayangi Bengkulu, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT, yang kemudian berlanjut pada 23 Januari di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT.

Selanjutnya, cuaca ekstrem berpotensi melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 24 Januari. BMKG memprakirakan wilayah Bali, NTB, dan NTT akan mengalami peningkatan curah hujan pada periode 25-26 Januari. ”Dinamika cuaca ini menuntut kewaspadaan tinggi masyarakat di provinsi-provinsi tersebut guna mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi yang mungkin timbul,” kata Andri.

Andri menjelaskan, kondisi cuaca bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer terkini. BMKG meminta masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang berlangsung cepat. Masyarakat diharapkan berhati-hati dalam merencanakan aktivitas luar ruang, perjalanan darat, laut, dan udara.

”Masyarakat diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca darat, laut, dan udara dari BMKG, yang akan diperbarui secara berkala berdasarkan analisis dan data meteorologi terbaru,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan