Cuaca ekstrem kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia, memicu serangkaian bencana.
20 Feb 2026 13:14 WIB · Lingkungan
KOMPAS/Raditya Mahendra Yasa
JAKARTA, KOMPAS — Petumbuhan awan konvektif yang meluas—yang memicu hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem—kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia, terutama bagian barat, termasuk Jabodetabek. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan fenomena atmosfer tersebut masih akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia hingga sepekan mendatang.
”Peningkatan intensitas hujan kali ini dipengaruhi oleh penguatan monsun Asia yang membawa angin baratan cukup kuat sehingga mempercepat pertumbuhan awan konvektif, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia,” kata Deputi Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdani, di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Kami memperkirakan fenomena atmosfer tersebut masih akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.
Andri mengatakan, aktivitas gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) yang saat ini terpantau berada di Samudra Hindia wilayah barat Indonesia turut berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Sumatera, Jawa bagian barat, Kalimantan, dan Sulawesi bagian utara.
Berdasarkan pantauan BMKG, pada periode 17-19 Februari 2026 hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Puncak curah hujan harian pada kategori ekstrem terjadi di Sumatera Barat sebesar 176,3 milimeter per hari, Aceh 130,9 mm per hari, Bengkulu 129,6 mm per hari, Bali 108,5 mm per hari, dan Kalimantan Barat 90,1 mm per hari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/04/f10b380181b065a4779f1d0df3715501-20260204AGS_13.jpg)
Sementara itu, pengukuran dalam periode 24 jam terakhir di Jabodetabek menunjukkan, intensitas hujan 179 milimeter (mm) terjadi di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, serta 168 mm di Atang Sanjaya, Kabupaten Bogor. ”Selain intensitas hujan tinggi, durasi kejadian hujan juga relatif panjang, berlangsung sejak malam hingga pagi hari,” kata Andri.
Di beberapa wilayah lain di Indonesia, dalam 24 jam terakhir juga terpantau hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Menurut BMKG, hujan dengan intensitas lebat terjadi di Sulawesi Utara sebesar 80,8 mm per hari, Jawa Barat 78,9 mm per hari, dan Kepulauan Riau 55,0 mm per hari.
”Kami memperkirakan fenomena atmosfer tersebut masih akan memberikan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia,” kata Andri.
Dalam seminggu ke depan, cuaca di Indonesia diprakirakan didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, beberapa derah perlu waspada adanya potensi peningkatan hujan dengan intensitas lebat. Daerah itu adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/09/d72c43e64c2424c5415b9257a4cc8fba-20260209AGS_8.jpg)
Seperti diprediksi BMKG dalam perkiraan iklim sebelumnya, intensitas hujan di Indonesia bakal lebih tinggi selama trimester pertama tahun 2026. Saat ini, indeks Nino 3,4 yang merupakan pengukuran anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis menunjukkan angka -0,77 yang berarti masih memasuki La Nina lemah. Hal ini dinilai berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di wilayah Indonesia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, cuaca ekstrem yang melanda tiga hari terakhir mengakibatkan munculnya bencana di sejumlah deerah. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, banjir di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, berdampak terhadap 10.061 kepala keluarga. Sebanyak 9.736 rumah dilaporkan terendam banjir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/29/2ee46699cbc589f2519d2cf9c4893edf-20260129AGS_11.jpg)
”Pemerintah daerah setempat terlah menetapkan status tanggap darurat tehitung mulai tanggal 16 Februari hingga 22 Februari 2026. Kondisi terkini, banjir masih menggenangi dua kecamatan, yakni Kecamatan Tegowanu dan Kecamatan Godong,” tuturnya.
Muhari menambahkan, banjir juga terjadi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Sebanyak 8.163 rumah terdampak peristiwa ini. ”Upaya perbaikan tanggul terus dilakukan dengan mengerahkan alat berat di lokasi kejadian. Berdasarkan pantauan visual, area persawahan Kebonagung, Pilangwetan, dan Tlogosih sebagian masih tergenang banjir,” ujarnya.
Selain banjir, Muhari juga menyampaikan adanya tanah longsor di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Kejadian ini mengakibatkan satu orang meninggal. Longsor terjadi di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Desa Labota, Kecamatan Bahodopi, Rabu (18/2/2026). Sejumlah alat berat juga tertimbun akibat kejadian ini.
Sementara itu, angin kencang yang berdampak signifikan terjadi di Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, juga pada Rabu. Lokasi terdampak berada di Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru. Sedikitnya 15 rumah mengalami kerusakan, terutama di bagian atap yang terbawa angin kencang.
Melihat masifnya rangkaian bencana tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman bencana, khususnya bahaya hidrometeorologi basah. Warga yang tinggal di daerah bantaran sungai juga diminta rutin memantau ketinggian muka air serta memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra