Dalam beberapa bulan terakhir, cuaca panas melanda. Kita harus beradaptasi untuk mengurangi dampak buruknya pada tubuh.
25 Jun 2024 12:00 WIB · Humaniora
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/24/d2658167-55f4-4c60-9178-33d9fc8f284d_jpg.jpg)
1. Apa saja dampak cuaca panas pada tubuh kita?
2. Bagaimana caranya beradaptasi dengan suhu panas yang kerap melanda?
3. Amankah jika kita berjemur?
4. Bagaimana cara mengurangi risiko kesehatan akibat suhu panas?
Pada akhir Juni 2024 ini, siswa sekolah memasuki masa liburan kenaikan kelas. Biasanya, tempat-tempat wisata langsung diserbu anak-anak sekolah yang berlibur. Intensitas aktivitas masyarakat di luar ruangan pun meningkat.
Di saat bersamaan, laporan Climate Central ”People Exposed to Climate Change: March-May 2024” menyebutkan, sekitar 222 juta atau 80 persen penduduk Indonesia terpapar panas yang tidak pernah dialami sebelumnya dalam kurun Maret-Mei 2024, dengan beberapa kota mengalami anomali suhu tertinggi lebih dari 1 derajat celsius dari rata-rata, yaitu Makassar, Semarang, dan Jakarta.
Baca juga: Asia Terpanggang Panas Ekstrem, Suhu Tertinggi Indonesia Tercatat di Ciputat
Baca juga: Siasat Wisata Saat Suhu Panas Menyengat
Itu sebabnya, kita perlu mewaspadai cuaca panas yang tengah melanda banyak kota di Indonesia. Sebab, cuaca yang panas bisa berdampak buruk pada kesehatan, mulai dari dehidrasi, lemas, hingga bisa berujung pada kematian. Karena itu, setiap orang diharapkan bisa menjaga suhu tubuhnya tetap stabil.
”Suhu tubuh manusia yang normal berada di kisaran 36-37 derajat celsius. Namun, tubuh dapat cepat beradaptasi dengan suhu di lingkungan sekitarnya. Jika di lingkungan sedang dalam kondisi panas, tubuh akan berusaha mengeluarkan suhu panas. Pembuluh darah dapat melebar sehingga kulit pun akan memerah,” ujar pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Trevino Aristarkus Pakasi, di Jakarta.
Kondisi yang lebih buruk akibat suhu panas tinggi pada seseorang ialah pitam panas atau heat stroke. Pitam panas terjadi karena suhu panas terperangkap di dalam tubuh.
Baca juga: Menjaga Suhu Tubuh di Tengah Hawa Panas
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai gejala gangguan kesehatan akibat cuaca panas, seperti keringat berlebihan, kulit terasa panas dan kering, rasa berdebar dan jantung yang berdetak lebih cepat, kulit menjadi pucat, serta keram pada kaki. Gejala lain yang juga perlu diwaspadai ialah mual dan muntah, pusing, serta urine yang berkurang dan berwarna pekat.
”Jika muncul gejala tersebut, dinginkan tubuh dengan kain basah atau sponge basah pada pergelangan tangan, leher, dan lipatan tubuh lainnya. Pastikan pula banyak minum air. Apabila gejala tidak menghilang, segera kunjungi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan,” ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril.
Biasanya, kondisi ini juga terjadi karena tubuh kekurangan cairan sehingga darah dan oksigen tidak bisa mengalir ke seluruh tubuh. Kondisi ini patut diwaspadai karena bisa berisiko hingga kematian.
Konsumsi air minum yang cukup sangat penting di tengah suhu panas yang tinggi saat ini. Jika perlu, cairan yang mengandung elektrolit bisa dikonsumsi. Ia pun menyarankan agar masyarakat tidak terlalu banyak beraktivitas di luar ruangan. Pilihlah tempat yang sejuk sehingga suhu tubuh tetap terjaga.
Selain itu, seseorang yang harus beraktivitas di luar ruangan sebaiknya menggunakan pakaian lengan panjang dengan bahan yang menyerap keringat. Pakaian dengan lengan panjang dapat membantu menahan panas dari luar tubuh untuk masuk sekaligus menjaga suhu dari dalam tubuh.
Baca juga: Cuaca Panas Ekstrem Ancam Kesehatan dan Keselamatan, Bagaimana Tubuh Beradaptasi?
Baca juga: Menjaga Suhu Tubuh di Tengah Hawa Panas
Studi Siti Setiati dari Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan rekan dalam Asian Journal of Gerontology & Geriatrics, Desember 2007, menunjukkan, seseorang hanya butuh waktu 7,5 menit jika berjemur pada pukul 11.00-13.00 atau selama 25 menit jika berjemur pukul 09.00-10.00.
Dengan waktu dan lama berjemur tersebut, berjemur cukup dilakukan tiga kali seminggu untuk memenuhi kebutuhan vitamin D dalam tubuh, bukan setiap hari.
Baca juga: Siasat Berjemur Sinar Matahari
Waktu berjemur dikaitkan dengan intensitas sinar ultraviolet (UV) B yang diperlukan untuk pembentukan vitamin D. Saat tengah hari, antara pukul 11.00 dan 13.00, intensitas UV mencapai yang tertinggi, sekitar dua dosis eritema minimal (MED). MED adalah jumlah radiasi UV yang akan menghasilkan eritema, yaitu bercak kemerahan atau tanda kulit terbakar.
Namun, karena berjemur tengah hari membuat tidak nyaman, masyarakat bisa melakukannya sekitar pukul 09.00-10.00 saat intensitas UV B sebesar 0,6-0,8 MED. Karena intensitas UV B-nya lebih rendah, maka butuh waktu berjemur lebih lama.
Susan Yeargin, pakar penyakit yang berhubungan dengan panas dari Athletic Training, University of South Carolina, dalam artikelnya di The Conversation pada Kamis (20/6/2024) menyarankan kita melakukan beberapa hal. Pertama, beradaptasi menentukan waktu aktif. Jika perlu berolahraga, bekerja di pekarangan, dan aktivitas luar ruangan lainnya, sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.
Menghindari waktu terpanas di siang hari menjadi cara paling mudah untuk mencegah penyakit panas. Saat berada di luar dan matahari terbit, carilah tempat yang teduh atau berlindung menggunakan payung.
Kedua, miliki kebiasaan hidrasi yang baik. Jangan abaikan rasa haus karena itu adalah sesuatu yang diberitahukan oleh tubuh.
Baca juga: Beraktivitas di Panas Ekstrem Merusak Tubuh, Kenali Cara Mengurangi Risikonya
Ketiga, dengarkan tubuh. Saat Anda perlu berada di luar untuk bekerja atau bermain, tubuh akan memberi isyarat tentang cara tubuh menangani panas. Jika merasa tidak enak badan, merasa kepanasan, atau tidak bisa berusaha lebih keras, tubuh meminta untuk memperlambat, menambahkan istirahat ekstra, atau keluar dari situasi tersebut.
Keempat, buatlah pilihan pakaian yang cerdas. Kenakan pakaian berwarna terang, yang menyerap lebih sedikit panas dibandingkan pakaian berwarna gelap. Kemeja lengan pendek dan celana pendek juga dapat menghindari penumpukan panas atau mengganggu penguapan keringat.
Keempat, perlu diingat bahwa helm dapat menahan panas. Pekerja ojek daring dan konstruksi sering kali harus memakai helm, perlu lebih sering berteduh ketika beraktivitas di saat tengah hari yang terik.
Simak juga: Tidur di Luar Ruang hingga Berendam di Sungai untuk ”Ngadem” dari Gelombang Panas
Kelima, kunci berikutnya adalah tidur malam yang nyenyak. Paparan panas suatu hari dapat memengaruhi risiko keesokan harinya. Jika bisa tidur di ruangan berpendingin dan mendapatkan tidur malam yang nyenyak, hal ini dapat membantu mengurangi risiko penyakit panas.
Penulis:
ADHITYA RAMADHANEditor:
KHAERUDIN