Cucu Saya Pernah Menangis Minta Makan (6)

Makan bergizi gratis menjadi harapan bagi anak-anak sekolah dari keluarga miskin. Makanan gratis yang diterima mereka bisa menghemat pengeluaran keluarga.

06 Jan 2025 07:15 WIB · Investigasi

Oleh Maria Paschalia Judith Justiari, R Albertus Krisna Pratama P., Margaretha Puteri Rosalina

Dari sebuah dapur berukuran 1 × 1 meter, di bawah jalan layang Tomang, Jakarta Barat, Sarmah (62) menceritakan kisah cucunya, Zidan Novianto (12). Tutur Sarmah, Zidan pernah menangis karena lapar. Keluhan menahan lapar ini sebenarnya beberapa kali terjadi, tetapi jarang sekali cucunya sampai menangis.

Ia tidak ingat persis kejadian kapan Zidan menangis. Yang ia ingat, peristiwa itu terjadi selepas waktu shalat Isya sekitar pukul 19.00. ”Pernah habis Isya, Zidan menangis minta makan,” kata Sarmah sambil meneteskan air mata, Jumat (13/12/2024).

Sarmah punya tiga cucu. Selain Zidan ada Nizam R Novianto (9) dan Rasya (17). Cucu-cucunya terbiasa makan dua kali sehari, tanpa makan malam. Terbiasa hanya sarapan dan makan siang.

Dua dari tiga cucunya, yaitu Zidan dan Nizam, mengikuti uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) Agustus 2024 lalu. Keduanya yang bersekolah di SDN Cideng 07, Jakarta, girang bukan main. Saat uji coba, mereka mendapatkan lauk ikan filet tepung, sayur sawi, telur, dan jeruk.

Saat uji coba, Nizam menghabiskan makanannya. Berbeda dengan adiknya, Zidan membawa pulang nasi. Dia tak suka makan nasi. Meskipun demikian, Zidan dan Nizam senang dengan makan bergizi gratis di sekolah.

”Enggak ada susunya,” kata Zidan mengingat menu uji coba MBG. Sementara Nizam merespons singkat, ”Saya abis.”

Infografis Proyeksi Penerima Anak Sekolah Kurang Gizi dan dari Keluarga Miskin

Kontras dengan menu harian

Menu ini jauh berbeda yang makanan yang disantap setiap hari. Sarmah biasa menyiapkan menu makan cucu-cucunya berupa sup, tumis sawi putih, ikan balado, mi telur, serta nasi telur. Di pengujung pekan, dia mengandalkan nasi berkah untuk mengisi perut. Kalau sedang tidak memasak, dia membeli bakso seharga Rp 15.000 untuk bertiga.

Sarmah membelanjakan bahan-bahan masakan dari Kartu Jakarta Pintar (KJP) milik Nizam sebesar Rp 100.000 per bulan. Selebihnya, uang tambahan didapatkan dari anaknya yang nilainya tidak bisa dipastikan. ”Yang penting punya telur dan minyak, nanti anak-anak goreng sendiri,” katanya.

Adapun bahan pangan yang sering dia beli meliputi beras, minyak goreng, telur, dan ayam. Kalau ada rezeki lebih, dia membeli 10-15 bungkus mi instan demi Zidan yang tak suka makan nasi.

Sarmah (62) bersama dua cucunya Zidan (12) dan Nizam (9) di bawah Jembatan Layang Tomang, Jakarta Barat ketika diwawancarai Kompas pada Jumat, 13 Desember 2024.

Sehari-hari, Sarmah dan cucu-cucunya bergantung dari kiriman uang anaknya. KJP milik Nizam menjadi tumpuan. Untuk memperoleh sembako dari KJP, dia mengantre dari pukul 06.00 dan selesai sekitar pukul 13.00. Pulangnya, dia bisa menenteng beras, telur ayam, daging ayam, ikan. Bahkan, masih ditambah susu sekardus isi 24 kotak.

Ia pernah bekerja membersihkan rumah di dua tempat selama sebulan pada Lebaran 2023 dan secara total menghasilkan Rp 1,3 juta. Sebanyak Rp 1 juta dia gunakan untuk membeli kulkas bekas agar bisa menyimpan daging ayam dan ikan. Sekarang, dia tak bekerja.

Quote

Pernah habis Isya, Zidan menangis minta makan.

Sarmah dan tiga cucunya tinggal bersama. Mereka berempat menghuni tiga kavling petak berdinding tripleks yang terbagi sebagai ruang tidur dan penyimpanan barang. Lapak yang menjadi dapur berada di sisi gang.

Saat uji coba MBG, uang jajan Zidan dan Nizam sebesar Rp 5.000 masih utuh. Artinya, mereka bisa menghemat untuk keperluan lain.

Kepala Sekolah SDN 07 Cideng Jakarta Pusat Masna Saragih ketika ditemui Kompas pada Jumat, 13 Desember 2024.

Sementara Masna Saragih, Kepala SD Negeri Cideng 07, Jakarta, tempat Zidan dan Nizam bersekolah, berharap program MBG bisa menjadi solusi pemenuhan gizi murid-muridnya yang selama ini berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.

”Yang pasti membantu masalah kecukupan gizi anak karena memang ada orangtua yang kurang memperhatikan anaknya karena kesibukan atau karena ekonomi,” katanya pada pertengahan Desember lalu.

Tinggal Rp 80.000

Program MBG juga dianggap sebagai anugerah bagi Murjiah (54), ibu dari Mutiara (11), siswi SDN Pakansari 01, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Uji coba di SD itu berlangsung pada 31 Oktober hingga 4 November 2024.

Sehari-hari Murjiah bekerja membantu membereskan rumah. ”Sekarang yang penting bisa bertahan. Kemarin, uang (yang saya punya) tinggal Rp 80.000. Saya langsung pakai untuk membeli beras dan telur,” katanya di SDN Pakansari 01, Rabu (18/12/2024).

Quote

Saya senang (selama uji coba) karena bisa menabung uang jajan Rp 10.000 per hari.

Sejak suaminya wafat, Murjiah menjadi tulang punggung keluarga. Dia tinggal bertiga dengan putra-putrinya di rumah yang membutuhkan perbaikan genteng dan kamar tidur, yang keduanya bocor saat hujan. Apabila sempat, dia menjemput putri bungsunya seusai sekolah. Namun, jika belum selesai bekerja, Mutiara berjalan kaki.

Setiap pagi putra sulung Murjiah mengantar adiknya ke sekolah. Dia bercerita, putranya sebenarnya sudah mulai bekerja di instansi pemerintah daerah, ttapi gajinya baru dicairkan secara rapel pada Februari 2025.

Terkadang, Murjiah memberikan minuman kental manis bagi Mutiara sebagai pengganti susu. ”Saya pernah minta maaf (kepada anak), ’Dik, maaf karena belum bisa ngasih yang enak, yang penting bisa makan kenyang’,” tuturnya.

Infografik Warga Miskin yang Layak Menerima Program Makan Bergizi Gratis 2025 *** Local Caption *** Infografik Jurnalisme Data Makan Bergizi Gratis

Dia juga senang dengan program makan bergizi gratis karena memberikan kesempatan bagi Mutiara untuk mengenal beragam makanan. Harapannya, putri kecilnya itu tidak memilih-milih makanan.

Selama uji coba, Mutiara bercerita, dia mendapatkan nasi, sayur kacang panjang, capcay, ayam, tahu, tempe, dan susu. Dia selalu menghabiskan makanan yang disajikan. Namun, saat mendapatkan pisang, dia memberikannya kepada temannya.

”Saya senang (selama uji coba) karena bisa menabung uang jajan Rp 10.000 per hari,” kata Mutiara.

Meski hidup dalam keterbatasan, Mutiara tetap bisa meraih prestasi. Dia meraih peringkat pertama di kelas pada semester lalu. Ruang tamu menjadi saksi bisu dia duduk lesehan tanpa meja demi belajar secara mandiri.

Mengurangi uang jajan

Pengeluaran uang jajan yang berkurang juga disyukuri Sofiatun (58), warga Slipi, Jakarta, saat cucunya mendapatkan makan bergizi gratis di sekolah. Sang cucu yang duduk di bangku SD pernah membawa pulang susu untuk diberikan kepada adiknya, dan jeruk. ”Biasanya saya beli nasi uduk dengan tempe orek seharga Rp 7.000 untuk bekal Nando (cucunya). Alhamdulillah (waktu itu) tidak keluar uang,” ujar Sofiatun.

Sofiatun tinggal bertujuh serumah, termasuk dengan Nando. Dia dan suami sedang tidak bekerja. Sayur sup, sayur asam, tahu, tempe, dan telur menjadi pilihan makanan sehari-hari rumahnya. Jarang dia membeli daging ayam.

Sofiatun (58, warga Slipi, Jakarta Pusat merasa senang cucunya menerima makanan uji coba dalam program makan bergizi gratis, Rabu, 18/12/2024. Uang jajan yang diberikan Sofiatun untuk cucunya akan berkurang karena selama ini, dia membawakan bekal nasi uduk dengan tempe orek seharga Rp 7.000, setiap hari.

Nizam, Zidan, Mutiara, dan Nando menjadi bagian dari anak sekolah dari keluarga miskin. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menemukan, sebanyak 5,47 juta anak sekolah dari kelompok warga miskin berstatus kurang gizi. Angka itu diperoleh dari pengolahan data mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik.

Begitu berjalan keluar dari area hunian Sarmah, Nizam, dan, Zidan, berderet rumah-rumah bertingkat, berpagar, dan berdinding batu bata yang dicat. Mungkin, anak-anak keluarga yang tinggal di rumah itu tak merasakan betapa mewahnya makan siang gratis bagi mereka.

===============================

Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam Whatsapp Group Pembaca Kompas, ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan ini.

Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei berikut ini :


Kerabat Kerja

Penulis:

Maria Paschalia Judith Justiari, R Albertus Krisna Pratama P., Margaretha Puteri Rosalina
 | 

Editor:

Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .