Banjir yang terjadi di Kota Semarang, Jateng, mengganggu aktivitas dan perekonomian masyarakat terganggu. Mereka berharap banjir segera surut.
29 Okt 2025 07:00 WIB · Lingkungan
Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Sepekan terakhir, sejumlah titik di Kota Semarang, Jawa Tengah, terendam banjir. Bencana itu menghambat aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan perekonomian. Bahkan, ada sekeluarga korban banjir yang harus bertahan hidup dengan mengandalkan dua nasi bungkus bantuan dari pemerintah untuk dimakan berlima.
Mulanya banjir melanda Kota Semarang pada Selasa (21/10/2025) malam setelah hujan deras turun di wilayah tersebut selama beberapa jam. Bencana tersebut mengakibatkan ribuan rumah di Kecamatan Gayamsari, Genuk, dan Pendurungan terendam, termasuk rumah Muhammad Sodirin (52) dan Roisah (49) di Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari.
Setelah selama berhari-hari rumahnya terendam air setinggi 50 sentimeter, pada Senin (27/10/2025) petang, banjir sempat surut menjadi sekitar 30 cm. Sayangnya, kondisi itu tak berlangsung lama. Pada Selasa (28/10/2025) pagi, hujan deras kembali turun. Ketinggian air di dalam rumahnya kembali naik, bahkan lebih parah dari sebelumnya, sekitar 80 cm.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/28/d08d3fc9-6294-46e1-88fb-17b7641e00ff_jpg.jpg)
Genangan yang berada di dalam rumah ataupun di jalan masuk ke kampungnya membuat Sodirin dan Roisah tak bisa mengais rezeki. Roisah yang sehari-hari berjualan nasi keliling kampung harus libur berjualan karena bencana itu.
”Karena jalanan-jalanan terendam, jadi tidak bisa jualan keliling. Mau kulakan ke pasar juga sulit karena aksesnya terhambat, harga bahan baku juga pada naik,” kata Roisah saat ditemui, Selasa.
Kondisi banjir juga membuat suami Roisah, Sodirin, yang bekerja sebagai buruh bangunan sepi panggilan. Karena itu, selama lebih kurang sepekan, hampir tak ada pemasukan untuk pasangan suami-istri tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/28/10721a26-a98a-4c14-a82d-cb89534da164_jpg.jpg)
Karena tidak ada pemasukan, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Keduanya pun terpaksa bergantung pada bantuan nasi bungkus dari pemerintah.
”Kami makan ya seadanya, pakai nasi bungkus bantuan dari pemerintah. Satu keluarga lima orang dikasih dua bungkus. Dua bungkus itu dimakan berlima, lha bagaimana, bantuannya cuma itu thok,” ujar Roisah.
Selama beberapa hari terakhir, Roisah dan keluarganya bertahan di rumah mereka meski air masih menggenang. Namun, pada Selasa malam, mereka berencana mengungsi ke masjid terdekat. Pada Selasa petang, Roisah dan Sodirin kerja bakti menaikkan perabotan rumahnya ke tempat yang tinggi supaya lebih tenang saat meninggalkan rumah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/28/9434824d-8f0a-47bb-94c6-6ce0abf1953c_jpg.jpg)
Sodirin mengaku, dirinya sudah lelah dengan bencana banjir yang setiap tahun selalu melanda lingkungannya, terutama saat musim hujan. Ia berharap pemerintah bisa segera bertindak supaya warga tidak menderita karena bencana tersebut. ”Sudah tahu setiap tahun seperti ini, kok tidak ada reaksinya gitu lho,” ucapnya.
Tak hanya warga asli Semarang, banjir juga membuat aktivitas para perantau yang tinggal di Kota Semarang terhambat. Sudah sepekan, Arini Putri Nurjana (22), Siti Khoiruniza (20), dan Dina Amalia (18), mahasiswa yang tinggal di sebuah indekos di Kelurahan Tambakrejo, harus tidur di atas dipan yang terendam air.
”Saya sudah tujuh semester tinggal di Semarang, setiap tahun pasti terdampak banjir. Tapi, banjir kali ini menurut saya paling parah karena air sampai masuk ke dalam kamar. Tinggi air kira-kira 10 cm. Biasanya cuma di depan kamar saja airnya,” tutur Arini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/28/9df7a83f-bfda-4751-a812-d99560368e84_jpg.jpg)
Sepekan terakhir, mereka bertiga juga tidak bisa berkuliah di kampus karena akses menuju kampus terendam banjir. Perkuliahan di kampus mereka digelar secara daring sejak pekan lalu hingga waktu yang belum bisa ditentukan.
Akibat banjir, ketiganya juga kesulitan mencari warung makan yang buka. Setiap kali ingin makan, mereka harus berjalan kaki menerjang banjir lebih kurang 1 kilometer.
Sebenarnya, ketiganya ingin pulang ke rumah mereka masing-masing. Namun, hal itu urung mereka lakukan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/27/e38f75c0-10a1-499d-a5b9-edf4822b071a_jpg.jpg)
”Orangtua tahu kalau di sini saya terjebak banjir. Saya juga sudah disuruh pulang, tapi kan jalannya banjir, tidak bisa dilalui kendaraan,” ucap Khoiruniza yang berasal dari Kabupaten Pemalang.
Ketiganya berharap banjir bisa segera surut dan mereka bisa kembali beraktivitas di rumah indekos ataupun berkuliah di kampus dengan nyaman.
Banjir yang terjadi juga berdampak kepada para pelintas yang sehari melalui jalur pantura Semarang. Tinggi genangan di wilayah pantura Kaligawe Semarang yang mencapai 90 cm membuat sejumlah kendaraan para pelintas mogok. Kusnadi (70), sopir kendaraan angkutan barang yang hendak mengantar barang dari Kecamatan Krapyak, Semarang Barat, menuju Kecamatan Genuk, salah satunya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/28/da51adf336e1587cbf153ae712486fc7-IMG_6536.JPG)
Setelah memasrahkan kendaraannya kepada pihak bengkel, Kusnadi berjalan kaki berkilo-kilometer menuju ruas jalan yang tak terendam banjir pada Selasa petang. Ia bakal kembali ke tempatnya bekerja dengan dijemput oleh temannya.
Kusnadi juga menyesalkan banjir yang hampir setiap tahun melanda jalan pantura Semarang. Bukannya semakin baik, kondisi banjir di wilayah itu, disebut Kusnadi, semakin parah setiap tahun.
”Pemerintah harus bisa mengatasi banjir-banjir semacam ini karena ini, kan, tahunan, ya. Sebenarnya kalau pemerintah mau mengerjakan mudah lho. Modal ada, uang ada, tinggal dikerjakan,” ujar Kusnadi.
Pemerintah Kota Semarang menyebut upaya penanganan banjir terus dilakukan. Hal itu dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh infrastruktur, termasuk rumah pompa. Pompa-pompa portabel juga dikerahkan untuk menyedot genangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/28/1ffb1d72-111e-421b-9711-c96e76a3ad84_jpg.jpg)
Unit Pelaksana Teknis Daerah Pompa Wilayah Timur memiliki 44 pompa dengan kapasitas sekitar 14.196 liter per detik yang mencakup delapan lokasi. Pompa-pompa kunci di wilayah rawan genangan telah beroperasi penuh. Pompa di Trimulyo, Genuk, terpantau aktif dan siap siaga memompa air hujan keluar dari kawasan yang rawan genangan.
”Demikian pula pompa di Jalan Majapahit dilaporkan aktif dan beroperasi optimal untuk mengendalikan debit air di area tersebut,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang Suwarto.
Menurut Suwarto, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. ”Laporan menunjukkan debit Sungai Babon terpantau tinggi. Oleh karena itu, kesiapan pompa dan peran aktif warga dalam menjaga kebersihan saluran air menjadi kunci utama. Kami pastikan tim teknis di lapangan terus siaga 24 jam memantau dan mengoperasikan seluruh pompa,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang Endro Pudyo Martantono mengatakan, tak hanya mengurangi genangan, pemerintah juga berupaya menyalurkan bantuan logistik untuk dapur-dapur rumah warga. Di samping itu, pemerintah juga mendirikan dapur umum di BPBD.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/24/918cf6ee-0e8b-4798-9887-f42b73c1ba70_jpg.jpg)
”Dapur-dapur umum yang didirikan kelurahan-kelurahan juga tetap mendapat suplai logistik dari Posko Kebencanaan Kota Semarang. Jadi (kebutuhannya) tetap selalu dipenuhi,” ucap Endro.
Dapur-dapur umum tersebut menyuplai makanan berupa nasi bungkus untuk memenuhi kebutuhan makanan para korban bencana banjir. Selain itu, bantuan tersebut juga untuk meringankan beban para korban banjir yang aktivitas perekonomiannya terganggu.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar