Masyarakat diminta waspada meski Gunung Semeru sudah tidak meluncurkan awan panas pada Kamis (20/11/2025) pagi. Pemkab Lumajang menetapkan status tanggap darurat.
20 Nov 2025 09:17 WIB · Lingkungan
Kompas/Bahana Patria Gupta
MALANG, KOMPAS — Usai erupsi pada Rabu (19/11/2025) sore, Gunung Semeru tidak lagi meluncurkan awan panas guguran pada Kamis pagi. Meski demikian, jembatan Gladak Perak yang menghubungkan Malang dan Lumajang masih belum boleh dilalui. Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat.
Seusai erupsi Semeru pada Rabu sore, kondisi jalur selatan antara Malang dan Lumajang belum normal. Jembatan Gladak Perak secara umum masih ditutup untuk perbaikan.
”Untuk Desa Pronojiwo, kondisinya aman terkendali. Hanya saja, jembatan Gladak Perak memang untuk hari ini (Kamis) secara resmi masih tertutup, sebab masih butuh pembersihan jalur,” kata Kepala Desa Pronojiwo, Murdiono, Kamis (20/11/2025).
Namun, Murdiono mengakui bahwa banyak warga nekat melintasinya. Padahal, kondisi jembatan licin akibat adanya longsor dan guguran material erupsi Gunung Semeru bercampur dengan air hujan. Jalur tersebut masih butuh untuk dibersihkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/4520d5bd1f5758a74d0f9d9f2b8eed72-WhatsApp_Image_2025_11_20_at_6.36.03_AM.jpeg)
Sementara sebagian pengungsi kembali ke rumahnya untuk menyelamatkan barang-barang berharga mereka. Muhammad Kholil (50), misalnya, akhirnya bisa kembali ke rumahnya di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, setelah semalam mengungsi akibat erupsi Gunung Semeru.
Rumahnya sebagian besar hancur. Dirinya kembali untuk mengevakuasi burung peliharaan. ”Erupsi mulai Rabu pukul 09.00 WIB. Saya dan keluarga sudah mengantisipasi. Apalagi, saat sirene bahaya erupsi terdengar pada pukul 15.30 WIB, keluarga langsung mengungsi. Saya sendiri mengungsi saat menjelang maghrib,” kata Muhammad Kholil.
Di Dusun Sumbersari, tidak sedikit warga yang kembali ke rumah untuk mengevakuasi barang-barang yang bisa diselamatkan. Sejak pukul 05.00 WIB, warga yang sebelumnya mengungsi kembali ke rumah dengan berjalan kaki karena jalan menuju rumah terputus material vulkanik.
Pada pemantauan Kamis pagi pukul 00.00-06.00 WIB, Gunung Semeru masih meletus sebanyak 25 kali letusan, 32 gempa guguran, 1 kali embusan, dan 1 kali gempa tektonik jauh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/999dbe660ff7d461c02e3b95af7a308a-WhatsApp_Image_2025_11_20_at_6.36.02_AM.jpeg)
”Status Semeru tetap Awas. Masyarakat diimbau mematuhi rekomendasi PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), yaitu tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 20 kilometer dari puncak (pusat erupsi),” kata Kepala PVMBG Hadi Wijaya.
Di luar jarak tersebut, kata Hadi, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Sebab, area tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar.
Masyarakat, menurut Hadi, juga diminta tidak beraktivitas di dalam radius 8 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru. Sebab, area tersebut rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
”Tetap harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/20f02ff65aaf72956592316fe9f79259-000_84HM7LY.jpg)
Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, erupsi pada Rabu (19/11/2025) pukul 16.00 WIB. Tinggi kolom letusan teramati lebih kurang 2.000 meter di atas puncak (± 5.676 meter di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Status Gunung Semeru dinaikkan dari Level II (Waspada) ke Level IV (Awas).
Abu vulkanik erupsi Semeru bahkan menjangkau jembatan Gladak Perak, jembatan utama penghubung Malang-Lumajang. Lokasi jembatan ini sejauh 13 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut bahwa terdapat tiga desa di dua kecamatan yang terdampak erupsi tersebut, yaitu Desa Supit Urang dan Desa Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo dan Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro.
Data sementara menunjukkan, 300 warga mengungsi. Pos pengungsian tersebut tersebar di beberapa tempat, di antaranya Balai Desa Oro-oro Ombo sekitar 200 jiwa dan SD 2 Supiturang 100 jiwa. Selain itu, terdapat pula sejumlah warga yang dievakuasi menuju Balai Desa Penanggal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/12/05/KRB-Semeru_1638701634.png)
”Pemkab Lumajang menetapkan status tanggap darurat selama seminggu ke depan, terhitung mulai 19 November 2025 hingga 26 November 2025. Artinya, segala hal terkait kebutuhan penanganan dampak Semeru mulai dilakukan, baik mengenai dapur umum maupun posko pengungsian,” kata Bupati Lumajang Indah Amperawati saat dihubungi pada Kamis.
Menurut Indah, mulai Rabu malam Gunung Semeru sudah berhenti mengeluarkan awan panas guguran. ”Awan panas guguran sudah berhenti sejak semalam, tetapi masyarakat tetap harus waspada. Kami akan fokus penanganan pengungsi dan kebutuhan warga serta mulai mendata kerusakan infrastruktur. Sebab, kondisi semalam gelap sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pendataan. Mohon doanya, semoga warga Lumajang bisa segera melalui bencana ini dengan baik,” katanya.
Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa. Tingginya mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Tidak saja mampu memuntahkan material vulkanik dari atas (puncak), Semeru juga mampu mengeluarkan material vulkanik dari samping (celah) sebagaimana pernah terjadi pada tahun 1941. Potensi terjadinya letusan samping itu masih terus ada hingga sekarang.
Sekitar Gunung Semeru terbagi dalam tiga kawasan rawan bencana (KRB). KRB III adalah kawasan berpotensi besar terlanda awan panas, lava, lontaran lava pijar, dan gas beracun. Areanya berada di sekitar puncak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/11/dabe23d0-42ec-4355-b440-e1926bacebae.jpg)
Berikutnya adalah KRB II, yaitu daerah yang berpotensi terkena aliran lava, hujan abu, lumpur panas, dan lontaran batu pijar. Lumpur panas berpotensi terjadi di Kali Manjing, Kali Gligik, Sumbersari, Besuk Sat, dan Besuk Kobokan.
Adapun KRB I adalah kawasan berpotensi terlanda lahar, tertimpa material jatuhan berupa hujan abu. Kawasan ini dibagi dua, yaitu kawasan rawan lahar dan kawasan rawan hujan abu. Kawasan rawan lahar terletak di sepanjang lembah dan bantaran sungai yang berhulu di daerah puncak, yaitu Kali Manjing, Kali Gligik, Besuk Sat, Besuk Kembar, Besuk Kobokan, dan Kali Pancing.
Penulis:
Dahlia Irawati, Bahana Patria GuptaEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto