Konflik di Timur Tengah dapat berdampak pada industri manufaktur di dalam negeri yang menjadikan minyak dan gas sebagai bahan baku.
12 Okt 2023 15:04 WIB · Ekonomi
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/10/24/c70790ec-4459-4b9b-b145-ade34b232734_jpg.jpg)
JAKARTA, KOMPAS – Para pelaku usaha mulai mengalkulasi dampak dari meletusnya konflik antara Hamas dan Israel di Timur Tengah terhadap aktivitas industri. Konflik tersebut diprediksi akan berdampak pada krisis energi di Tanah Air yang berujung pada terganggunya produksi manufaktur.
Ketua Bidang Industri dan Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar mengatakan, konflik yang terjadi di Timur Tengah dapat dipastikan memicu kenaikan harga energi, khususnya minyak dan gas bumi.
Pasalnya, meski Israel dan Palestina bukan produsen minyak, konflik ini terjadi di tengah kawasan penghasil minyak dan gas di Timur Tengah yang menyumbang hampir sepertiga pasokan minyak dunia.
”Persediaan energi di dalam negeri terbatas sehingga sebagian besar kebutuhan bahan baku energi, seperti minyak bumi dan gas, untuk keperluan industri masih dipenuhi melalui impor,” ujar Bobby saat dihubungi, Kamis (10/12/2023).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/02/20/c80ac150-2bc5-4e1e-8f4d-e6d6b8eeb440_jpg.jpg)
Dia mencontohkan, Indonesia hanya memproduksi sekitar 600.000 barel minyak bumi per hari, sedangkan kebutuhan minyak bumi dalam negeri sudah di atas 1,5 juta barel per hari. Sama halnya dengan minyak bumi, kapasitas produksi gas bumi dalam negeri juga belum mampu menutupi kebutuhan nasional.
”Jika pasokan minyak dan gas terganggu, imbasnya harga keduanya akan naik. Kondisi ini akan mengganggu aktivitas produksi dan pertumbuhan industri dalam negeri,” kata Bobby.
Baca juga : Perang Hamas-Israel Ancam Pasokan Minyak, Harga Minyak Terus Merangkak
Sebelumnya, dalam konferensi pers bertajuk ”Pandangan Dunia Usaha di Masa Transisi Kepemimpinan Negara 2024” di Jakarta, Rabu (11/10/2023), Bobby menuturkan, harga gas di luar negeri saat ini lebih murah dibandingkan produksi domestik. Oleh karena itu, ia berpendapat, konflik di Timur Tengah dapat berdampak pada industri yang menjadikan gas sebagai bahan baku.
Salah satu sektor industri yang mengandalkan gas sebagai bahan baku adalah industri keramik. Industri ini menggunakan gas untuk pembakaran bahan mentah dalam proses awal produksi keramik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/03/14/d15014f3-89ba-4095-a78f-cb87ae4c6de8_jpg.jpg)
Bobby menyayangkan adanya ancaman kenaikan harga gas bumi impor akan mengganggu pertumbuhan industri keramik. Selama ini industri keramik termasuk dalam tujuh sektor manufaktur penerima fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Adapun sejak Juni lalu, pemerintah telah menaikkan HGBT dari 6 dollar AS per juta metrik british termal unit (MMBTU) menjadi 7 dollar AS per MMBTU.
”Kalau harga gas naik lagi, industri keramik bisa goyah. Padahal, dalam tiga tahun terakhir industri keramik tercatat punya daya tahan yang kuat ketika menghadapi kondisi pandemi Covid-19,” kata Bobby.
Jika konflik ini melibatkan Iran yang dituduh terlibat dalam serangan Hamas, 3 persen pasokan minyak global akan terancam. ( Saul Kavonic)
Selain industri keramik, enam industri lainnya yang juga menerima HGBT, sebagaimana tertera dalam Perpres No 121/2020, ialah industri pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, kaca, dan sarung tangan karet.
Di sisi lain, Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani menilai konflik yang terjadi di Timur Tengah ini juga berpotensi menciptakan inflasi untuk sejumlah harga komoditas global. Kenaikan harga barang juga akan turut menekan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sehingga kontrol pemangku kebijakan moneter menjadi sangat penting.
Baca juga : Ekonomi Dunia Dirundung Cemas Imbas Konflik Hamas-Israel
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/01/c9bd0f32-ef1d-4142-8bdf-197b69eed1af_jpg.jpg)
”Jika konflik terjadi berkepanjangan, imbasnya juga akan menaikkan harga beberapa komoditas global. Ini akan berdampak ke situ, dan ini juga sudah kelihatan, sudah mulai terasa,” kata Shinta.
Saul Kavonic, analis energi dan Kepala Penelitian Energi, Sumber Daya, dan Karbon Terpadu pada Credit Suisse, kepada BBC News, mengatakan, harga minyak dan gas global meningkat karena adanya kekhawatiran konflik ini akan menyebar ke negara-negara produsen terdekat, seperti Iran dan Arab Saudi.
”Jika konflik ini melibatkan Iran yang dituduh terlibat dalam serangan Hamas, 3 persen pasokan minyak global akan terancam,” ujar Kavonic.
Kavonic juga memperkirakan, seperlima pasokan minyak dunia akan tersendat jika jalur melalui Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak yang penting, terganggu. Selat Hormuz sangat penting bagi negara-negara pengekspor minyak utama di kawasan Teluk karena perekonomian mereka dibangun dengan berbasis produksi minyak dan gas.
Penulis:
DIMAS WARADITYA NUGRAHAEditor:
AUFRIDA WISMI WARASTRI