Dampak Makan Bergizi Gratis pada ”Stunting” Baru Terlihat 6 Bulan ke Depan

Para kader posyandu akan memantau perkembangan anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang menerima menu makan bergizi gratis.

20 Jan 2025 15:38 WIB · Humaniora

Oleh Stephanus Aranditio

BOGOR, KOMPAS — Manfaat dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis dalam upaya mengatasi tengkes atau stunting di Indonesia diperkirakan baru akan terlihat dalam waktu enam bulan ke depan. Para kader posyandu akan memantau perkembangan anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang menerima menu makan bergizi gratis.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji mengatakan, capaian program Makan Bergizi Gratis (MBG) baru bisa terlihat dalam jangka menengah dan jangka panjang. MBG ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah faktor penyebab stunting.

Sebab, stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi saja. Ada juga faktor lain, seperti lingkungan tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan, infeksi berulang, dan kondisi sosial ekonomi.

Dalam program MBG ini, Wihaji menginstruksikan semua kader posyandu untuk menyisipkan edukasi kesehatan dan keluarga berencana saat mengantarkan menu MBG ke anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Selain itu, para penerima juga akan diukur perkembangan kesehatannya.

”Nanti kita pasti memonitor, kita evaluasi pelan-pelan, sabar, step by step, nanti akan indah pada waktunya. Saya meyakini, jadi untuk memastikannya kita akan ketemu lagi, mungkin 3 bulan, paling lambat 6 bulan ke depan,” kata Wihaji saat meninjau pembagian MBG di Posyandu Kenari di Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (20/1/2025).

Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting telah menetapkan target prevalensi tengkes 14 persen pada akhir 2024 yang kini target telah direvisi menjadi 18 persen.

Dalam pembagian di Posyandu Kenari kali ini, sebanyak 89 ibu menyusui, 14 ibu hamil, dan 231 anak balita mendapatkan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau Dapur MBG di Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat.

Quote

Sangat membantu, semoga bisa setiap hari nanti.

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana memastikan, setiap menu MBG untuk sasaran anak balita, ibu menyusui, dan ibu hamil telah memenuhi standar gizi, yakni kandungan karbohidrat untuk ibu hamil dan ibu menyusui sedikitnya 200 gram per porsi makanan. Sementara iyu, untuk anak balita kandungan karbohidratnya cukup 100-120 gram.

Dadan menyebut, distribusi MBG untuk anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui nantinya bisa dilakukan di posyandu atau diantar langsung ke rumah jika tidak ada kegiatan di posyandu. Pengelola SPPG akan berkoordinasi dengan kader posyandu dalam penyalurannya.

”Karena terus terang, untuk ibu hamil kami tidak membuat infrastruktur baru, kami memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, yaitu ada posyandu, bidan desa, atau puskesmas,” kata Dadan.

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Wihaji diwawancarai wartawan setelah meninjau pembagian program makan bergizi gratis (MBG) di Posyandu Kenari di Kelurahan Kedungbadak, Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (20/1/2025).

Sri Dayaningsih, salah satu nenek yang mengantarkan cucunya yang masih balita untuk mengambil MBG di Posyandu Kenari, menilai program MBG ini sangat bermanfaat bagi perekonomian keluarga mereka karena bisa menghemat biaya makan anak. Selain itu, makanan yang diberikan juga dipastikan bergizi.

Namun, dia berharap pemerintah bisa memastikan MBG untuk anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui mendapatkan MBG setiap hari. Sebab, dia terakhir mendapatkan MBG pada Jumat atau tiga hari yang lalu.

”Sangat membantu, semoga bisa setiap hari nanti. Biasanya cucu cuma sarapan nasi telur dadar, sekarang bisa makan lengkap ada nasi, sayur, tahu, ayam, buah, kadang juga dapat susu,” kata Sri.

Para petugas menyiapkan menu makan bergizi gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau Dapur MBG di Kelurahan Kedungbadak, Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (20/1/2025).

Perhatikan asupan nutrisi

Dihubungi secara terpisah, dokter spesialis kandungan dan kebidanan dari Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, Muhammad Fadli mengatakan, meski sudah mendapatkan MBG dari pemerintah, ibu hamil dan menyusui tetap harus memperhatikan asupan protein demi kesehatan bayinya.  

Kebutuhan asupan nutrisi lain yang bisa didapatkan dari susu sapi yang sudah dipasteurisasi atau susu UHT yang disediakan. Susu sapi dapat memberi nutrisi pada janin dan mencegah bayi lahir kecil.

Namun, dokter lulusan Universitas Indonesia itu menegaskan, jumlah gula yang terkandung di dalam susu itu harus diperhatikan. Sebab, ibu hamil memiliki batas konsumsi makanan dan minuman dengan indeks glikemik tidak lebih dari 30 gram per hari.

”Jangan hanya bergantung pada makanan yang diberikan oleh pemerintah saja. Ini adalah bonus atau fasilitas tambahan yang diberikan pemerintah untuk melengkapi atau menambahkan requirement kebutuhan seharian ibu hamil,” kata Fadli. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Ichwan Susanto