TEKANAN EKONOMI

Dampak Pelemahan Rupiah di Meja Makan Keluarga

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bukan sekadar angka. Dampaknya terasa sampai ke meja makan warga yang tengah berjuang menghadapi tekanan ekonomi.

22 Mei 2026 08:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Bahana Patria Gupta

Oleh Vina Oktavia

Pelemahan rupiah terhadap dollar AS sering dianggap sebagai masalah ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, bagi banyak rumah tangga di Indonesia, dampak lesunya nilai tukar rupiah itu sampai ke meja makan keluarga.

Septiana (36), seorang ibu tiga anak di Kota Bandar Lampung, tersenyum getir saat membaca pesan Whatsapp dari penjual ayam ungkep langganannya. ”Mulai hari ini, harga paket ayam goreng ungkep naik dari Rp 50.000 menjadi Rp 55.000 ya, Bu,” begitu isi pesan yang diterimanya.

Bagi sebagian orang, kenaikan harga itu mungkin tergolong kecil, hanya Rp 5.000. Namun, bagi Septiana, perubahan harga semacam ini sangat berdampak. Apalagi, kenaikan harga sering terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Tak hanya ayam goreng, berbagai kebutuhan pokok rumah tangga, mulai dari minyak goreng, telur, beras, daging, hingga elpiji nonsubsidi, ikut naik. Bahkan, tempe dan tahu yang menjadi lauk paling terjangkau kini ukurannya semakin tipis.  

Bagi keluarga Septiana, dampak melemahnya nilai tukar rupiah terlihat dari daftar belanja makanan yang semakin berkurang. Setiap hari, ia harus menyiapkan setidaknya Rp 100.000 untuk belanja berbagai kebutuhan rumah tangga.

”Dulu uang Rp 50.000 itu cukup untuk kebutuhan keluarga setiap hari. Kalau sekarang tidak cukup karena harga kebutuhan rumah tangga semuanya naik,” kata Septiana saat diwawancarai di Bandar Lampung, Kamis (21/5/2026).

Petugas menyiapkan telur saat pasar murah dalam rangka  peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa 2026 di pergudangan Bulog Divre Jatim, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (13/5/2026). Bank Indonesia meluncurkan GPIPS Wilayah Jawa 2026 di Jawa Timur melalui penguatan pasokan, distribusi, dan sinergi pusat-daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan petani di tengah tantangan perubahan iklim serta fluktuasi pangan.

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Untuk menyiasati tingginya biaya hidup, Septiana memilih memasak sendiri di rumah. Oleh karena itu, ia memilih berlangganan ayam ungkep agar lebih praktis menyiapkan makanan untuk keluarga.

Saat harga ayam ungkep ikut naik, Septiana harus memutar otak agar pengeluaran bulanan keluarganya tidak jebol. Salah satunya dengan mengatur jenis lauk-pauk keluarga agar tetap sesuai bujet.

”Kalau lagi bokek di akhir bulan seperti ini, kita pilih lauk telur, tempe, atau tahu. Sekarang pun ukuran tempe dan tahu jadi semakin tipis,” ucapnya sambil tertawa getir.   

Tak hanya itu, keluarganya juga harus mengurangi jatah makan di rumah makan. Sebelumnya, dia biasa mengajak anak-anaknya makan di rumah makan setiap akhir pekan. ”Kalau sekarang lihat sisa saldo dulu di rekening, kira-kira masih cukup enggak sampai akhir bulan,” ujarnya lagi.

Aktivitas pedagang saat memilah udang sesuai ukurannya sebelum dijual di Pasar Ikan Rejomulyo, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/5/2026). Selain musim tangkap yang sepi, kenaikan harga sejumlah komoditas ikan juga dipicu mahalnya BBM nonsubsidi untuk nelayan. Saat ini komoditas ikan juga penyumbang inflasi selain emas, daging ayam, beras, dan tarif angkutan udara.

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
04-05-2026
 *** Local Caption ***

Hal serupa juga diutarakan oleh Sundari (36), ibu tunggal yang harus menafkahi dua anaknya. Sejak bercerai dengan sang suami lima tahun lalu, ibu pekerja dengan gaji setara upah minimum regional (UMR) itu harus pintar-pintar mengatur uang agar cukup untuk biaya hidup satu bulan.

Perempuan lulusan SMA itu tidak begitu paham istilah pelemahan rupiah atau bagaimana nilai tukar mata uang memengaruhi perekonomian suatu negara. Dia juga tidak mengikuti pergerakan dollar AS di layar televisi atau berita pasar keuangan.

Namun, Sundari merasa dampaknya secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari. Harga kebutuhan dapur yang terus naik membuatnya harus lebih berhemat dan menahan diri untuk membeli barang-barang kebutuhan pribadi, seperti tas, sepatu, dan sekadar daster baru.

”Jangankan mau menabung atau membeli barang baru, gaji bisa cukup untuk kebutuhan makan, bayar listrik, beli bensin, dan kebutuhan sekolah anak-anak saja sudah alhamdullah,” ucap Sundari.

Juru masak sedang membuat rendang di dapur Siti Nurbaya Food, Kelurahan Olo, Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (2/7/2020) pagi. Meskipun normal baru telah dimulai dan objek wisata sudah dibuka, pesanan pelanggan dari usaha industri rumahan rendang dan katering ini belum kembali pulih.

Pelaku usaha

Tak hanya rumah tangga, dampak pelemahan rupiah juga dirasakan oleh Puspa (33), seorang pengusaha katering makanan di Bandar Lampung. Kenaikan harga berbagai bahan pokok membuat belanja modal membengkak.

Kenaikan harga paling tinggi dirasakan pada harga ayam yang mencapai Rp 35.000–Rp 38.000 per kilogram. Selain itu, harga minyak goreng kemasan naik menjadi Rp 230.000 per karton. Harga berbagai jenis sayuran, seperti buncis dan selada, juga naik.

Quote

Dulu uang Rp 50.000 itu cukup untuk kebutuhan keluarga setiap hari. Kalau sekarang tidak cukup karena harga kebutuhan rumah tangga semuanya naik.

Masalahnya, Puspa tidak bisa dengan mudah menaikkan harga karena bisa kehilangan langganan. Apalagi, dia merasa daya beli rumah tangga saat ini tidak sebaik tahun-tahun lalu. ”Sebagian menu memang harus upgrade harga dan ada beberapa menu harus yang dikurangi porsinya,” ucapnya.

Meski terpaksa menaikkan harga, Puspa harus bersiasat dengan memberikan promo setiap bulan. Itu semua dilakukan agar usaha kateringnya tetap mendapat pesanan dari pelanggan dan konsumen baru.

”Pokoknya saya harus mikir gimana caranya bisa dapat orderan setiap hari. Walaupun margin keuntungan sekarang makin menipis,” ujarnya.

Pedagang menjajakan sejumlah bahan pokok di Pasar Petisah, Medan, Sumatera Utara, Senin (19/12/2022). Menjelang Natal dan Tahun Baru, harga bahan pokok mulai naik. Pasokan pun menurun karena cuaca buruk.

Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Lampung, Pujiati, berpendapat, dalam perspektif pendidikan ekonomi, tekanan ekonomi yang terjadi sangat berpengaruh terhadap pengeluaran keluarga, terutama mereka dengan pendapatan menengah ke bawah.

”Harga-harga naik, tetapi pendapatan cenderung stagnan hingga menggerus tabungan (keluarga),” katanya.

Pujiati menyebut, masyarakat harus bijaksana dalam mengatur kebutuhan rumah tangga di tengah tekanan ekonomi seperti sekarang. Mereka harus memprioritaskan kebutuhan pokok, seperti kebutuhan pangan dan pendidikan keluarga.

Dia menambahkan, literasi keuangan berperan penting agar rumah tangga, khususnya kelas menengah ke bawah, tidak terjerembap pada utang konsumtif di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.

Menurut Pujiati, hasil studi mahasiswa di Program Studi Pendidikan Universitas Lampung Ekonomi menunjukkan adanya peningkatan perilaku konsumtif, terutama di masyarakat dengan literasi keuangan yang rendah. Apalagi, saat ini, banyak konten kretaor yang mempromosikan berbagai produk yang bisa mendorong seseorang untuk berbelanja secara impulsif.

Pujiati, dosen Pendididkan Ekonomi Universitas Lampung.

Sebelumnya, Direktur Kolaborasi Internasional Indef Imaduddin Abdullah mengatakan, pelemahan rupiah bisa berdampak pada kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok, termasuk BBM. Itulah mengapa, pelemahan rupiah bakal berpengaruh pada kehidupan masyarakat, termasuk di perdesaan.

”Banyak barang yang dipakai warga desa dan harganya sangat dipengaruhi (nilai tukar) dolar, mulai dari BBM, LPG, pupuk, obat, pakan ternak, alat pertanian, bahan pangan impor, sampai ongkos logistik. Kalau rupiah melemah, biaya impor naik, biaya produksi naik, lalu pelan-pelan masuk ke harga barang di pasar atau warung. Jadi, dampaknya tetap sampai ke desa walaupun tidak langsung kelihatan,” kata Imaduddin (Kompas.id, 17/5/2026).

Itulah mengapa, bagi banyak keluarga di Tanah Air, pelemahan rupiah bukan sekadar angka yang bergerak di pasar uang. Saat ini, banyak keluarga di Indonesia yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok yang terasa hingga ke meja makan keluarga.


Kerabat Kerja

Penulis:

Vina Oktavia
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim