Kesulitan pangan mengintai sebagai dampak perang di Timur Tengah. Rusia dan China, dua eksportir pupuk global, mulai membatasi ekspor pupuk.
26 Mar 2026 17:30 WIB · Internasional
AFP
NEW YORK, KAMIS — Perang Iran yang dipicu serangan AS dan Israel semakin menekan rantai pasok pupuk global. Padahal, saat ini, banyak negara tengah memasuki masa tanam. Selain hambatan di Selat Hormuz, pasokan pupuk kian terbatas karena produsen pupuk besar dunia, China dan Rusia, mengamankan pasokan dalam negeri dan memperketat ekspor.
”Tanpa pupuk hari ini, besok kita bisa kelaparan,” kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres dalam jumpa pers di Markas PBB, New York, AS, Rabu (25/3/2026) waktu setempat atau Kamis WIB.
Tekanan itu datang bersamaan dengan keterbatasan minyak dan gas yang juga penting untuk pertanian. Kondisi itu akan semakin menekan negara-negara berkembang. Ancaman ini terutama dihadapi negara-negara berkembang yang terlilit utang dan tidak memiliki sumber daya memadai untuk menahan kenaikan harga.
Akibatnya, kata Guterres, penduduk di negara-negara itu terancam menghadapi lebih banyak kelaparan, kemiskinan, dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar warganya.
Tanpa pupuk hari ini, besok kita bisa kelaparan.
Penutupan Selat Hormuz dalam perang di Timur Tengah turut mengakibatkan pasokan pupuk global tertekan. Selat itu salah satu urat nadi pupuk dunia. Menurut data Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), sekitar sepertiga perdagangan pupuk global lewat laut melintasi jalur itu.
Pada 2024, volume pupuk yang melintasi Selat Hormuz sekitar 16 juta ton. Dari volume itu, 67 persen berupa urea dan 29 persen fosfat, yaitu 20 persen diammonium phospate (DAP) dan 9 persen monoamonium phosphate (MAP). Ketiganya vital untuk pertanian dan pangan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/20/59a50216b07053fae938cf3aafa4e2b0-UN_US_UNGA_DIPLOMACY_132697901.jpg)
Di tengah penutupan Selat Hormuz, kantor berita Reuters, Kamis (19/3/2026), memberitakan, China memperketat eksport campuran pupuk nitrogen-kalium dan sejumlah jenis fosfat sejak pertengahan Maret.
Langkah ini sesuai kebijakan Beijing untuk memprioritaskan kebutuhan domestik. Informasi tersebut diperolah dari para pelaku industri pupuk di China. Belum diketahui sampai kapan pengetatan akan berlaku.
Dalam konferensi pupuk di Shanghai yang dihadiri Reuters, lima tenaga penjual mengatakan, mereka memperkirakan larangan ekspor akan berlangsung setidaknya hingga Agustus. Para produsen pupuk di China kini menunggu sinyal pemerintah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/12/6193d48c-a808-45fd-92bc-45f3da67c5e8.jpg)
Sejauh ini belum ada pernyataan resmi Pemerintah China soal pembatasan ekspor pupuk tersebut. Beijing hanya menekankan pengamanan pasokan dalam negeri dan stabilisasi harga pupuk. Hal ini termuat dalam pemberitahuan resmi Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China pada 5 Februari 2026.
Isinya meminta pasokan pupuk untuk musim tanam agar diamankan. Selain itu, komisi meminta untuk memprioritaskan sulfur domestik bagi produsen pupuk fosfat dan memperkuat pengelolaan impor serta ekspor pupuk.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan, China merupakan produsen sekaligus konsumen besar pupuk. Sambil memenuhi kebutuhan domestik, China tetap mengekspor sebagian pupuk ke pasar internasional. Namun, ia tidak merinci kebijakan ekspor yang berlaku. Lin hanya meminta pertanyaan teknis diajukan kepada otoritas terkait.
China merupakan salah satu eksportir pupuk terbesar di dunia. Tahun 2025, nilai ekspor pupuk China mencapai lebih dari 13 miliar dolar AS. Banyak negara bergantung pada pupuk dari China, antara lain Brasil, Indonesia, Thailand, Malaysia, Selandia Baru, dan India.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/4437fe9402b8c6ab3999b96c4c3d1439-wires_photo_320.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/25/352f8b5b84bb2d69af378b896b03752f-20260325_H01_NNN_Tanker_Hormuz_mumed.png)
Pembatasan ekspor diperkirakan akan membuat hanya sebagian kecil pupuk China yang masih bisa dikirim keluar negeri, terutama amonium sulfat. Sebelumnya, China telah membatasi ekspor dan memberlakukan kuota ekspor untuk urea.
Rangkaian pembatasan diperkirakan akan mencapai 50-75 persen dari ekspor pupuk China tahun lalu. Potensi volume eskpor yang berkurang hingga 40 juta ton metrik.
Analis komoditas senior BMI, Matthew Biggin, menilai, pembatasan ekspor mencerminkan ketatnya keseimbangan pasokan domestik dan prioritas China untuk menjaga ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini penting guna menghindari guncangan harga.
Saat ini harga urea internasional telah melonjak sekitar 40 persen dibanding sebelum serangan AS-Israel ke Iran. Di China, harga kontrak berjangka urea kini mendekati level tertinggi dalam 10 bulan terakhir.
Sementara Rusia telah dengan tegas menghentikan sementara ekspor amonium nitrat mulai Sabtu (21/3/2026). Penghentian akan berlaku hingga akhir April 2026. Amonium nitrat merupakan bahan pupuk vital.
Menurut Kementerian Pertanian Rusia, kebijakan itu diambil di tengah meningkatnya permintaan ekspor pupuk nitrogen. ”Untuk memprioritaskan pasokan pupuk yang sangat dibutuhkan petani Rusia, semua izin ekspor amonium nitrat yang sudah ada dan yang masih diproses telah ditangguhkan. Langkah ini akan berlaku dari 21 Maret hingga 21 April 2026,” demikian pernyataan resmi Kementerian Pertanian Rusia, dikutip dari kantor berita Rusia, TASS dan RIA Novosti, Senin (24/3/2026).
Kementerian Pertanian Rusia menyatakan, pemerintah menghentikan penerbitan lisensi ekspor baru. Ekspor yang masih berlaku hanya untuk pengiriman dalam kerangka kontrak pemerintah.
Rusia memproduksi sekitar seperempat amonium nitrat dunia. Penghentian ekspor terjadi saat pasar global tengah tertekan akibat penutupan Selat Hormuz. Jalur itu dilalui sekitar 24 persen amonia dunia, salah satu bahan baku utama amonium nitrat.
Sejumlah negara mulai mencari pasokan pupuk alternatif. Pemerintah AS sedang memburu sumber pupuk lain, termasuk dari Venezuela dan kemungkinan dari Maroko. Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan, Washington telah menyiapkan lisensi bagi Venezuela untuk memproduksi lebih banyak pupuk dan sudah berdiskusi dengan Maroko.
Namun, Hassett mengakui Washington tidak dapat sepenuhnya menghapus disrupsi yang sudah terjadi. ”Saya tidak mengatakan kami bisa menghilangkan seluruh gangguan yang ada sejauh ini, tetapi kami bisa meminimalkannya,” katanya.
Di Eropa, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengusulkan jalur aman di Selat Hormuz untuk mengamankan pangan dunia. Skema itu diusulkan untuk ekspor gandum, pangan, dan pupuk. Kallas mengatakan, usulan itu telah dibicarakannya dengan PBB.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/08/05/9b15c567-bda4-457a-b2d4-9fc67ea45ce9.jpg)
Lonjakan harga pupuk mulai terasa langsung di tingkat petani. Petani di Tennessee, AS, Todd Littleton memperkirakan tagihan pupuknya di musim ini naik 100.000 dolar AS atau sekitar 40 persen dibanding tahun lalu.
Federasi Biro Pertanian AS (AFBF) mencatat, sekitar 15 persen impor pupuk AS berasal dari Timur Tengah. Kawasan itu juga memasok sekitar separuh urea dunia dan 30 persen amonia global. Presiden AFBF Zippy Duvall mengatakan, banyak petani anggotanya mungkin tidak kebagian pupuk untuk masa tanam musim semi ini. ”Itulah sebabnya situasi ini sangat serius,” kata Duvall.
Awal pekan ini, Perancis mengumumkan langkah darurat untuk membantu petani yang terpukul lonjakan harga bahan bakar dan pupuk. Paris menawarkan penundaan pembayaran iuran sosial, kelonggaran tenggat pajak atas permintaan, serta pinjaman jangka pendek. Penundaan pembayaran dijamin negara.
Di tingkat Uni Eropa, Perancis mendesak pembebasan pupuk impor dari ongkos karbon agar harga pupuk lebih murah bagi petani. Namun, kalangan petani menilai bantuan itu belum memadai. Serikat petani terbesar Perancis, FNSEA, menyatakan, langkah pemerintah hanya menunda masalah tanpa benar-benar menyelesaikannya. (Reuters/AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase