Dampak Serangan Israel, Saham Rontok, Harga Minyak Meroket

Bursa minyak Brent yang menjadi standar internasional tercatat naik hingga 5,52 dollar AS atau menjadi 74,88 dollar AS per barel. Israel kerahkan 200 jet tempur.

13 Jun 2025 12:43 WIB · Internasional

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

HONG KONG, JUMAT — Dampak langsung serangan Israel ke Iran terasa hingga Asia. Bursa di Asia dibuka melemah. Dalam perdagangan saham, Nikkei 225 Tokyo dibuka turun 1,2 persen, sementara Kospi di Seoul turun 0,7 persen. Hang Seng Kong juga mencatatkan penurunan, setidaknya hingga 0,4 persen. Demikian pula Indeks Komposit Shanghai yang turun hingga 0,2 persen.

Selain memengaruhi saham, serangan Israel bertajuk operasi ”Rising Lion” itu juga memicu lonjakan harga minyak dunia. Bursa minyak acuan AS naik 8,2 persen atau naik sebesar 5,6 dollar AS menjadi 73,61 dollar AS per barel. Bursa minyak Brent yang menjadi standar internasional juga mencatatkan kenaikan hingga 5,52 dollar AS atau menjadi 74,88 dollar AS per barel.

Turunnya harga saham dan meroketnya harga minyak, antara lain, dipengaruhi oleh langkah investor mengalihkan sejumlah dana mereka pada emas dan franc Swiss.

”Serangan Israel terhadap Iran merupakan salah satu dari sepuluh risiko global teratas, tetapi pasar Asia diperkirakan akan pulih dengan cepat karena paparan mereka terhadap konflik tersebut relatif terbatas dan hubungan yang semakin erat dengan Arab Saudi dan UEA yang tidak terpengaruh,” kata Xu Tiachen dari The Economist Intelligence.

Currency traders work near a screen showing the Korea Composite Stock Price Index (KOSPI), top left, and the foreign exchange rate between U.S. dollar and South Korean won, top center, at the foreign exchange dealing room of the KEB Hana Bank headquarters in Seoul, South Korea, Friday, June 13, 2025. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Terpisah, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras beragam bentuk eskalasi militer di Timur Tengah. ”Sekretaris Jenderal meminta kedua belah pihak untuk menunjukkan pengendalian diri yang maksimal, menghindari dengan segala cara agar tidak terjadi konflik yang lebih dalam, situasi yang hampir tidak dapat ditanggung oleh kawasan tersebut,” kata Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq.

Pemerintah Jepang juga mengecam keras serangan udara Israel atas Iran. Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya mendesak para pihak yang bertikai untuk menahan diri.

Pantai kosong melompong di Tel Aviv, Israel, Jumat (13/6/2025). Israel menggempur Iran dalam serangkaian serangan udara, menyerang 100 target termasuk situs nuklir dan militer Teheran, serta menewaskan kepala staf angkatan bersenjata, kepala Garda Revolusi Iran, dan ilmuwan nuklir terkemuka. Sebaliknya, Iran meluncurkan 100 pesawat nirawak sebagai respons terhadap serangan itu.

”Kami sangat mengecam tindakan terbaru yang memperburuk situasi,” kata Takeshi kepada wartawan di Tokyo. ”Perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah sangat penting bagi Jepang, dan kami mendesak semua pihak yang terlibat untuk menahan diri sepenuhnya dan menenangkan situasi.”

200 jet tempur

Dalam keterangannya, pihak militer Israel mengatakan, mereka mengerahkan setidaknya 200 jet tempur dalam gempuran awal operasi ”Rising Lion”. Mereka menyasar sedikitnya 100 target di Iran. Sejumlah perwira tinggi Iran dan ahli nuklir Iran tewas dalam serangan tersebut.

Salah satu perwira tinggi Iran yang turut menjadi korban adalah Jenderal Hossein Salami. Salami adalah Komandan Garda Revolusi Iran.

Sebagai balasan awal, Iran mengerahkan 100 drone untuk menyerang Israel. ”Dalam beberapa jam terakhir, Iran telah meluncurkan lebih dari 100 pesawat nirawak ke Israel, dan semua sistem pertahanan bertindak untuk mencegat ancaman tersebut,” kata Deffrin.

Rescue teams work in a building targeted by an Israeli strike in the Iranian capital Tehran on June 13, 2025. Israel carried out strikes against Iran early on June 13, targeting its nuclear and military sites as well as residential buildings in Tehran, after US President Donald Trump warned of a possible "massive conflict" in the region. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Israel optimistis atas hasil operasi ”Rising Lion”. Pihak militer Israel mengatakan, laporan intelijen menunjukkan akibat serangan itu, Iran kehilangan banyak kemampuan nuklir mereka. Laporan itu menyebut, Iran mendekati ’titik tidak bisa kembali' pada program nuklir mereka.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, serangan itu sangat berhasil dan serangan itu adalah serangan pembuka. ”Kami melakukan serangan pembuka yang sangat berhasil, dan dengan bantuan Tuhan, kami akan mencapai lebih banyak lagi,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan lewat video.

”Kami telah menyerang komandan senior, kami telah menyerang ilmuwan senior yang mempromosikan pengembangan bom nuklir, dan kami telah menyerang fasilitas nuklir,” kata Netanyahu.

Menyikapi memanasnya situasi, otoritas penerbangan sipil Jordania mengatakan, wilayah udara negara itu akan ditutup untuk semua penerbangan. Langkah itu mengikuti langkah otoritas udara regional lainnya. Kantor Berita Jordania mengatakan, tindakan sementara tersebut merupakan kekhawatiran negeri itu atas bahaya apa pun yang terkait dengan eskalasi di kawasan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .