Sejak 2018, harga pesawat komersial naik sekitar 30 persen. Kenaikan tarif impor dari AS bisa mendorong lebih jauh.
20 Apr 2025 17:00 WIB · Internasional
SEATTLE, MINGGU — Sejak pandemi, harga pesawat komersial baru produksi Airbus dan Boeing telah naik karena guncangan rantai pasokan. Tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dapat melambungkan harga pesawat lebih tinggi lagi.
Dua perusahaan pembuat pesawat terbesar dunia, Airbus dari Eropa dan Boeing dari AS, telah lama bergulat dengan biaya produksi tinggi. Keduanya harus membayar lebih untuk bahan-bahan utama, seperti titanium, komponen dan energi, serta biaya tenaga kerja.
Pada akhir 2024, contohnya, Boeing baru menyelesaikan masalah pemogokan buruh. Perusahaan ini menyetujui kontrak baru dengan serikat pekerja mesin untuk menaikkan upah sebesar 38 persen selama empat tahun.
”Dibandingkan dengan tahun 2018, harga pesawat jet komersial telah naik sekitar 30 persen,” kata seorang pakar penerbangan kepada AFP tanpa menyebut nama, Minggu (20/4/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/20/ed41842d-cc05-4288-9d28-ede541958d69_jpg.jpg)
Direktur pelaksana di konsultan AeroDynamic Advisory, Richard Aboulafia, menambahkan, harga barang-barang telah meningkat tajam, termasuk apa pun yang berbahan titanium. Hal ini karena semua ekspor titanium Rusia telah diputus AS dan, pada level yang lebih rendah, Eropa.
Aboulafia memperkirakan, harga material dan peralatan naik 40 persen sejak 2021. Kenaikan ini bahkan sebelum Trump mengenakan kenaikan tarif 25 persen untuk baja dan aluminium yang merupakan bahan pesawat. ”Agak ironis, bahan mentah bukanlah masalah, tetapi Donald Trump bertekad menjadikannya masalah,” ujarnya.
John Persinos, pemimpin redaksi di Aircraft Value News, mengatakan, kondisi akan bertambah buruk mengingat tarif sedang diberlakukan. ”Tarif ini membawa bencana,” ujarnya.
Sejauh ini, dampak tarif tidak tecermin dalam katalog harga resmi perusahaan. Boeing belum memperbarui angkanya sejak 2023, sementara Airbus sejak 2018. ”Harga katalog adalah karya fiksi belaka. Anda mendapat diskon 50 persen jika datang dengan pakaian yang bagus,” ujar Aboulafia.
Airbus telah mengabaikan penggunaan harga katalog sejak lama. Menurut perusahaan, harga tersebut ”tidak berkorelasi erat dengan harga akhir, yang didasarkan pada setiap kontrak spesifik dalam hal konfigurasi dan detail pesawat”.
Adapun Boeing mengevaluasi harga berdasarkan biaya produksi dan faktor pasar lainnya. Perusahaan ini tidak membahas detail faktor tersebut karena berkaitan dengan persaingan perusahaan.
Kontrak untuk pesawat baru biasanya mencakup klausul penyesuaian inflasi. Perusahaan pembuat pesawat juga sering kali menegosiasikan layanan tambahan, pelatihan pengoperasian pesawat dengan harga diskon, saat pesawat dikirim. Kesepakatan semacam ini membuat harga resmi dalam katalog jadi tidak berlaku.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/20/0401fc3babd5a56ef2b579dbbd966dd2-US_TARIFF_TRADE_DIPLOMACY_AVIATION_129042271.jpg)
Baik Boeing maupun Airbus saat ini memiliki banyak pesanan pesawat yang akan membuat keduanya sibuk hingga akhir dekade ini. Namun, permintaan yang kuat itu tidak serta-merta meningkatkan harga karena kompetisi kedua perusahaan sangat ketat.
”Sebelum Covid, Boeing dan Airbus bersaing untuk pasar di mana harga benar-benar rendah, bahkan mungkin terlalu rendah,” kata Manfred Hader dari konsultan Roland Berger.
Menurut Hader, maskapai penerbangan mampu membeli pesawat lebih mahal setelah pandemi. Sebab, permintaan perjalanan kuat sehingga menggenjot harga tiket dan profitabilitas maskapai.
Februari lalu, maskapai All Nippon Airways memesan 77 pesawat dari Boeing, Airbus, dan perusahaan Brasil, Embraer. Kantor berita AFP menghitung, harga Boeing 787 Dreamliner sebesar 386 juta dollar AS, naik dari 292 juta dollar AS pada tahun 2023. Sementara harga Airbus A321neo ialah 148 juta dollar AS, naik dari 129,5 juta dollar AS pada 2018.
Bisnis perusahaan pembuat pesawat menjadi korban terbaru dari perang dagang antara AS dan China. Pada bulan ini, Trump menaikkan tarif untuk impor China menjadi 145 persen. Sebagai balasan, China mengenakan tarif 125 persen untuk AS.
Pada 15 April, Bloomberg melaporkan, China memerintahkan maskapai penerbangan untuk tidak lagi menerima pengiriman pesawat Boeing. Beijing juga meminta maskapai penerbangan menghentikan pembelian peralatan dan suku cadang pesawat terbang dari Boeing.
Sebuah pesawat Boeing 737 MAX untuk maskapai China pulang ke pusat produksi di Seattle, AS, Minggu (20/4/2025). ”Pesawat 737 MAX, yang seharusnya digunakan oleh Xiamen Airlines asal China, mendarat di Lapangan Boeing Seattle pada pukul 06.11 petang. Pesawat itu dicat dengan corak Xiamen,” kata saksi mata Reuters.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/20/9733088d-a128-45f9-87b2-fcbd4af67235_jpg.jpg)
Pesawat berhenti untuk mengisi bahan bakar di Guam dan Hawaii. Total jarak perjalanan pulang sejauh 8.000 kilometer. Pesawat itu adalah satu dari beberapa pesawat Boeing 737 MAX yang sedang menunggu di pusat Boeing di Zhoushan, China, untuk menyelesaikan tahap akhir sebelum pengiriman ke maskapai China.
Tidak jelas pihak mana yang membuat keputusan untuk mengembalikan pesawat itu ke AS. Boeing tidak segera menanggapi permintaan komentar. Xiamen juga demikian.
Membeli pesawat Boeing setelah kenaikan tarif Trump bisa membuat maskapai penerbangan China babak belur. Di pasaran, konsultan penerbangan IBA memperkirakan, harga pesawat Boeing 37 MAX baru adalah 55 juta dollar AS.
Para analis mengatakan, kebingungan atas perubahan tarif yang dapat membuat banyak pengiriman pesawat menjadi tidak menentu. Beberapa CEO maskapai mengatakan akan menunda pengiriman pesawat daripada membayar bea masuk impor. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti