Dan, Semua Terpadel-padel...

Persaingan mereservasi lapangan kini begitu sengit. Pelataran parkir pun kerap didominasi mobil mewah. Bertemu klien sambil bermain padel sudah biasa pula dilakoni.

22 Jun 2025 12:54 WIB · Gaya Hidup

Oleh Dwi Bayu Radius, Wisnu Dewabrata

Sudah jamak kini terlihat lapangan padel yang tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Padel memang bukan soal kesehatan lagi. Olahraga itu sekaligus menjelma menjadi ajang pengakuan di media sosial. Aksi musisi, pakaian bermerek, hingga mobil mentereng sudah lumrah pula meramaikan padel.

Musik berdentam-dentam yang diracik disjoki dengan kerumunan penonton di hadapannya. Mereka tertawa-tawa seraya menyesap minuman dingin dan sesekali bergoyang. Jangan salah sangka, ini bukan di diskotek. Kemeriahan bak ajeb-ajeb itu menggema di areal lapangan padel.

Lagu-lagu disko ala dekade 1990-an meningkahi kegembiraan seorang pemain yang berulang tahun ke-47. Ia dan sahabat-sahabatnya mengenakan busana dengan dress code putih, hijau, atau biru. Mereka bercengkerama di lapangan yang menempati mal megah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (17/6/2025).

Aneka sajian, seperti piza, chicken wings, sampai platter berisi sosis, nuget, dan kentang goreng, terhidang, menambah rileks tubuh-tubuh yang tengah melepas lelah. Mereka memang baru usai bermain padel selama tiga jam hingga pukul 18.00. Kaus polo, rok, arloji, sepatu, topi, hingga kacamata hitam para pemain sungguh trendi.

Tak semua bermain padel, sebagian hanya ikut kongko-kongko. Pelantang diarahkan ke hadapan mereka yang sedang duduk-duduk. Pemain-pemain lain yang mengambil giliran untuk mencari keringat pun tak terganggu. Kesemarakan sekitar 20 orang itu berakhir sekitar pukul 21.30.

Astrid bermain padel di Play-in Padel Collective (PIPC), Bintaro, Jakarta Selatan, Kamis (19/6/2025). Sebanyak sembilan lapangan dan perlengkapan bermain padel yang lengkap tersedia di PIPC. Olahraga gabungan antara tenis dan squash yang tengah digandrungi kaum urban tersebut berasal dari Meksiko.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
19-6-2025

Arini Cempaka (48), yang ikut hadir saat itu, kadang asyik bernyanyi bersama sahabat-sahabatnya. Mereka memang mengundang disjoki dan membawa perangkat sendiri untuk disambungkan dengan sepiker yang disediakan pengelola lapangan. Belum afdal rasanya kalau nongkrong tanpa berswafoto dan diunggah ke media sosial.

Berebut reservasi

Tak lama kemudian, belasan foto sudah terpampang di akun pemilik penyelenggara acara itu. Arini memang rajin memasang konten-konten bermain padel. Warga Tangerang Selatan, Banten, tersebut mulai terpikat padel tiga tahun lalu.

”Awalnya, coba-coba di Bali. Setelah ada di Jakarta, aku main sejak Desember 2024. Aku suka padel karena seru. Perpaduan tenis dan squas,” ujarnya. Ia sungguh kepincut padel sampai-sampai membentuk Club Anak Selatan. Baru didirikan sekitar tiga bulan silam, jumlah anggota sudah mencapai 700 orang.

Tak heran, Arini sangat fasih dan antusias kalau membahas padel. Ia lantas mengutarakan sengitnya persaingan mereservasi lapangan. ”Buat bulan depan saja, bisa war (perang) mengisi slot biar dapat akhir pekan. Sekarang, bukan tiket doang yang war. Pas bulan puasa, malah banyak yang main sebelum sahur,” katanya.

Arini juga mengungkapkan sulitnya membangun lapangan karena animo yang begitu membeludak. Investor bisa menunggu vendor hingga enam bulan. ”Banyak banget lapangan yang lagi dibangun. Soalnya, vendor juga belum banyak. Punya tanah kosong dikit dibikin lapangan,” ucapnya.

Kaum urban bermain padel di Summarecon Mall Bekasi, Jawa Barat, Kamis (19/6/2025). Selain pertandingan hiburan, even yang digelar hingga Minggu (22/6/2025) ini juga menyelenggarakan kompetisi yang berhadiah Rp 10 juta. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
19-6-2025

Arini malah sedang mengambil ancang-ancang memboyong rekan-rekannya untuk bermain padel di Bali, satu hingga dua bulan mendatang. ”Aku tanya, ternyata banyak yang mau ikut. Main di Bali, kan, beda sama vibe (suasana) Jakarta. Berangkat Jumat, balik Minggu,” tuturnya.

Padel sejatinya merupakan olahraga hibrida antara tenis, badminton, tenis meja, dan squash. Skema penilaian dalam padel mengikuti aturan yang serupa dengan tenis, yaitu dengan urutan skor 15, 30, dan 40. Tim yang berhasil memenangkan dua set pertama akan dinyatakan sebagai pemenang pertandingan.

Demikian padel yang kini begitu hype, digandrungi kaum urban, terutama kalangan menengah atas. Harga raket hingga Rp 5 juta bukan perkara besar buat mereka. Puluhan juta rupiah demi layanan keanggotaan eksklusif nan bonafide pun tak sungkan digelontorkan. Belum lagi, budget untuk membeli busana modis.

Padel juga menjadi pengisi waktu bagi ibu-ibu yang mengantar jemput sekolah anak-anaknya. Seperti Tezha Puspita (32), Astra Vega (36), dan Intan Putrianti (30). Setelah anak sekolah, mereka lanjut berkumpul di Casa De Padel di Cilandak, Jakarta Selatan, sejak pukul 08.00.

”Anak-anak kami satu sekolahan. Sambil nunggu pulang sekolah, cari kegiatan lain. Ketemu, deh, padel dan kami suka,” ujar Tezha.

Selain di Casa De Padel, pemandangan di area parkir yang kurang lebih sama terlihat di beberapa klub. Pelataran didominasi kendaraan mewah seharga di atas Rp 800 juta. Mobil sport putih dua pintu produksi Italia, umpamanya, juga memasuki Ràcquet Padel Club di Cilandak.

Kaum urban bermain padel di Casa de Padel, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (17/6/2025). Olahraga dengan raket khusus yang menggabungkan tenis dan squash dan dimainkan secara berpasangan ini tengah populer di kalangan anak muda.  Pemain padel biasanya mempunyai grup dan iuran untuk menyewa lapangan Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu perjam. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
17-6-2025

Seperti juga penampilan Tezha dan kedua temannya, tamu yang datang ke klub-klub padel tampak bergaya. Mereka mengenakan outfit serta aksesori padel berjenama impor. Mulai dari sepatu, raket, hingga aneka aksesori olahraga padel lainnya. Gawai pintar keluaran terbaru juga ada dalam genggaman masing-masing.

Untuk berjejaring

Krishna Respati (44) mengaku tergila-gila dengan padel karena mudah dimainkan, lumayan cepat menguruskan badan, dan baik untuk olahraga kardio. Saking keranjingannya, ia bisa bermain padel sampai tiga kali sehari dengan komunitas yang berbeda.

”Hampir setiap hari main. Bareng temen kuliah, SMA, sampai dikenalin. Sama keluarga juga. Istilahnya, sudah kepadelan,” ucapnya sembari terbahak. Pengusaha makanan dan minuman itu memandang padel sudah mirip golf yang dimainkan untuk membicarakan peluang bisnis dengan klien sekaligus menepis stres.

Tak hanya di Jakarta, padel juga merambah, umpamanya, sampai ke Jawa Barat. Warga Sentul, Bogor, Clara (26), mencoba padel pertama kali karena sering melihat unggahan pemengaruh.

Astrid memilih raket padel di Play-in Padel Collective (PIPC), Bintaro, Jakarta Selatan, Kamis (19/6/2025). Sebanyak sembilan lapangan dan perlengkapan bermain padel yang lengkap tersedia di PIPC. Olahraga gabungan antara tenis dan squash yang tengah digandrungi kaum urban tersebut berasal dari Meksiko.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
19-6-2025

”Aku ajak teman karena penasaran. Ternyata gampang. Enggak perlu beli. Sewa raket sudah cukup,” katanya.

Ia bermain seminggu sekali. Seiring waktu, Clara yang bermain di Tegal Gundil, Bogor, menyadari bahwa padel bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan juga membangun jejaring alias networking yang berpotensi sosial ekonomi. Lapangan padel kini menjadi salah satu ruang pertemuan yang cair, informal, dan tetap menyenangkan.

”Padel kayak ngopi versi aktif. Ketemu teman, ngobrol, tapi sambil keringatan. Buat aku yang suka olahraga dan sosialisasi, cocok banget,” katanya.

Aktualisasi

Dorongan bermain padel kadang bisa kian bergairah karena aspek kostum. Seperti yang dirasakan Annisa Muthia (32) yang baru gemar bermain sejak padel akhir Mei 2025. Karyawan swasta itu rutin bermain padel seminggu dua kali. Ia merasa padel merupakan olahraga yang juga bisa menjadi ekspresi mode.

Ia kerap terdorong untuk mengunggah konten lewat status Instagram story ketika pakaiannya saat bermain padel sedang lucu atraktif. Annisa membagikan video dan foto ketika bermain padel di akun Instagram-nya. Salah satunya, video ketika melakukan servis. Pose yang terlihat keren dan manis.

Pengajar manajemen prestasi olahraga di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, Djoko Pekik Irianto, berpendapat, padel berkembang pesat karena pemain bisa menguasainya dengan cepat. Tak sekadar olahraga, sebagian penggemar juga menggelutinya untuk aktualisasi diri.

Ia mempersilakan jika pehobi bermain padel dengan mengusung gaya, tetapi diharapkan, mereka mulai mengalihkan fokusnya dari gengsi menjadi ajang meraih prestasi.

”Mau cari jati diri dengan mencoba gaya hidup baru. Ya, oke saja. Kalau jadi terpadel-padel, trennya sekarang memang ke sana,” ucapnya sambil tertawa.

Padel tak lagi sekadar cabang olahraga baru—ia menjelma jadi cermin zaman. Di balik dentuman musik dan raket berayun, terselip geliat pencarian identitas, eksistensi, hingga peluang jejaring sosial dan bisnis. Padel adalah panggung tempat gaya hidup, interaksi sosial, dan hasrat aktualisasi bersatu. Kini tinggal satu pertanyaan, akankah padel hanya jadi tren sesaat atau terus melaju. (*/**)

Catatan: Artikel merupakan kolaborasi dengan peserta magang Harian Kompas, Giofanny Sasmita, Jurusan Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara, dan Selina Damayanti, Ilmu Komunikasi, Universitas Pakuan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dwi Bayu Radius, Wisnu Dewabrata
 | 

Editor:

Dahono Fitrianto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul