”Darah Nyai”: Perlawanan Femisida dari Dunia Bawah

Di tengah langkah membangun ruang aman bagi perempuan, femisida terus gentayangan penuh ancaman. Kekuatan dunia bawah pun muntab memberi balasan.

22 Des 2024 15:33 WIB · Gaya Hidup

Oleh Riana A Ibrahim

Film Darah Nyai yang tayang perdana di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) pada Kamis (5/12/2024) membawa getar berbeda bagi perkembangan horor, khususnya dalam subgenre slasher atau jagal. Meski premis awal lagi-lagi kematian seorang perempuan secara mengenaskan yang kemudian berujung aksi menuntut balas dari alam supranatural, tawaran kesimpulannya justru di luar kelaziman.

Naskah film yang ditujukan rilis untuk publik pada 2025 ini ditulis Hikmat Darmawan dan Azzam Fi Rullah, lalu dieksekusi penyutradaraannya oleh Yusron Fuadi. Dari bangunan cerita, para lelaki di balik layar ini agaknya menjajal menumbangkan perspektif demonisasi perempuan yang jamak muncul di film horor.

Sebab itu, kisah dimulai dengan Lisa yang mengalami kekerasan seksual dari gerombolan Boni (Rory Asyari), Nathan (Wieshely Brown), Arthur (Rayner Wijaya), dan Dodi (Winner Wijaya). Lisa tewas, lalu jasadnya dimutilasi dan dibuang ke laut. Masuklah energi astral di sini, Nyi Roro Kidul murka dan mengirim salah satu dayangnya, Nyai Sumekar (Jessica Katharina) untuk balas dendam dengan merasuki tubuh Rara (Violla Georgie).

Boni (Rory Asyari) dan komplotannya tengah melakukan kekerasan seksual terhadap Lisa.

Alur berikutnya tentu bisa ditebak bagaimana nasib empat begundal itu harus berhadapan dengan kekejian khas slasher yang berdarah-darah sebelum dijemput ajal. Keberadaan Inspektur Yati (Vonny Anggraini) yang menyelidiki perkara matinya komplotan ini sempat memancing spekulasi keberpihakan. Ini mengingat umumnya perempuan dalam horor tak akan memperoleh keadilan, baik ketika hidup maupun saat telah menjadi roh.

Namun, mengamati rangkaian dialog dan tingkah empat kriminal ini, rentetan kejahatan rupanya telah dipupuk. Dari terlibat perdagangan orang, mafia narkoba, hingga berkali-kali melakukan kekerasan seksual dan menghilangkan nyawa para perempuan. Darah Nyai merupakan elegi kemarahan dari khalayak, khususnya para perempuan. Dengan demikian, akhirnya menjadi terduga.

Lewat sepenggal penjelasan dari penjaga hotel yang melayani Nyai, Endang (Djenar Maesa Ayu), dobrakan lain juga dilakukan untuk membersihkan citra mitos Nyi Roro Kidul yang selama ini ditakuti karena dinilai jahat. Amukan ratu penjaga laut ini rupanya akan bangkit dengan menyasar mereka yang culas dan mengotori alam dengan darah sesamanya, terutama perempuan.

Alih-alih menjadi pahlawan, kehadiran semua tokoh perempuan di sini, termasuk Nyi Roro Kidul yang hanya hadir dari pembicaraan, merupakan antihero. Dengan caranya, mereka melawan ketidakadilan, kejahatan, dan dominasi patriarki yang telah kadung menjelma dalam sistem sosial dan hukum.

”Suaranya memang terkait kekuatan perempuan. Walau saya menyadari, ini film tentang perempuan, kenapa yang nulis justru abang-abang. Tapi tentu ini dibicarakan juga dengan para perempuan, termasuk para pemainnya. Mereka aktif memberikan masukan, bahkan sampai ke bagian dialog, karena ini suara mereka,” jelas Hikmat seusai pemutaran di bioskop Empire XXI, Yogyakarta.

Nyai Sumekar (Jessica Katharina) merupakan dayang dari Nyi Roro Kidul.

Aktualisasi

Berbekal pesan yang tajam, Darah Nyai tetap mencoba peluang bermain-main sebagai bentuk aktualisasi diri. Tema horor jagal yang diangkat menjadi jalan. Yusron yang akrab bereksplorasi seperti pada film terdahulunya Tengkorak (2017) dan Setan Alas! (2023) memanfaatkannya.

”Ketika dapat naskah Darah Nyai dan baca untuk yang pertama kali, aku udah mikir sih ini pasti gila dan berpotensi eksplorasi tema sekaligus visual yang bisa jadi jarang didapatkan oleh sutradara. Makanya enggak pakai lama, aku langsung oke,” ungkap Yusron.

Layaknya film slasher, sudut pandang kamera dari jarak dekat digunakan untuk menyoroti adegan kekejaman, seperti ketika Dodi mencabut gigi korbannya yang berdarah-darah dengan tang. Over-the-shoulder point of view juga muncul dalam rangka memicu penasaran penonton terhadap hasil akhir siksa apa yang dihadirkan Rara.

Rara (Violla Georgie) bersiap menghabisi Nathan (Wieshely Brown).

Salah satunya, saat Rara menghabisi Nathan di sebuah kamar mandi umum setelah menyamar menjadi pembeli sabu. Tubuh Nathan diperlihatkan dari belakang dan Rara sibuk bekerja menghajar wajah Nathan dengan pisau cutter, pipa wastafel, hingga palu.

Pergerakan kamera yang lambat mengingatkan pada Wong Kar-wai yang menjadi inspirasi Yusron. Meski slow camera movement ini sesungguhnya salah satu pendekatan yang ampuh membangun kengerian penonton dalam film horor. Terlebih dalam film horor jagal, efek jumpscare akan tebersit setelah melihat tubuh usai disiksa dalam gerak lambat.

Pencahayaan dengan warna dominasi hijau dan merah yang sejenak menghidupkan nuansa film Hong Kong ala Kar-wai juga disuguhkan. Konteks warna ini juga identik dengan sosok Nyi Roro Kidul yang kerap dikaitkan dengan hijau dan merah. Di sisi lain, warna hijau sebagai wujud motivasi dan aktualisasi diri dan merah akrab dengan amarah. Makna yang ingin disampaikan pun berbicara juga lewat warnanya.

Gugatan femisida

Rangkaian persoalan yang ingin disentuh Darah Nyai, dari perdagangan orang, mafia narkoba, sampai kekerasan seksual, bermuara pada kejahatan besar bernama femisida. Istilah yang pertama kali diperkenalkan Carol Orlock pada 1970-an ini mengacu pada pembunuhan yang didasarkan pada kebencian, bias jender, atau kontrol atas tubuh perempuan.

Dalam buku Crimes against women: Proceedings of the international tribunal yang ditulis Diana Russel dan Nicole Van de Ven, pembunuhan pada perempuan memiliki sisi kekerasan berbasis jender yang tidak bisa disamakan dengan pembunuhan pada umumnya.

Mereka menggambarkan dengan perburuan perempuan yang dituding penyihir di Eropa pada abad ke-14 hingga ke-16, pembunuhan bayi perempuan di banyak negara, sampai pemerkosaan berujung kematian yang masih terjadi di masa kini.

Endang (Djenar Maesa Ayu), penjaga hotel, bercerita mengenai Nyai yang marah terhadap kejahatan terhadap perempuan.

Data Jakarta Feminist, pada 2016-2017, ada 361 kasus femisida. Pada 2021, tercatat 256 kasus femisida. Setahun setelahnya ditemukan sebanyak 162 kasus femisida. Catatan ini bukan sekadar angka, tapi mengenai nyawa yang hilang akibat masih minimnya ruang aman bagi perempuan yang menyuburkan kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan.

Pada film horor umumnya, kondisi ini acap kali diamplifikasi dengan dalih berpegang pada kisah masa lalu dan mitos yang subur di tengah masyarakat. Ketimbang memberikan perspektif baru untuk keadilan perempuan, film horor yang sudah-sudah lebih tertarik mengeksploitasi perempuan, baik fisik maupun psikis.

Darah Nyai dengan keterbatasannya setidaknya punya semangat untuk menyuarakan perlawanan terhadap femisida melalui konsep antihero dari sosok dunia bawah yang menggerakkan perempuan di alam fana. Sekaligus berefleksi mengenai hukum yang korup dan tak berpihak kepada perempuan.

Quote

Sebab, siapa yang melukai alam, melukai laut, melukai perempuan akan bertemu dengan hari penghakimannya. Jika bukan hukum manusia, maka hukum lain yang rupanya lebih adil akan bekerja dengan caranya.

Rara (Violla Georgie), Endang (Djenar Maesa Ayu), Yati (Vonny Anggraini) usai Nyai selesai menuntut balas.


Kerabat Kerja

Penulis:

Riana A Ibrahim
 | 

Editor:

Dahono Fitrianto