Ketika perang bayangan berubah menjadi serangan terbuka, dunia diingatkan bahwa dendam yang dibiarkan membara hanya menunggu waktu untuk meledak.
14 Jun 2025 06:00 WIB · Internasional
Kedua negara yang dulunya saling mendukung kini memasuki tahap eskalasi konflik. Dunia menyaksikan perkembangan konflik kedua negara ini dengan kecemasan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Bola panas berada di tangan Iran, menuju diplomasi atau perang terbuka.
Setelah berdirinya Israel pada 1948, Iran termasuk salah satu negara Muslim pertama yang mengakui kedaulatannya secara de facto. Keputusan ini bukan dilandasi kesamaan ideologi, melainkan hasil kalkulasi geopolitik di tengah ketegangan Timur Tengah.
Di masa itu, Iran dan Israel memiliki musuh bersama dalam blok negara-negara Arab yang menentang eksistensi keduanya. Pada era 1950-an hingga awal 1970-an, kedua negara menjalin hubungan erat dalam bidang militer, ekonomi, dan intelijen.
Di bawah pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi, Iran melihat Israel sebagai mitra strategis sekaligus jembatan ke Barat, terutama Amerika Serikat.
Salah satu simbol kerja sama penting adalah pembangunan pipa Eilat-Ashkelon yang menyalurkan minyak Iran ke Israel dan Eropa, menyuplai hingga 70 persen kebutuhan energi Israel.
Selain perdagangan minyak, kerja sama teknis dan pertukaran intelijen memperkuat hubungan kedua negara. Iran juga membuka kedutaan besar di Tel Aviv dan Israel memiliki kantor perwakilan diplomatik di Teheran. Namun, kemitraan strategis itu runtuh total saat Revolusi Islam meletus pada 1979.
Rezim baru Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini menjadikan anti-zionisme sebagai fondasi ideologis utama. Iran menilai, turut serta dalam perjuangan Palestina menjadi bagian integral dari politik luar negeri mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/13/b8328fe9-d849-4ba4-8e43-37207b05e7e0_jpg.jpg)
Hubungan diplomatik terputus dan permusuhan mulai dibangun secara terbuka dalam wacana domestik dan internasional.
Nyatanya, retorika keras tersebut tak selalu tecermin dalam praktik politik lapangan. Selama perang Iran-Irak pada 1980-1988, Iran menghadapi keterbatasan logistik dan akses senjata akibat embargo internasional. Dalam situasi genting itu, saluran komunikasi rahasia antara Teheran dan Tel Aviv kembali terbuka.
Israel menilai Saddam Hussein sebagai ancaman yang lebih besar ketimbang Republik Islam Iran. Meski di permukaan berseteru, Israel bersedia menjual senjata dan suku cadang militer kepada Iran, terutama untuk mendukung kekuatan udara Iran.
Sebagai gantinya, Iran memfasilitasi migrasi sisa populasi Yahudi Iran ke Israel dan memberikan akses kepada jaringan Yahudi bawah tanah.
Kolaborasi diam-diam itu memuncak dalam skandal ”Iran-Contra” yang terbongkar pada akhir 1980-an. Skema tersebut melibatkan penjualan senjata AS ke Iran melalui perantara Israel, dengan imbalan bantuan Iran dalam membebaskan sandera Amerika di Lebanon.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa dalam percaturan geopolitik, ideologi bisa dikesampingkan ketika kepentingan strategis menuntut kompromi.
Hubungan antara Israel dan Iran telah mengalami transformasi dari permusuhan dingin menjadi konflik yang semakin terbuka.
Pada dekade awal 2000-an, operasi Israel berlangsung dalam bayang-bayang, menyasar tokoh, dan infrastruktur yang dianggap berkontribusi pada ambisi nuklir Iran. Sasaran utama adalah ilmuwan, fasilitas riset, dan jaringan pengembangan rudal.
Pada 2006, Ardeshir Hosseinpour, seorang fisikawan nuklir Iran, ditemukan tewas dalam kondisi mencurigakan. Beberapa laporan menuding Mossad, badan intelijen Israel, sebagai pelaku pembunuhan lewat racun radioaktif.
Tahun-tahun berikutnya diwarnai serangkaian pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, termasuk Massoud Ali-Mohammadi (2009), Majid Shahriari (2010), dan Darioush Rezaeinejad (2011).
Serangan terus berlanjut dan tak hanya berbentuk fisik, tetapi juga digital. Pada 2010, virus Stuxnet menyerang sistem kendali di fasilitas pengayaan uranium Natanz dan menghancurkan ratusan sentrifugal, alat laboratorium yang berfungsi memisahkan partikel atau zat.
Ironisnya, virus ini mengubah garis perang secara diam-diam, melemahkan kemampuan nuklir Iran tanpa satu tembakan pun.
Aksi sabotase tersebut menjadi tonggak awal penggunaan senjata siber dalam konflik geopolitik modern. Teheran menuduh Israel berada di balik pembunuhan-pembunuhan tersebut, tapi tidak pernah ada pengakuan resmi.
Sementara itu, Israel terus menyatakan bahwa tindakan-tindakan tersebut adalah bagian dari ”doktrin pencegahan” terhadap program nuklir Iran.
Memasuki 2010, medan konflik Israel-Iran bergeser ke Suriah dan Irak, ketika milisi pro-Iran semakin aktif pascaperang saudara Suriah.
Israel mulai melancarkan serangan udara terhadap konvoi senjata, depot rudal, dan pangkalan pasukan IRGC (Garda Revolusi Iran atau Pasukan Quds) yang menyamar dalam struktur militer Suriah. Pada 2018, operasi ”House of Cards” menghantam lebih dari 50 target militer Iran di Suriah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/13/5422649c-be4c-4ace-8e32-fcdfa4ddb664_png.png)
Serangan-serangan itu tidak selalu diumumkan, tetapi konsisten dalam tujuannya: menghambat konsolidasi militer Iran di Levant.
Milisi yang didukung Iran, seperti Hizbullah di Lebanon dan kelompok Hashd al-Shaabi di Irak, juga menjadi sasaran. Israel mengklaim bertindak untuk mencegah terbentuknya ”koridor darat” dari Teheran hingga Mediterania.
Sementara itu, Iran terus mengembangkan kemampuan rudal balistik dan memperkuat proksi regionalnya.
Ketegangan meningkat tajam pada awal 2020 ketika Jenderal Qassem Soleimani, arsitek strategi regional Iran, dibunuh oleh serangan drone AS di Baghdad dengan dukungan intelijen Israel. Meskipun bukan serangan langsung Israel, dampaknya memperdalam jurang konflik kedua negara.
Pada November 2021, ilmuwan Mohsen Fakhrizadeh (tokoh penting di balik program nuklir Iran) tewas ditembak dalam operasi canggih di dekat Teheran.
Pembunuhan ini menandai titik balik, menunjukkan bahwa Israel mampu beroperasi dengan presisi bahkan di jantung ibu kota Iran. Rezim Teheran bersumpah membalas, tetapi tanggapannya masih terbatas pada retorika dan diplomasi.
Dalam periode ini, konflik di antara kedua negara lebih banyak terjadi melalui proksi, serangan udara terbatas, dan pembunuhan tokoh strategis.
Namun, semua ini adalah batu loncatan menuju fase konfrontasi langsung. Menurut para pengamat geopolitik, kontrol atas wilayah dan teknologi menjadi alasan utama perang terbuka yang akan datang.
Tahun lalu menjadi titik balik dramatis dalam sejarah konflik Israel-Iran. Pada April 2024, serangan udara Israel menghantam konsulat Iran di Damaskus, menewaskan sedikitnya 16 personel IRGC, termasuk dua jenderal senior.
Iran membalas dengan lebih dari 300 rudal dan drone yang diluncurkan ke wilayah Israel, menandai eskalasi konflik terbesar dalam sejarah hubungan kedua negara.
Sebagian besar serangan Iran berhasil ditangkis oleh sistem pertahanan udara Israel, tetapi kejadian ini membuka pintu bagi balasan langsung ke wilayah Iran.
Pada 19 April 2024, Israel meluncurkan serangan terbatas ke radar pertahanan udara di Isfahan, memukul sistem S-300 yang menjadi tulang punggung pertahanan Iran. Serangan ini menandai keterbukaan Israel dalam menyerang langsung ke dalam wilayah musuh bebuyutannya itu.
Pada September 2024, operasi ”Days of Repentance” diluncurkan. Jet-jet tempur Israel membombardir lebih dari 20 lokasi strategis di Iran, termasuk Natanz, Bandar Abbas, dan pangkalan militer Parchin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/13/85ef9117-fc29-470e-a3d8-b0f4bd751778_jpg.jpg)
Rudal-rudal bunker buster digunakan untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah, sekaligus mengirim sinyal bahwa program nuklir Iran tidak lagi aman di mana pun.
Namun, serangan paling besar dan mencolok datang pada 13 Juni 2025. Operasi ”Rising Lion” dilancarkan dengan melibatkan lebih dari 200 jet tempur, rudal presisi, drone, dan operasi siber simultan.
Fasilitas nuklir Natanz hancur total, radar pertahanan dilumpuhkan, dan sejumlah pemimpin militer Iran, seperti Hossein Salami dan Mohammad Bagheri, tewas. ”Kita berada di momen yang menentukan dalam sejarah Israel,” tegas Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menanggapi serangan Israel.
Balasan Iran datang dalam bentuk seratus lebih drone dan rudal yang diarahkan ke pangkalan militer Israel dan Tel Aviv, tetapi tak sebanding daya rusaknya.
Untuk pertama kalinya sejak Revolusi Islam, Iran menerima pukulan militer di dalam negeri yang mengganggu kestabilan strategisnya. Banyak pihak menilai bahwa perang terbuka antara Israel dan Iran tidak lagi fiksi, tetapi hanya soal waktu dan momentum politik.
Konflik terbuka antara Israel dan Iran telah mengguncang pasar energi global sejak awal 2024. Serangan balasan rudal dan serbuan jet ke wilayah strategis Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia secara signifikan.
Dalam waktu dua pekan, para pengamat memprediksi ada lonjakan harga minyak pada akhir Juni 2025 hingga setelahnya.
Peningkatan harga minyak langsung berdampak pada inflasi di negara-negara pengimpor besar, seperti India, Jepang, dan Eropa Barat.
Biaya logistik meningkat, diikuti oleh kenaikan harga pangan dan energi rumah tangga. Bank sentral di berbagai belahan dunia pun dipaksa menahan pelonggaran moneter untuk menjaga stabilitas harga.
Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz (antara Iran dan Oman), jalur pengapalan minyak yang dilintasi hampir 20 persen pasokan dunia.
Iran mengancam akan menutup jalur tersebut sebagai respons terhadap serangan Israel yang menghancurkan fasilitas nuklir dan pelabuhan utamanya.
Meskipun belum terjadi penutupan total, ketegangan di kawasan diperkirakan membuat tarif asuransi kapal melonjak hingga empat kali lipat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/9273a77189f4300a21b3b95b2bc7e84c-000_627M496.jpg)
Ketidakpastian juga menghantam pasar keuangan global. Indeks saham di Wall Street, Tokyo, dan Frankfurt sempat anjlok akibat kekhawatiran akan eskalasi militer yang lebih luas.
Para investor beralih ke aset aman, seperti emas dan obligasi AS, sementara mata uang negara berkembang terguncang oleh arus modal keluar.
Konflik ini memperberat beban ekonomi negara-negara berkembang, seperti Indonesia, yang masih rapuh pascapandemi. Biaya impor energi yang melonjak memperlebar defisit neraca transaksi berjalan.
Subsidi energi pun kembali membengkak, memaksa banyak pemerintah memangkas belanja publik untuk menutupi kekurangan fiskal.
Perusahaan multinasional mulai memperlihatkan sinyal penundaan ekspansi di Timur Tengah dan Asia Selatan karena ketidakpastian geopolitik.
Dampak luasnya turut terasa dalam krisis kepercayaan terhadap tatanan ekonomi global yang stabil. Ketergantungan dunia pada energi fosil dari kawasan rawan konflik membuat sistem ekonomi global terlihat rapuh di tengah dinamika militer.
Serangan yang semula dibungkus sebagai perang rahasia kini telah berubah menjadi serangkaian pukulan terbuka antarnegara.
Israel, yang semula bergerak dalam bayang-bayang, kini menunjukkan kesiapan menghadapi Iran di medan perang langsung. Iran pun, dengan segala retorikanya, terlihat kesulitan memberi balasan setimpal tanpa membahayakan stabilitas internal.
Konflik ini tidak hanya menyangkut dua negara, tetapi juga merembet ke kawasan regional dan bahkan global. AS, Rusia, dan China memiliki kepentingan yang saling bertabrakan di kawasan ini, menjadikan setiap serangan berpotensi menjadi krisis besar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/13/d6818c60-cedd-4453-8d5f-1ef760275127_jpg.jpg)
Para pengamat menilai, kesalahan kalkulasi sekecil apa pun dapat memicu perang skala penuh.
Konflik Israel-Iran bukan hanya tentang nuklir dan wilayah, melainkan juga tentang bagaimana ekonomi dunia terhubung rapuh oleh jalur pasokan, sentimen pasar, dan ketergantungan energi.
Perang di satu titik dunia kini bisa menyebabkan gejolak harga di pasar ritel ribuan kilometer jauhnya. Dunia tak bisa lagi menganggap konflik regional sebagai urusan lokal semata.
Tentu saja, diplomasi bukan tak mungkin, tetapi kepercayaan antara Israel dan Iran telah lama musnah. Kedua belah pihak menganggap eksistensi satu sama lain sebagai ancaman langsung.
Selama itu terjadi, senjatalah, dan bukan sekadar kata-kata, yang akan berbicara. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Yohanes Mega HendartoEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul