Dari Como hingga Tranmere: Jejak Taipan Indonesia di Sepak Bola Eropa

Kiprah anak bangsa kini telah meluas hingga masuk ke dalam ruang-ruang pengambilan keputusan industri sepak bola Eropa.

11 Mei 2025 08:26 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pengusaha Indonesia menyuntikkan modalnya di klub-klub sepak bola Eropa. Dari Como 1907 yang bertahan di papan tengah pada musim perdananya di Serie A Italia, hingga Tranmere Rovers yang berjuang untuk bertahan di kasta keempat Liga Inggris.

Melalui akuisisi dan investasi strategis, para konglomerat asal Indonesia tak cuma memperkuat portofolio bisnis internasional, tetapi juga berkontribusi pada perkembangan klub-klub yang mereka miliki.

Kehadiran mereka bahkan tidak hanya memperkuat posisi finansial klub-klub tersebut, tetapi juga menjadi pembuktian anak bangsa mampu berkiprah. Selain di lapangan hijau kancah sepak bola Eropa, juga berkiprah di ruang-ruang pengambilan keputusan sepak bola dunia.

Como's Patrick Cutrone kisses the jersey as he celebrates scoring during a Serie A soccer match between Como and Verona at the Giuseppe Sinigaglia stadium in Como, northern Italy, Sunday, Sept. 29, 2024.(Antonio Saia/LaPresse via AP)

Revitalisasi Como oleh Djarum

Lima tahun lalu, Como 1907 hanyalah catatan nostalgia bagi para pencinta sepak bola Italia. Klub yang pernah mencicipi kerasnya Serie A itu lebih sering menjadi berita karena kesulitan finansial ketimbang prestasi di lapangan. Namun, perlahan-lahan, wajah Como mulai bersolek. Di balik perubahan itu, ada tangan dingin dua bersaudara asal Jawa Tengah, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono.

Sejak terakhir kali berlaga di Serie A pada 2003, jalan panjang klub yang bermarkas di kota Como, Lombardia, ini penuh liku. Setelah terdegradasi ke Serie B, situasi keuangan yang memburuk membuat klub terjerembap lebih dalam. Pada 2017, Como resmi dinyatakan bangkrut dan turun ke liga amatir, Serie D.

”Klub menghadapi masa sulit ketika masalah keuangan menyebabkan degradasi ke Serie D,” tulis manajemen Como dalam situs resmi mereka.

Namun, titik balik hadir pada 2019. Lewat entitas bisnis SENT Entertainment Ltd yang berbasis di London, Grup Djarum mengambil alih kepemilikan klub tersebut.

Tidak banyak riuh pemberitaan saat itu. Namun, apa yang dilakukan SENT setelah akuisisi menunjukkan keseriusan. Dimulai dari membenahi fondasi keuangan, membangun kemitraan dengan otoritas kota dan mitra lokal, hingga investasi pada infrastruktur dan pengembangan tim utama.

Langkah ini bukan tanpa risiko. Como saat itu masih berada di luar radar kompetisi elite Italia. Namun, bagi Hartono bersaudara, keberhasilan bukanlah soal instan. Dengan latar belakang kuat sebagai pelaku industri dan pemilik portofolio luas—dari perbankan hingga teknologi dan media—investor menanamkan prinsip kedepankan konsistensi, bukan kecepatan.

Nama Dennis Wise, mantan pemain timnas Inggris dan legenda Chelsea, ditunjuk sebagai CEO. Ia bergabung dengan Michael Gandler, yang sebelumnya pernah menjabat di Inter Milan pada era Erick Thohir.

Di tangan Wise, tim perlahan bangkit. Promosi ke Serie B tercapai. Pada musim ini, tonggak sejarah baru terukir dengan kembalinya Como ke Serie A.

Tak ada informasi resmi berapa dana yang digelontorkan Grup Djarum. Namun, laporan Calcio Finanza pada 2019 menyebutkan adanya penambahan modal sebesar 8 juta pound sterling sebagai bagian dari restrukturisasi awal. Sejak saat itu, investasi terus bergulir, tak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk manajemen modern dan visi jangka panjang.

Rekam jejak ini membawa nama Hartono bersaudara masuk dalam daftar elite pemilik klub sepak bola dunia. Forbes mencatat, dengan kekayaan masing-masing sebesar 23,8 miliar dollar AS, mereka menjadi pemilik klub sepak bola terkaya di Italia—melampaui nama-nama besar seperti Rocco Commisso (Fiorentina), keluarga Saputo (Bologna), dan John Elkann (Juventus).

Bagi Como, transformasi yang terjadi selama lima tahun terakhir adalah bukti bahwa dengan fondasi yang kokoh dan visi jangka panjang, kejayaan lama bisa dibangkitkan kembali. Di atas tribune stadion mereka yang menghadap indah ke Danau Como, para tifosi kini boleh berharap bahwa mimpi mereka meraih scudetto tidak lagi sekadar angan.

Gelandang asal Indonesia Marselino Ferdinan bersiap memasuki lapangan untuk melakukan debutnya bersama Oxford United di kompetisi Champion Division atau kasta kedua Liga Inggris.

Tangan dingin di Oxford United

Oxford United adalah tim ”yoyo” yang naik-turun di kasta sepak bola Inggris, tanpa pernah sekali pun mencicipi kerasnya Premier League. Pada musim 2024/2025, tim ini mampu promosi ke divisi Championship, kasta kedua setelah Premier League.

Di balik kebangkitan itu, dua nama Indonesia tercatat menjadi bagian dari klub, yakni pengusaha sekaligus Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie.

Keduanya resmi menjadi pemilik mayoritas Oxford United sejak 27 September 2022. Melalui kepemilikan 51 persen saham klub, mereka tak sekadar berinvestasi, tetapi membawa semangat baru untuk klub yang bermarkas di Stadion Kassam, Oxfordshire, itu.

Selain kedua nama besar asal Indonesia, klub ini juga dimiliki bersama pengusaha Thailand, Sumrith Thanakarnjanasuth, dan taipan Vietnam, Horst Geicke. Masuknya pemilik asal Asia Tenggara ke dalam struktur Oxford menjadi penanda arah baru modernisasi, konsolidasi, dan pembenahan tim secara bertahap.

Tak heran jika hanya dua musim berselang, klub yang pernah berkubang di League One itu kini bersiap bersaing melawan tim-tim seperti Leeds United, Sunderland, hingga Watford.

Salah satu wajah muda dari Asia Tenggara pun ikut menjadi bagian dari cerita ini: Marselino Ferdinan. Gelandang tim nasional Indonesia itu masuk dalam skuad utama Oxford musim ini. Bagi Marselino, ini adalah langkah besar; bagi Oxford, kehadiran pemain muda berbakat dari Asia adalah bagian dari strategi ekspansi identitas global klub.

Pada pertengahan musim 2024/2025, lini depan Oxford juga mendapatkan tenaga ekstra setelah mendatangkan striker asal FC Utrecht berkewarganegaraan Indonesia, Ole Romeny, dengan mahar 2 juta euro. Nilai transfer ini bahkan memecahkan rekor transfer tim.

Hingga pekan ke-35 musim ini, Oxford bertengger di papan tengah klasemen Championship. Mereka mencatat sejumlah kemenangan mengejutkan, termasuk saat menumbangkan Norwich City dan menahan imbang Southampton.

Di luar lapangan, atmosfer Stadion Kassam pun berubah. Antusiasme meningkat, dan kampanye pemasaran klub mulai menyentuh komunitas Asia di Inggris.

Nama Erick Thohir bukan baru di dunia sepak bola Eropa. Pada 2013, ia bersama Rosan Roeslani dan Handy Soetodjo mengakuisisi Inter Milan dari Massimo Moratti. Ia bahkan sempat menjabat sebagai presiden klub raksasa Inter Milan sebelum melepas kepemilikan pada 2019.

Kini, di tanah Inggris, Erick membawa pengalaman yang sama. Bersama Anindya Bakrie, yang aktif di sektor energi dan media, mereka mencoba membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya olahraga, melainkan juga diplomasi budaya dan ekonomi.

Ekspresi penyerang Timnas Indonesia, Ragnar Oratmangoen, dan pemilik FCV Dender, Sihar Sitorus, dalam wawancara eksklusif bersama KOMPAS.com dan BOLASPORT.com di Jakarta, Sabtu (7/9/2024).

Investor RI di FCV Dender, Belgia

Di kota kecil yang tenang di Flanders Timur, sebuah kisah besar sedang ditulis oleh FCV Dender. Klub yang dahulu berkutat di divisi ketiga Liga Belgia ini kini bersaing di Belgian Pro League, kasta tertinggi sepak bola negeri itu. Di balik transformasi ini terdapat nama Sihar Sitorus, pengusaha dan politisi asal Indonesia, yang mengakuisisi klub pada 2018.

FCV Dender, atau Football Club Verbroedering Dender Eendracht Hekelgem, berdiri pada 1935. Setelah mengalami pasang surut, termasuk degradasi ke divisi ketiga, klub ini mulai menunjukkan kebangkitan sejak diambil alih oleh Sihar. Dengan visi yang jelas dan investasi yang tepat, Dender berhasil promosi ke Belgian Pro League untuk musim 2024/2025, mengakhiri penantian panjang selama 16 tahun. 

Musim ini, Dender tampil mengejutkan. Dalam enam pekan pertama, mereka mencatat tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan, menempatkan mereka di papan atas klasemen sementara. Kemenangan atas tim-tim kuat seperti KAA Gent dan KV Kortrijk menunjukkan bahwa Dender bukan sekadar tim promosi biasa.

Salah satu langkah strategis Dender adalah merekrut Ragnar Oratmangoen, pemain timnas Indonesia berusia 26 tahun. Ragnar, yang sebelumnya bermain di beberapa klub Belanda, bergabung dengan Dender pada Agustus 2024 dengan kontrak hingga 2026. Kehadirannya diharapkan menambah daya gedor tim dan membawa pengalaman internasional. 

Bagi Ragnar, bermain di Belgia adalah tantangan baru. ”Saya sangat ingin bermain di luar negeri. Kesempatan di Liga Belgia adalah peluang bagus untuk menunjukkan diri saya di liga yang berbeda,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan Kompas.com.

Sihar Sitorus bukan nama asing di dunia sepak bola Indonesia. Selain pernah menjabat di PSSI, ia juga memiliki beberapa klub di Tanah Air, seperti Medan United FC dan Pro Duta FC. Kepemilikannya atas FCV Dender menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan sepak bola, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kancah internasional. 

Dengan kombinasi manajemen yang solid, pemain berbakat, dan dukungan dari pemilik yang visioner, FCV Dender kini menjadi simbol kolaborasi antara Indonesia dan Belgia dalam dunia sepak bola. Perjalanan mereka masih panjang, tapi langkah awal yang menjanjikan ini memberikan harapan besar bagi masa depan klub dan sepak bola Indonesia di kancah global

Lecce’s Fabio Lucioni (5) watches the ball go in after an own-goal during a serie A soccer match between Lecce and Parma, at the Via Del Mare stadium in Lecce, Italy, Sunday, Aug. 2, 2020. (Donato Fasano/Lapresse via AP)

Konglomerasi media asal Indonesia di Lecce

Lecce, kota kecil di jantung Puglia, Italia selatan, mendadak lebih akrab di telinga publik Indonesia. Bukan karena mahakarya arsitektur barok yang memukau, melainkan karena sepak bolanya. Tepatnya, karena klub kebanggaan kota itu, Unione Sportiva (US) Lecce, kini punya sedikit warna Nusantara.

Adalah Alvin Sariaatmadja, Direktur Utama Emtek Group, yang menjadi sosok di balik keterkaitan itu. Pada 2022, Alvin resmi menjadi pemegang saham minoritas di US Lecce, setelah membeli 10 persen kepemilikan klub. Keterlibatannya diumumkan bersamaan dengan masuknya investor asal Swiss-Italia, Pascal Picci, mantan Presiden Sauber—tim balap Formula 1 yang kini dikenal sebagai Alfa Romeo Racing.

”Nama-nama baru tersebut adalah Pascal Picci dan Alvin Sariaatmadja, Direktur Utama Emtek, perusahaan media Indonesia yang juga berinvestasi di bidang teknologi dan layanan kesehatan,” tulis media lokal Lecce Prima, mengabarkan pergantian struktur kepemilikan klub.

Langkah Alvin masuk ke dunia sepak bola Italia bukan sekadar investasi. Ia menempatkan Emtek dalam lanskap bisnis olahraga global yang terus berkembang. Emtek sebelumnya telah berkecimpung dalam hak siar olahraga dan kini memperluas kiprah ke klub yang berdiri sejak 1908 itu.

Musim ini, US Lecce kembali harus berjuang keras di papan bawah Serie A. Hingga pekan ke-35 musim 2024/2025, tim berjuluk ”I Lupi Salentini” itu menempati peringkat ke-18 dari 20 peserta. Zona merah degradasi kembali menghantui, hanya terpaut tipis dari posisi aman yang ditempati Hellas Verona dan Empoli.

Di sisi lain, Como 1907, klub milik Hartono bersaudara asal Indonesia, berada lebih nyaman di posisi ke-13. Kontras ini semakin mencuri perhatian publik Tanah Air yang mulai mengikuti kiprah para pengusaha Indonesia di kancah sepak bola Eropa.

Meski hasil musim ini belum mengilap, Lecce punya sejarah yang tak bisa diremehkan. Sejak berganti nama menjadi US Lecce pada 1927, klub ini dikenal sebagai salah satu tim ”pengganggu” raksasa Serie A. Kandang mereka, Stadion Via del Mare, kerap menjadi ladang kerikil bagi tim-tim besar. Di era 2000-an, nama-nama seperti Mirko Vucinic, Valeri Bojinov, dan kiper Antonio Chimenti pernah menjadi andalan.

Namun, perjalanan Lecce memang tak selalu mulus. Mereka kerap turun-naik kasta antara Serie A dan B. Model finansial yang berhati-hati membuat mereka sulit bersaing secara modal dengan klub-klub mapan seperti Inter Milan, Juventus, atau AS Roma. Meski demikian, keberadaan investor seperti Alvin Sariaatmadja memberi secercah harapan akan arah baru yang lebih modern dan profesional.

Masuknya Alvin ke Lecce juga mencerminkan tren baru di mana pelaku industri media dan teknologi mulai menanamkan modalnya di dunia olahraga. Di Eropa, fenomena ini sudah lumrah: dari Amazon yang menyentuh hak siar Premier League, hingga Netflix yang memproduksi dokumenter klub-klub elite. Di Italia, Emtek dan Alvin menjadi salah satu pelopor dari Asia Tenggara.

Tak sedikit yang berharap kiprah Alvin bukan hanya simbolis. Jika Lecce mampu selamat dari degradasi dan memperbaiki sistem pengelolaan tim, klub ini bisa menjadi contoh bagaimana investor asing bisa memberi dampak positif bagi ekosistem sepak bola Italia.

Chairman Tranmere Rovers Mark Palios (tengah) berfoto dengan perwakilan Santini Group, Lukito Wanandi (kiri) dan Wandi Wanandi (kanan). Santini Group merupakan perusahaan Indonesia yang sejak September 2019 menjadi investor Tranmere Rovers.

Jejak investasi RI di kasta ke-4 Liga Inggris

Di tengah hiruk-pikuk sepak bola Inggris, Tranmere Rovers FC, klub berusia lebih dari satu abad yang bermarkas di Birkenhead, Merseyside, tengah berjuang keras untuk mempertahankan eksistensinya di League Two, kasta keempat dalam sistem liga sepak bola Inggris.

Musim 2024/2025 menjadi tantangan berat bagi klub berjuluk ”The Rovers” ini. Dengan posisi saat ini berada di peringkat ke-22 dari 24 tim, mereka hanya mengumpulkan 40 poin dari 39 pertandingan yang telah dijalani.

Di balik perjuangan di lapangan terdapat dukungan dari investor asal Indonesia, Santini Group, yang melalui entitas Walutje Pte Ltd, memiliki 10 persen saham Tranmere Rovers.

Santini Group, yang didirikan Sofjan Wanandi dan kini dipimpin oleh generasi kedua keluarga Wanandi, merupakan konglomerasi bisnis yang beroperasi di berbagai sektor, termasuk otomotif, properti, dan perhotelan.

Investasi mereka di Tranmere Rovers tidak sebatas kepemilikan saham, tetapi juga mencakup pengembangan infrastruktur klub, seperti peningkatan fasilitas akademi dan konektivitas stadion, serta upaya memperluas jangkauan pasar klub ke Asia. Dengan kapasitas Stadion Prenton Park yang mencapai 16.567 penonton, Tranmere Rovers memiliki basis pendukung yang loyal.

Namun, performa tim musim ini menghadapi tantangan besar, dengan catatan 9 kemenangan, 13 hasil imbang, dan 17 kekalahan, serta selisih gol -25. Manajemen klub, yang dipimpin oleh Mark dan Nicola Palios, terus berupaya mencari formula terbaik untuk mengangkat performa tim dan menghindari degradasi ke National League.

Kehadiran Santini Group sebagai investor asing di Tranmere Rovers mencerminkan tren globalisasi dalam kepemilikan klub sepak bola, di mana investor dari beberapa negara melihat potensi bisnis dan pengaruh sosial dari klub-klub sepak bola di Inggris. Bagi Santini Group, investasi ini juga menjadi bagian dari strategi ekspansi global dan penguatan merek di kancah internasional.

Meski tantangan di lapangan masih besar, dukungan dari investor seperti Santini Group memberikan harapan baru bagi Tranmere Rovers untuk bangkit dan kembali bersaing di level yang lebih tinggi dalam sistem liga sepak bola Inggris.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji