Jawa Timur sudah lama dikenal sebagai lumbung pangan. Dari daerah ini, bahan pokok banyak dikirim ke sejumlah wilayah di Nusantara.
12 Okt 2023 06:26 WIB · Nusantara
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/09/8b05980e-4769-47fa-a934-b3fa62777972_jpg.jpg)
Jatim tidak hanya memasok beras, tetapi juga telur, daging ayam dan sapi, susu, serta beragam bahan pokok lainnya ke penjuru Nusantara. Sejarah mencatat produksi pangan di provinsi yang genap berusia 78 tahun pada 12 Oktober 2023 itu telah berkembang sejak sebelum era Majapahit.
Prasasti Kamalagyan (959 saka atau 1037 Masehi) yang berada di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo, menceritakan kebijakan tata kelola air pada masa Raja Airlangga atau Erlangga, pemimpin Kahuripan, sebelum Majapahit lahir.
Pengelolaan air di Sungai Brantas pada masa itu dinilai penting untuk mencegah banjir yang menyebabkan sawah-sawah menjadi hilang. Pengelolaan air itu juga diperlukan untuk menjaga kelangsungan usaha pertanian dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan penduduk di Kerajaan itu.
Bagi Jatim, Brantas punya peran vital untuk pengairan di bidang pertanian. Sebab, sungai yang berhulu di kaki Gunung Arjuno, Batu, ini melintasi sebagian besar wilayah Jatim, seperti Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Surabaya. Anak-anak sungainya menyebar lebih luas lagi.
Hingga saat ini, kawasan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas tumbuh menjadi sentra pertanian meskipun laju industrialisasi mulai mengancam eksistensi petani.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/09/3044c5ba-dcf2-42d6-bf7c-9dbb0525808f_jpg.jpg)
Rozi (45), salah satu petani di Sidoarjo, Jumat (6/10/2023), mengatakan, setiap hektar sawah mampu memproduksi 5-6 ton gabah kering panen (GKP) sehingga membukukan pendapatan Rp 30 juta-Rp 35 juta sekali panen.
”Kalau setahun panen tiga kali, saya bisa dapat Rp 90 juta atau sekitar Rp 7,5 juta sebulan. Penghasilan bersih hampir Rp 5 juta sebulan,” ujar petani di Desa Sentul, Kecamatan Jabon, itu.
Dengan penghasilan yang nilainya setara upah minimum kabupaten (UMK) di daerah ring satu Jatim, rata-rata Rp 4,5 juta per bulan, Rozi mampu menghidupi keluarganya. Saat harga gabah tinggi seperti sekarang ini, sekitar Rp 6.000 per kilogram GKP, dia pun kian bersemangat menjaga tanamannya meski kekeringan mengancam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/09/bf75082e-a74e-48cd-a7cb-04d28b14a6fd_jpg.jpg)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Sidoarjo Eni Rustianingsih mengatakan, luas sawah di wilayahnya 23.000 hektar, sebanyak 15.000 hektar di antaranya ditanami padi pada kemarau ini. Sidoarjo berkomitmen membangun sektor pertanian meski daerah penyangga Surabaya ini tumbuh pesat sebagai kota industri.
Upayanya, antara lain, meningkatkan produktivitas hasil panen dengan menyosialisasikan pemakaian benih unggul kepada petani, memperbaiki jaringan irigasi, dan mempercepat implementasi mekanisasi pertanian untuk menyiasati biaya tinggi.
Baca juga: Kenaikan Ongkos Produksi Lambungkan Harga Beras di Jawa Timur
Selain itu, mendorong petani berinovasi mengembangkan pertanian berkelanjutan, contohnya mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia.
Selain Sidoarjo, hampir seluruh kabupaten dan kota di Jatim juga merupakan produsen padi. Namun, yang terbesar, antara lain, Banyuwangi, Bojonegoro, Ngawi, Tuban, Lamongan, Madiun, Nganjuk, Jombang, dan Mojokerto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/04/07f0a104-11ab-42b0-9e77-81ee1d9c915b_jpg.jpg)
Salah satu petani di Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Suryadi (66), mengatakan, ketika petani di daerah lain kini menghadapi kendala air irigasi akibat kemarau (El Nino), dia dan petani lain di wilayahnya tetap bisa menikmati hasil panen seperti tahun-tahun sebelumnya.
Irigasi di Olehsari bagus sehingga bisa tanam tiga kali dalam setahun. ”Padi yang saat ini tumbuh merupakan hasil tanam bulan Juli-Agustus sekarang hendak panen. Habis ini, setelah panen, akan tanam padi lagi. Tak ada pengaruh cuaca, hanya sedikit gangguan burung. Musti dijaga,” ujarnya.
Suryadi memiliki lahan lebih dari 2.000 meter persegi dengan produksi sekitar delapan karung (4 kuintal) GKP. Saat ini harga gabah di daerah setempat sedang bagus, mencapai Rp 6.700 per kg dari biasanya di kisaran Rp 5.000 per kg.
Menurut Suryadi, selama kemarau kondisi air cukup meski harus bergilir dengan petani di daerah lain. Biasanya petani di blok setempat menanam padi semua. Namun, tahun ini ada yang menanam jagung dengan alasan ongkos produksi lebih murah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/06/5f753b28-dec9-4821-9b0a-3e0f27e8f78f_jpg.jpg)
Badan Pusat Statistik (BPS) mendata produksi padi di Jatim 2022 sebesar 9,53 juta ton gabah kering giling (GKG). Produksi padi tersebut turun dibandingkan tahun 2021 yang mencapai 9,789 juta ton GKG dan pada tahun 2020 yang mencapai 9,94 juta ton GKG.
Namun, penurunan produksi itu tak memengaruhi posisi Jatim sebagai lumbung padi tertinggi nasional selama lima tahun berturut-turut belakangan ini.
Keberhasilan menjaga keberlangsungan lumbung pangan berbuah penghargaan Adhikarya Nararya Pembangunan Pertanian dari Kementerian Pertanian yang diserahkan oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada 14 Agustus 2023 lalu.
Selain padi, Jawa Timur juga produsen ternak dan hasil ternak. Adalah Blitar yang menjadi penghasil utama telur ayam. Peternak di kabupaten seluas 1.588 kilometer persegi itu memproduksi 1.000 ton telur per hari. Sejauh ini 65-70 persen telur dari Blitar diarahkan memenuhi kebutuhan pasar di Jabodetabek. Sisanya untuk Jatim dan daerah lain.
Berdasarkan data BPS pada 2021, populasi ayam petelur di Blitar mencapai 20 juta ekor. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding daerah lain. Sebagai pembanding, kabupaten tetangga, Kediri dan Tulungagung, populasi ayam petelur masing-masing hanya di angka 5 juta ekor.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/09/81ae1ee3-2d2e-4e91-af80-20073453ffeb_jpg.jpg)
Yesi Yuni Astuti, salah satu peternak yang juga Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, mengatakan, populasi ternak yang sempat turun beberapa tahun lalu akibat peternak mengosongkan kandang (dampak dari harga telur murah) kini berangsur pulih meski belum normal seperti sedia kala.
Yuni pun mengakui fluktuasi harga telur dan naiknya harga pakan masih menjadi persoalan yang dihadapi peternak. Setelah sempat mencapai Rp 29.000 per kg pada Mei lalu, kini harga telur di tingkat peternak turun di angka Rp 21.000-Rp 22.000 per kg.
Harga ini pun masih di bawah harga pokok produksi yang mencapai Rp 24.000-Rp 26.000 per kg. ”Harga pakan, seperti jagung, naik. Kemarin saya beli Rp 6.200 per kg, bahkan ada yang beli Rp 6.500 per kg,” ujarnya.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, selain beras, provinsinya memang menjadi pemasok bahan pangan pokok lainnya, seperti telur, daging ayam, daging sapi, dan susu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/09/94c7f448-0890-4b66-a1ae-46456799f3aa_jpg.jpg)
Baca juga: Antisipasi Penyebaran Antraksdi Lumbung Ternak Jatim
Jatim merupakan provinsi dengan populasi sapi potong tertinggi di Nusantara. Jumlah ternaknya mencapai 5.070 juta ekor. Selisih populasi dengan provinsi lain cukup jauh. Bahkan, provinsi dengan populasi tertinggi kedua hanya memiliki 1,9 juta ekor sapi.
”Jadi sangat tinggi populasi sapi potong kita termasuk sapi perah. Itu artinya kita sudah harus bersiap menjadi semacam kakak asuh bagi provinsi lain, terutama Indonesia timur,” ujar Khofifah.
Jatim berfokus pada wilayah Indonesia timur karena 27 dari 32 rute tol laut berasal dari Tanjung Perak, Surabaya. Artinya, transportasi laut dari Jatim menuju Indonesia timur akan lebih efektif, lebih cepat, dan lebih mudah.
”Maka, saya sering menyampaikan tidak cukup jika kita hanya menghitung kecukupan logistik Jatim. Kita juga harus bersama-sama menghitung kebutuhan logistik 20 provinsi di Indonesia timur. Sering saya sampaikan itu,” ujar Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama itu.
Itu artinya kita sudah harus bersiap menjadi semacam kakak asuh bagi provinsi lain, terutama Indonesia timur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/04/3f4a2752-a354-4f8a-b592-164ed379e4b7_jpg.jpg)
Meski mendapatkan predikat lumbung pangan, Jatim juga punya tantangan. Salah satunya adalah alih fungsi lahan yang mencapai 1.100 hektar per tahun. Selain itu, harga beras daging sapi dan telur di provinsi ini juga masih tinggi. Di sisi lain, peternak sapi dan ayam petelur juga perlu perlindungan karena jika merugi, mereka tak bisa berproduksi.
Gubernur Jatim telah menerbitkan peraturan Nomor 31 Tahun 2020 tentang Masterplan Kawasan Pertanian Provinsi Jawa Timur Berbasis Korporasi Petani Tahun 2020-2024. Pemprov juga bergerak lewat penyuluhan, pemakaian bibit unggul, hingga pengendalian inflasi agar produktivitas pangan tinggi tetapi tetap terjangkau warga.
Jatim dengan perannya sebagai lumbung pangan memang penting untuk dijaga. Jangan sampai lumbung pangan ini goyah karena jika goyah sedikit saja, ikut goyah pula lumbung se-Nusantara.
Penulis:
DEFRI WERDIONO, RUNIK SRI ASTUTIEditor:
SIWI YUNITA CAHYANINGRUM