Skuadron Udara 21 bertugas menyiapkan dan mengoperasikan Super Tucano di setiap operasi udara—perlawanan, khusus, intelijen—dan termasuk pengintaian.
26 Feb 2025 09:45 WIB · Politik & Hukum
Pesawat OV-10 Bronco menjadi ikon Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur. Tugas sebagai pesawat anti-gerilya andalan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara atau TNI AU selama tiga dekade tersebut kini digantikan pesawat Super Tucano.
Di sudut Lanud Abdulrachman Saleh, OV-10 Bronco dipajang sebagai salah satu monumen. Pesawat berjuluk ”Kampret” itu seolah menyambut setiap orang yang datang. Ya, Lanud Abdulrachman Saleh telah menjadi rumah hingga akhir masa tugasnya.
Menilik ke belakang, pesawat OV-10 Bronco dibuat di North American Rockwell, pabrikan asal Amerika Serikat, dengan dibekali dua mesin Garrett T76-G turboprop. Hal yang unik, ekor pesawat ini menggunakan desain twin tail boom, yakni ekor kembar. Desain ini memberikan kemampuan pesawat untuk manuver terbang rendah dengan kecepatan lambat.
Antara 1976 dan 1977, Indonesia membeli 16 pesawat OV-10F dari Amerika Serikat. Pesawat buatan tahun 1960-an itu dimaksudkan untuk menggantikan pesawat serang ringan B-26 Invader dan P-51 Mustang yang sudah uzur.
Jadi, yang dibutuhkan memang low speed sehingga pada saat kita melaksanakan operasi atau penyerangan terhadap suatu sasaran, tidak membutuhkan waktu lama lagi untuk kembali lagi ke situ.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/03/1f8ea561-1a6f-4997-b57b-6dcf3dde710b_jpg.jpg)
Ketika OV-10 Bronco mulai datang, pada saat itu Indonesia tengah menjalankan operasi militer di Timor Timur, yang kini adalah negara Timor Leste. Oleh karena itu, OV-10 Bronco langsung ditugaskan ke Timor Timur. Pada waktu itulah OV-10 Bronco mendapatkan nama sandi ”Kampret”.
Pada 2004, OV-10 menjadi alutsista utama yang dioperasikan Skuadron Udara 21. Oleh karena terjadi kecelakaan, ”Kampret” mulai dinonaktifkan pada 2007. Hingga akhir hayatnya, pesawat tempur ringan buatan AS ini bermukim di Skuadron Udara 21 di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.
Sejumlah negara pengguna OV-10 Bronco adalah AS, Jerman, Maroko, Kolombia, Republik Dominika, Thailand, Filipina, dan Venezuela. Di kawasan Asia Tenggara, Angkatan Udara Filipina masih mengoperasikan pesawat ini.
Untuk menggantikan tugas OV-10 Bronco ”Kampret”, TNI AU memilih pesawat EMB-314 Super Tucano buatan pabrikan pesawat terbang asal Brasil, Embraer. Pesawat itu juga memiliki keunggulan sebagai pesawat anti-gerilya. Dikutip dari laman TNI AU, Indonesia mengoperasikan 16 EMB-314 Super Tucano sebagai pesawat tempur taktis sehingga menggunakan kode ekor TT.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/289f65992485b5629e6f1d0d4eaf5377-IMG_20250219_112627.jpg)
Pesawat Super Tucano didatangkan ke Tanah Air secara bertahap mulai tahun 2012. Pesawat berpenggerak turbo propeller itu sudah digunakan Brasil sejak tahun 1992 dan kini digunakan oleh lebih dari 15 negara di dunia.
Super Tucano diklaim sebagai salah satu pesawat dengan biaya operasional rendah dan mampu lepas landas dari landasan non-aspal yang pendek. Teknologi yang kompatibel dengan kacamata penglihatan malam untuk pilot serta sistem avionik oleh Elbit System disematkan di pesawat ini. Sistem ini terdiri dari Head-Up Display (HUD) yang dikombinasikan dengan sistem komputer tempur dan sistem navigasi canggih serta dua layar multifungsi.
Komandan Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Letnan Kolonel (Letkol) Pnb Sufriadi Azis Mulyadi mengatakan, pesawat Super Tucano memang dirancang dengan mesin baling-baling. Karena itu, sebagai pesawat anti-gerilya, pesawat ini memiliki kemampuan untuk terbang dengan kecepatan rendah. Pesawat tersebut juga mampu bermanuver lincah di wilayah pegunungan ataupun di ketinggian rendah.
”Jadi, yang dibutuhkan memang low speed sehingga pada saat kita melaksanakan operasi atau penyerangan terhadap suatu sasaran, tidak membutuhkan waktu lama lagi untuk kembali lagi ke situ,” terang Sufriadi, Jumat (21/2/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/22/0ae4a385de8b1ffdd2e2dc6e15afebb0-WhatsApp_Image_2025_02_21_at_20.52.06.jpeg)
Skuadron Udara 21, kata Sufriadi, bertugas untuk menyiapkan dan mengoperasikan Super Tucano agar siap digunakan dalam setiap operasi udara—seperti operasi udara perlawanan, operasi udara khusus, operasi udara intelijen—termasuk pengintaian. Beberapa operasi yang dilakukan Skuadron Udara 21 adalah operasi pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, operasi Ambalat, serta patroli udara di kawasan Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, Super Tucano juga ditugaskan untuk kegiatan patroli pengamanan udara di wilayah Provinsi Maluku. Patroli pengamanan udara itu sangat penting karena sebagian besar kondisi wilayah di sana berupa perairan yang luas. Sebelumnya, Super Tucano diturunkan untuk mendukung latihan Cakra D-23 Komandan Sektor III di Lanud Manuhua, Biak.
”Tahun kemarin kita melaksanakan latihan Super Garuda Shield yang dilaksanakan di Banyuwangi. Itu pertama kali kita melaksanakan latihan bersama,” kata Sufriadi.
Pesawat Super Tucano yang dioperasikan Skuadron Udara 21 memiliki gambar berupa gigi hiu berwarna merah di moncong pesawatnya. Menurut Sufriadi, tidak ada makna khusus dari gigi hiu yang digambar di moncong pesawat tersebut. Pemberian gambar gigi hiu itu meneruskan tradisi dari pesawat P-51 Mustang yang juga diberi gambar serupa.
”Nah, sebutan Cocor Merah itu karena memang ada beberapa yang menjuluki Cocor Merah. Dulu Mustang itu legendanya memang pesawat Cocor Merah,” ujar Sufriadi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/03/3daf912a-b3a4-4cf2-89d2-21b0708b0675_jpg.jpg)
Sebagai pesawat tempur taktis, kata Sufriadi, Super Tucano tidak didesain untuk pertarungan udara dengan pesawat tempur lain. Meski demikian, pesawat itu dibekali persenjataan untuk melakukan pertahanan diri, termasuk menembakkan misil.
Bagi Komandan Skuadron Teknik 022 Lanud Abdulrachman Saleh Letkol Dzulkifli Effendi, salah satu kekhasan yang membedakan OV-10 Bronco dengan EMB-314 Super Tucano adalah suara mesinnya. Untuk OV-10 Bronco, suara mesinnya nyaring dan sangat khas. Dari kejauhan, dia bisa tahu kalau itu adalah suara OV-10 Bronco.
Sementara suara mesin EMB-314 Super Tucano halus. Bahkan, kata Dzulkifli, dia kadang tidak tahu pesawat itu sudah mendarat sepulang dari suatu misi. ”Super Tucano itu asyik. Suaranya halus banget. Pas landing, kita kadang tidak tahu,” ujarnya.
Dari kisah ”Kampret” dan ”Cocor Merah”, ada sekelumit sejarah bangsa yang terekam. Bagaimana selanjutnya?
Penulis:
Norbertus Arya Dwiangga MartiarEditor:
Cyprianus Anto Saptowalyono