Dari Pengasingan, ”La Prensa” Terus Bersuara

Penghargaan Guillermo Cano diberikan pada La Prensa, surat kabar Nikaragua, di hari Kebebasan Pers Sedunia. Dari pengasingan, La Prensa teguh menjaga marwah media.

03 Mei 2025 10:26 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

Satu tahun lalu, jelang peringatan hari Kebebasan Pers Sedunia, beberapa staf redaksi La Prensa, surat kabar Nikaragua, menjejakkan kakinya kembali ke negara asal mereka. Dari Kosta Rika, negeri tetangga, mereka menggunakan bus, menyusuri sungai, untuk bisa mencapai Managua, ibu kota Nikaragua.

Namun, sesampai di Managua, mereka tidak bisa mendekati bangunan gedung tempat mereka bekerja selama bertahun-tahun. Gedung tersebut dijaga oleh aparat keamanan setelah pada pertengahan Agustus 2021 pemerintahan Presiden Daniel Ortega menggerebek dan menyita alat kerja milik surat kabar yang telah berusia hampir 100 tahun. La Prensa menghentikan edisi cetaknya setelah pemerintah menutup surat kabar tersebut. Semua peralatannya, termasuk mesin cetak putar yang diperlukan untuk mencetak surat kabar, disita oleh polisi.

Sebulan sebelumnya, aparat keamanan menggeledah rumah jurnalis dan karyawan La Prensa, termasuk di dalamnya para sopir. Ada yang sempat mendekam dalam penjara, tapi ada juga yang berhasil meloloskan diri dari kejaran aparat. Sebagian besar kemudian meninggalkan Nikaragua secara diam-diam.

Juan Lorenzo Holmann Chamorro, penerbit La Prensa, dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara. Namun, setahun kemudian, pemerintah mendeportasinya ke Amerika Serikat.

Akan tetapi, kerja-kerja jurnalistik La Prensa tak berhenti meski para jurnalisnya berada di pengasingan. Mereka, dengan jaringan yang masih sangat kuat, tetap melaporkan situasi di Nikaragua. Setelah surat kabar tidak bisa terbit, versi daring La Prensa menjadi pilihan.

Apresiasi pun hadir dari beragam sudut dunia atas keberanian dan keteguhan La Prensa itu, termasuk dari UNESCO. Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa itu, Sabtu (3/5/2025), mengganjarnya dengan UNESCO/Guillermo Cano World Press Freedom Prize 2025.

”La Prensa telah melakukan upaya yang berani untuk melaporkan kebenaran kepada masyarakat Nikaragua,” kata Yasuomi Sawa, ketua dewan juri Penghargaan Kebebasan Pers Dunia UNESCO/Guillermo Cano 2025.

”Sejak tahun 2021, setelah pemenjaraan dan pengusiran para pemimpinnya serta penyitaan asetnya, La Prensa terus memberi informasi kepada penduduk Nikaragua secara daring, dengan sebagian besar timnya berada di pengasingan, yang beroperasi dari Kosta Rika, Spanyol, Meksiko, Jerman, dan Amerika Serikat,” katanya.

Foto tanggal 18 Januari 2019 memperlihatkan rak penjualan surat kabar Nikaragua, ”La Prensa”, yang nyaris kosong di salah satu sudut kota Managua, Nikaragua. ”La Prensa” meraih penghargaan Guillermo Cano 2025 dari UNESCO.

”Selama hampir satu abad berdiri, La Prensa dan para jurnalisnya telah menghadapi berbagai tindakan penindasan, yang semakin intensif dalam beberapa tahun terakhir dengan pembatasan distribusinya,” kata UNESCO.

”Sejak tahun 2021, setelah pemenjaraan dan pengusiran para pemimpinnya serta penyitaan asetnya, La Prensa terus memberi informasi kepada penduduk Nikaragua secara daring, dengan sebagian besar timnya berada di pengasingan, yang beroperasi dari Kosta Rika, Spanyol, Meksiko, Jerman, dan Amerika Serikat,” kata lembaga tersebut dalam sebuah pernyataan.

Sejarah kelam

Terpilihnya kembali Ortega pada pemilihan umum tahun 2021 untuk masa jabatan ke empat kalinya memperkokoh cengkeramannya untuk mengendalikan masyarakat sipil, termasuk kerja-kerja jurnalistik dan media. Situasi ini menyebabkan setidaknya 140 jurnalis Nikaragua hidup dalam pengasingan, sebagian besar di antaranya tinggal di Kosta Rika, AS, dan Spanyol.

Kelompok advokasi hak media dan kebebasan pers global, Reporters Without Borders (RSF), mengatakan, sejak Ortega terpilih kembali di Nikaragua media independen terus mengalami mimpi buruk berupa penyensoran, intimidasi, dan ancaman. Sebagian besar media independen dan oposisi di negara itu kini beroperasi dari luar negeri.

Bagi La Prensa, penutupan oleh Ortega, bukanlah pertama kalinya. Diktator sayap kanan, Anastasio Somoza yang berkuasa pada tahun 1950 pernah berupaya menutup La Prensa-El Diario de los Nicaraguenses (”Jurnal Rakyat Nikaragua”). Begitu juga dengan Front Pembebasan Nasional Sandinista yang berhaluan kiri. Mereka mencoba memberangusnya pada tahun 1980-an.

Keteguhan La Prensa dan jurnalis-jurnalisnya untuk menjalankan tugas sebagai watchdog tetap terjaga meski organisasi ini telah ditindas dengan brutal. Yasuomi Sawa mengatakan, meski dipaksa mengasingkan diri, La Prensa dan para jurnalisnya tetap berani menjaga nyala kebebasan pers.

”Seperti organisasi masyarakat sipil lainnya, La Prensa telah menghadapi penindasan yang parah. Dipaksa mengasingkan diri, surat kabar ini dengan berani menjaga nyala kebebasan pers tetap berkobar,” katanya. La Prensa, tambahnya, tetap berani menyuguhkan kebenaran kepada rakyat Nikaragua.

Mahalnya kebebasan pers

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan, kebebasan pers adalah hal mutlak diperlukan di tengah pergulatan global. Jurnalisme yang bebas dan independen menjadi barang publik yang penting karena kebebasan dan kemajuan masyarakat bergantung pada pers yang bebas.

Tragisnya, kata Guterres, kebebasan pers menjadi barang yang semakin mahal. Pers semakin sulit bekerja setiap tahun dan tugasnya menjadi semakin berbahaya.

”Jurnalis menghadapi serangan, penahanan, penyensoran, intimidasi, kekerasan, dan bahkan kematian—hanya karena melakukan pekerjaan mereka,” katanya. Gaza termasuk salah satu wilayah yang paling mematikan bagi jurnalis.

RSF mengamplifikasi pernyataan Guterres. Menurut RSF, kebebasan pers global dalam kondisi yang sulit, pertama dalam sejarah. Selama lebih dari sepuluh tahun, indeks kebebasan pers telah menurun di seluruh dunia. ”Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indeks, kondisi untuk menjalankan jurnalisme dianggap ’sulit’ atau ’sangat serius’ di lebih dari separuh negara di dunia,” katanya.

Foto yang dirilis oleh El 19 Digital, "outlet" media dari Nikaragua, memperlihatkan Presiden Daniel Ortega (kanan) dan wakilnya, Rosario Murillo (kiri), di Managua, Rabu (30/4/2025).

Begitu juga di Nikaragua. Dua media lainnya, Confidencial dan 100% Noticias, juga mengalami perlakuan serupa seperti yang didapat La Prensa.

”Di Nikaragua, jurnalisme independen tidak ada. Kediktatoran mengkriminalkannya,” kata Holman Camorro.

Penghargaan Guillermo Cano yang diberikan kepada La Prensa, kata Hollman, sejatinya bukan hanya untuk media itu sendiri, melainkan juga untuk para jurnalis Nikaragua yang tetap mengabarkan meski berada di pengasingan. Mereka, kata Hollman, adalah tokoh kebebasan berekspresi.

”Penghargaan ini tidak hanya memberikan penghormatan kepada kami, tetapi juga memberikan penghormatan kepada semua pria dan wanita yang, sejak 1926, telah menjadikan surat kabar ini sebagai benteng jurnalisme bebas.  Penghargaan ini juga diberikan kepada semua jurnalis independen yang terus melaporkan berita dari luar negeri dan, terutama, kepada para pembaca kami: rakyat Nikaragua, yang haus akan kebenaran dan keadilan yang mengilhami kami untuk terus maju,” kata surat kabar itu dalam pernyataannya.

Martha Ramos, presiden Komite Kebebasan Pers dan Informasi Inter American Press Association, mengatakan, ”Pengakuan La Prensa adalah mercusuar harapan bagi semua jurnalisme yang melawan dalam kondisi ekstrem. Ini mewakili semangat perjuangan dari begitu banyak outlet media dan jurnalis yang tidak menyerah pada penyensoran atau penindasan. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari