Tanpa jeda waktu panjang, persaingan tenis profesional beralih dari turnamen lapangan tanah liat ke lapangan rumput. Para petenis harus bertransisi dengan cepat.
13 Jun 2025 15:40 WIB · Olahraga
Beralih dari lapangan tanah liat ke lapangan rumput. Hal ini menjadi tantangan sulit, kalaulah tak bisa disebut sebagai tantangan tersulit, dalam persaingan tenis profesional.
Setelah tampil dalam turnamen lapangan tanah liat sejak April, dengan Grand Slam Perancis Terbuka, 25 Mei-8 Juni, sebagai puncaknya, petenis profesional berpindah tempat ke negara lain di Eropa, terutama Inggris. Mereka hanya memiliki waktu persiapan, maksimal, tiga pekan untuk menyesuaikan diri sebelum tampil di Wimbledon, 30 Juni-13 Juli.
Dalam pekan pertama setelah berakhirnya Perancis Terbuka 2025, yang melahirkan Cori ”Coco” Gauff sebagai juara tunggal putri dan Carlos Alcaraz di tunggal putra, turnamen lapangan rumput pada kalender ATP/WTA Tour langsung digelar. Empat turnamen dalam level ATP/WTA 250 dan WTA 500 diselenggarakan di Belanda, Jerman, dan Inggris pada 9-15 Juni.
Tak begitu banyak petenis peringkat sepuluh besar dunia yang tampil. Di putri, hanya ada petenis peringkat kelima, Zheng Qing Wen, dan Madison Keys (8) yang bermain di WTA 500 London. Adapun tunggal putra peringkat ketiga, Alexander Zverev, dan Taylor Fritz (7) menjadi dua unggulan teratas pada turnamen ATP 250 Stuttgart.
Alcaraz, Jannik Sinner, serta sebagian besar petenis top putri akan memanfaatkan turnamen pada 16-22 Juni sebagai persiapan menuju Wimbledon 2025. Alcaraz akan bemain di ATP 500 London, ajang yang dikenal dengan nama turnamen Queen’s Club. Petenis Spanyol itu menjadi juara di Queen’s Club pada 2023, tetapi tersingkir pada babak kedua 2024.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/04/b7d1d187-452a-4f6e-9b8a-176307da4911_jpg.jpg)
Sinner memilih bertanding di Jerman dalam turnamen ATP 500 Halle untuk bersaing dengan Zverev, Daniil Medvedev, Stefanos Tsitsipas, dan petenis 17 tahun asal Brasil, Joao Fonseca.
Adapun bintang-bintang putri, seperti Coco, Aryna Sabalenka, dan Mirra Andreeva, akan bertanding di WTA 500 Berlin. Kecuali Iga Swiatek, sembilan dari sepuluh petenis terbaik tunggal putri akan bermain di Berlin.
Dengan jeda hanya tiga pekan antara Perancis Terbuka dan Wimbledon, petenis tidak punya waktu istirahat di antara dua Grand Slam tersebut. Waktu untuk bersiap menjelang Wimbledon pun begitu pendek.
Petenis harus bisa menjaga fokus dengan adu pukulan yang sering kali singkat. Sedetik saja konsentrasi buyar, situasi bisa berubah menjadi buruk. - Judy Murray -
Namun, tidak ada pilihan bagi mereka selain tetap bertanding meskipun Perancis Terbuka telah menguras fisik dan mental selama dua pekan. Tiga pekan menjadi jeda terpendek di antara dua Grand Slam dibandingkan Australia Terbuka dan Perancis Terbuka (empat bulan) serta Wimbledon dan Amerika Serikat Terbuka (enam pekan).
Apalagi, Perancis Terbuka dan Wimbledon digelar di lapangan dengan perbedaan ekstrem, yaitu Perancis Terbuka di lapangan tanah liat, sedangkan Wimbledon di lapangan rumput.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/15/c748d950-bdf2-41bb-b1eb-285f20f5b9e8_jpg.jpg)
Keduanya tergolong lapangan natural. Lapangan di Roland Garros, Paris, berlapiskan tumbukan batu bata warna terakota di bagian paling atas, sementara lapangan All England Club, London, Inggris, berlapiskan rumput hijau jenis ryegrass yang dipotong dengan ketinggian 8 milimeter.
Meskipun demikian, kedua jenis lapangan itu memiliki perbedaan karakter bertolak belakang. Lapangan tanah liat memantulkan bola dengan tinggi dan lambat dibandingkan lapangan keras sebagai jenis lapangan yang paling umum. Sebaliknya, lapangan rumput memantulkan bola dengan cepat dan rendah. Pantulan bola di lapangan rumput bahkan menjadi yang tercepat.
Perbedaan ekstrem dengan waktu jeda begitu pendek itulah yang menjadi tantangan berat bagi petenis. Pada 2014 dan sebelumnya, jeda antara Perancis Terbuka dan Wimbledon bahkan hanya dua pekan. Maka, petenis-petenis yang tersingkir awal di Perancis Terbuka tak membuang banyak waktu untuk segera pindah ke negara yang menyelenggarakan turnamen lapangan rumput.
Petenis Jerman, Jan-Lennard Struff, langsung berpindah ke Stuttgart, Jerman, setelah tersingkir pada babak pertama Perancis Terbuka. ”Saya selalu bersiap lebih awal untuk turnamen lapangan rumput karena harus melakukan banyak penyesuaian,” kata Struff yang kalah dari Jiri Lehecka pada babak kedua di Stuttgart, Kamis (12/6/2025).
Dengan permukaan yang tidak rata dan cenderung lembab saat awal digunakan, lapangan rumput memantulkan bola dengan arah sulit ditebak. Pantulan bola terkadang tak mengarah ke depan, melainkan berbalik ke belakang atau ke pinggir. Faktor ini, dikatakan Struff, harus diantisipasi dengan penyesuaian diri sesegera mungkin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/13/f0991d13-ac0a-4189-8a9f-99caff9c48a1_jpg.jpg)
”Pergerakan saya berbeda dengan di lapangan tanah liat yang memungkinkan petenis untuk meluncur. Selain itu, perebutan setiap poin berjalan cepat. Maka, berkonsentrasi di sini berbeda dengan di jenis lapangan lain,” kata petenis peringkat ke-103 dunia tersebut.
Petenis Perancis, Gael Monfils, mengatakan, tak pernah mudah baginya untuk menyesuaikan diri di lapangan rumput dari tanah liat meskipun telah tampil di arena tenis profesional selama 21 tahun.
Judy Murray, ibu dari Andy Murray yang juga menjadi pelatih di Asosiasi Tenis Inggris, menyebut, tak ada tantangan yang lebih berat dibandingkan beralih dari lapangan tanah liat ke rumput dalam waktu singkat. Judy menyebut tiga faktor utama sebagai tantangan bermain di lapangan rumput, yaitu bola memantul sangat rendah, lapangan licin, dan pantulan bola yang sangat buruk.
”Lapangan licin membutuhkan sedikit penyesuaian dalam memosisikan diri. Anda mungkin perlu merendahkan pusat gravitasi dengan cara menekuk lutut karena pantulan bola rendah,” kata Judy, dalam BBC, memberi beberapa tips.
Selain rendah, pantulan bola sangat cepat membuat perebutan poin biasanya berlangsung cepat. Rata-rata hanya terjadi empat pukulan pada setiap perebutan poin. Dikatakan Brad Gilbert, mantan pelatih Andre Agassi, Andy Roddick, Murray, dan Coco, servis dan pengembalian servis menjadi pukulan yang sangat penting di lapangan rumput.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/06/27/d78b55e6-9aae-47af-956d-08217f9f1e44_jpg.jpg)
”Petenis harus bisa menjaga fokus dengan adu pukulan yang sering kali singkat. Sedetik saja konsentrasi buyar, situasi bisa berubah menjadi buruk,” kata Judy.
Dengan pantulan yang sangat cepat, lapangan rumput cenderung lebih cocok untuk petenis big server. Goran Ivanisevic menjuarai Wimbledon 2001 dengan total 213 as selama turnamen. Ivanisevic hanya kalah dari John Isner yang membuat 214 as pada Wimbledon 2018. Akan tetapi, Isner kalah di semifinal.
Untuk itu, petenis putri AS, Jessica Pegula, menilai, pukulan kencang menjadi faktor yang sangat penting saat bermain di Wimbledon. Juara Wimbledon 2022, Elena Rybakina, justru berpendapat berbeda meskipun dia dikenal sebagai petenis yang memiliki servis keras.
Berdasarkan pengalaman bermain sejak kategori yunior, Rybakina menilai, pukulan keras tak cukup menjadi bekal untuk bisa bermain dengan nyaman di lapangan rumput. Menurut dia, gerakan kaki yang cepat dan kemampuan menekuk lutut serendah mungkin menjadi faktor krusial.
”Semuanya tentang pergerakan. Anda harus berdiri serendah mungkin dengan tahan menekuk lutut. Anda pun harus bergerak menuju arah bola karena bola tidak mendatangi Anda dengan pantulan yang pendek,” tutur Rybakina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/01/241854c1-2e43-405e-8d83-86adab58c540_jpg.jpg)
Dengan perbedaan ekstrem dalam karakter lapangan, tak banyak petenis yang bisa menguasai lapangan tanah liat sekaligus lapangan rumput. Indikator yang biasa digunakan untuk menilai kemampuan petenis dalam dua jenis lapangan itu adalah gelar juara Perancis Terbuka dan Wimbledon.
Mereka yang bisa juara pada tahun yang sama dinilai lebih hebat dibandingkan dengan yang lain. Tak banyak petenis yang bisa melakukan itu. Sejak era Terbuka (1968), hanya ada tujuh petenis tunggal putri yang bisa menjuarai Perancis Terbuka dan Wimbledon secara beruntun.
Steffi Graf menjadi yang paling sering melakukannya, yaitu pada 1988, 1993, 1995, dan 1996. Adapun Serena Williams menjadi petenis terakhir yang menjuarai dua Grand Slam itu pada tahun yang sama, yaitu pada 2015.
Tunggal putra memiliki lebih sedikit petenis yang mengukir prestasi itu, yaitu hanya lima. Sang maestro, Roger Federer, bahkan tidak bisa melakukannya karena dia kesulitan di Perancis Terbuka. Dari 20 gelar juara Grand Slam, Federer hanya menjuarai Perancis Terbuka pada 2019.
Para petenis spesial itu menjuarai Perancis Terbuka dan Wimbledon secara beruntun bukan karena kebetulan. Mereka menyesuaikan karakter permainan sendiri dengan tuntutan bermain sesuai jenis lapangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/09/26/430bf62b-4dd2-4260-b3e6-a9d8e2c81ddb_jpg.jpg)
Martina Navratilova, petenis putri yang aktif pada 1974-2006, belajar tenis di lapangan tanah liat yang banyak terdapat di negara kelahirannya, Ceko. Dia sebenarnya tak menyukai lapangan tersebut karena tak cocok dengan cara bermainnya yang fisikal dan agresif dengan banyak mendekati net. Meski demikian, tak ada cara lain selain harus berusaha menyesuaikan diri hingga dia bisa menjuarai Perancis Terbuka 1982 dan 1984.
Gaya bermain Navratilova yang atletis lebih cocok di lapangan rumput. Dia pun meraih gelar Grand Slam pertamanya di Wimbledon 1978. Berselang 25 tahun kemudian, dia mendapatkan gelar ke-20 di Wimbledon, yaitu dari nomor ganda campuran bersama Leander Paes (India).
Walaupun di Ceko lebih banyak terdapat lapangan tanah liat, Navratilova bisa bermain dengan baik di lapangan rumput berkat latihan yang dilakukan di lapangan berlantaikan kayu saat musim dingin. Seperti ceritanya yang dimuat dalam laman resmi WTA pada 2022, pantulan bola di lapangan itu mirip seperti di lapangan rumput.
”Bola memantul dengan arah tak tentu dan sering kali pantulannya pendek. Jadi, saya tidak bisa hanya menunggu bola datang. Saya harus banyak bergerak dari belakang ke net. Itu sebabnya lebih mudah bagi saya untuk bermain di lapangan rumput,” kata Navratilova yang mempunyai sembilan gelar juara tunggal putri Wimbledon.
Berbeda dengan Navratilova, Rafael Nadal harus menyesuaikan kemampuan dan gaya main di lapangan tanah liat untuk tampil dengan nyaman di lapangan rumput. ”Dibesarkan” di lapangan tanah liat di Spanyol, Nadal memiliki gaya bermain pasif-agresif yang cocok di jenis lapangan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/07/07/5e5aa63a-1844-4e8e-9888-a995974c9bf3.jpg)
Tak heran, gelar pertama dari arena Grand Slam didapat di Perancis Terbuka 2005 dalam usia 19 tahun. Nadal kemudian menjadi legenda Roland Garros dengan 14 kali menjadi juara hingga dia pensiun pada 2024.
Nadal menjuarai Perancis Terbuka secara beruntun pada 2005-2008 hingga akhirnya mendapat gelar dari luar Roland Garros ketika menjuarai Wimbledon 2008. Nadal juara setelah mengalahkan Federer dalam final epik untuk membayar kekalahan pada final 2006 dan 2007 dari lawan yang sama. Nadal menjadi petenis Spanyol pertama yang menjuarai Wimbledon setelah Manolo Santana pada 1966.
”Bertahun-tahun lalu, banyak yang bertanya apakah Nadal bisa bertransisi dari jagoan lapangan tanah liat menjadi juara di lapangan rumput. Tahun ini, dia membuktikan itu. Dia berkembang dalam setiap aspek, servis, posisi di lapangan, backhand, dan forehand-nya,” ujar mantan petenis nomor satu dunia, John McEnroe, dalam ESPN setelah Nadal menjuarai Wimbledon 2008.
Nadal memiliki kemampuan dan gaya main yang membuatnya nyaman tampil di tanah liat, terutama di Roland Garros. Bermain di lapangan lambat, dia biasa memosisikan diri jauh di belakang baseline. Senjatanya ada pada pukulan lasso yang membuat bola melambung dengan perputaran cepat. Bola seperti ini ditambah pantulan yang tinggi membuat lawan kesulitan mengembalikannya.
Pukulan yang membuat bola berputar kencang itu ternyata cocok diterapkan di lapangan rumput All England Club dengan sedikit penyesuaian, yaitu arah pukulan yang lebih datar. Murray, juara Wimbledon 2013 dan 2016, merasakan sulitnya mengembalikan pukulan Nadal seperti itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/20/50a70eef3c8475eda689944c8d3b3120-RAFA_2.png)
Dia selalu kalah dalam tiga pertemuan dengan Nadal di Wimbledon, yaitu pada perempat final 2008, semifinal 2010, dan semifinal 2011. Perjalanan Nadal pada 2008 dan 2010 berakhir dengan gelar juara.
”Saat melihat Federer, kita melihatnya dia bermain seperti tanpa upaya keras dan tanpa kekuatan besar. Nadal berbeda. Dia memukul dengan gaya lasso seperti di tanah liat, tetapi dengan gerakan raket yang lebih cepat. Forehand-nya adalah yang paling sulit dikembalikan,” kata Murray.
Komentar Murray itu didukung statistik dari Federasi Tenis Internasional (ITF). Umumnya, perputaran bola dari groundstroke semua petenis adalah 2.500 kali, sedangkan efek perputaran dari pukulan Nadal ada pada angka 4.000–5.000 kali!
Penyesuaian lain yang dilakukan adalah berdiri lebih dekat ke baseline untuk take the ball early dan bermain agresif sejak pukulan pertama. ”Saya tidak pernah melihat Nadal bermain seperti itu sebelumnya,” kata Murray setelah kalah di Wimbledon 2008.
Seusai Nadal meraih trofi juara Wimbledon pada tahun itu, Toni Nadal yang merupakan pelatih dan pamannya mengatakan, menempatkan diri di posisi yang tepat menjadi faktor krusial. Sosok yang melatih Nadal sejak berusia empat tahun itu juga mengatakan, Nadal menyesuaikan diri dengan berbagai hal sehingga bisa menjadi juara di lapangan rumput meski mendapat julukan ”King of Clay”.
JUARA PERANCIS TERBUKA DAN WIMBLEDON PADA TAHUN YANG SAMA
PUTRA
Rod Laver 1969
Bjorn Borg 1978, 1979, 1980
Rafael Nadal 2008, 2010
Novak Djokovic 2021
Carlos Alcaraz 2024
PUTRI
Margaret Court 1970
Evonne Goolagong Cawley 1971
Billie Jean King 1972
Chris Evert 1974
Martina Navratilova 1982, 1984
Steffi Graf 1988, 1993, 1995, 1996
Serena Williams 2002, 2015
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar