Palestina terus melahirkan perjuangan dengan caranya. ”No Other Land” bisa jadi salah satu upaya menunjukkan lagi kepada dunia bahwa ketidakdilan itu benar nyata.
10 Mar 2025 04:03 WIB · Hiburan
Momen kemenangan film No Other Land di Academy Awards akhir pekan lalu seakan menjadi instrumen pengakuan adanya ketidakadilan atas okupasi Israel puluhan tahun di tanah Palestina dan seruan untuk menyudahi penjajahan. Ini merupakan hal langka di atas panggung penghargaan yang disebut-sebut tertinggi bagi insan perfilman.
No Other Land yang dikerjakan sutradara Palestina, Basel Adra, dan sutradara Israel, Yuval Abraham, bersama dua produser Rachel Szor dan Hamdan Ballal bercerita mengenai tempat Adra dibesarkan, Masafer Yatta di Tepi Barat. Adra yang berprofesi sebagai jurnalis sekaligus aktivis menyaksikan berbagai kekerasan dan kesewenang-wenangan Israel di berbagai wilayah di Tepi Barat, termasuk Masafer Yatta.
Melalui kameranya, ia merekam banyak kejadian dalam rentang 2019-2023. Salah satu yang digarisbawahi adalah pembongkaran rumah-rumah penduduk Palestina oleh Israel karena ingin mengubah wilayah itu menjadi zona pelatihan militer Israel. Dalam rekamannya, ditunjukkan militer Israel meratakan sebuah sekolah dan mengisi sumur air dengan semen.
Intimidasi juga dialami Adra ketika merekam aksi para tentara Israel tersebut. Pertemuan dengan Abraham yang mewujud menjadi kolaborasi juga muncul dalam bagian film. Harapan keduanya akan perdamaian menyatukan mereka dalam kerja sama ini.
Meski bisa dipahami, keterlibatan Abraham, yang merupakan warga Israel, menimbulkan pro dan kontra. Bahkan, di dalam film juga terekam mengenai kekhawatiran warga Palestina terhadap Abraham sehingga sulit bagi mereka untuk percaya mengingat derita sejak peristiwa Nakba 1948 dipicu oleh Israel.
Trauma generasional yang turun-temurun ini tidak terjadi dalam satu malam. Periode 2019-2023 yang direkam Adra hanya sekelumit kekejaman Israel yang subur dari puluhan tahun silam. Bukan semata-mata dampak dari peristiwa 7 Oktober 2023.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/08/c39da341357c9fd7a6b326508915e345-No_Other_Land_Still_02.jpg)
Penghancuran rumah-rumah, pengusiran penduduk Palestina dari tempat tinggalnya, kekerasan terhadap warga yang memperjuangkan tanahnya, hingga tangis warga yang kehilangan segalanya terus terjadi dari masa Nakba hingga kini. Kondisi ini pula yang terekam sebagian besar dalam 96 menit film.
No Other Land dengan kisahnya ini sesungguhnya serupa dengan dokumenter lain yang digarap sutradara Palestina, antara lain, Kamal Aljafari dengan A Fidai Film (2024), Rashid Masharawi dengan From Ground Zero (2024), Lina Soualem dengan Bye Bye Tiberias (2023), hingga Slingshot Hip Hop (2008) dari Jackie Salloum. Semuanya bercerita tentang luka kolektif sebuah bangsa dari berbagai sudut pandang dan ragam pendekatan.
Kisah kehilangan rumah, intimidasi dari tentara Israel seperti yang dialami Adra, penyiksaan, terpisah dari keluarga, selalu hadir dalam berbagai dokumenter tersebut. Bahkan, pengembangan drama fiksi, seperti Paradise Now (2005) dan Omar (2013) dari Hany Abu-Assad, serta 3000 Nights (2015) yang digarap Mai Masri atau animasi bikinan Ahmad Saleh yaitu Layl (2021) atau House (2012), juga menampilkan deskripsi yang sama dengan kegetiran rasa yang identik.
”Situasi itu dengan segala ketakutannya yang membentuk kami. Karena itu, tiap cerita kami walau di filmku ini bercerita personal tentang keluarga, tetapi luka akibat penjajahan itu ada. Bahkan, aku yakin semua keluarga di Palestina ini merekam hal yang sama dengan masing-masing dimensinya,” tutur Soualem yang dijumpai di Doha, Qatar, ketika Qumra 2024.
Penuturan Soualem ini relevan dengan tulisan Nadia Yaqub melalui bukunya, Palestinian Cinema in the Days of Revolution. ”Saat itu, film dibuat dengan sumber daya yang terbatas dan dalam keadaan yang sangat genting, film-film penting tetapi sebagian besar tidak dikenal ini muncul dalam konteks gerakan sinema politik dan diputar untuk penonton Palestina dan Arab serta di festival di seluruh dunia,” tulis Yaqub.
Meski penelitian Yaqub dalam buku ini mengambil periode perkembangan sinema Palestina pada 1968-1982, wajah yang ditampilkan dalam film Palestina masa kini tetap tak jauh berbeda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/08/bdcf48ead7dc4bd047f1f83dea0e92ef-No_Other_Land_Still_05.jpg)
Para pembuat film berdarah Palestina ini harus berjibaku mencari pendanaan untuk membiayai pembuatan filmnya melalui lokakarya atau bantuan dana hibah. Mereka juga harus lincah memanfaatkan koneksi, terutama mereka yang kemudian mengenyam pendidikan di luar Palestina.
Jejaring ini berguna untuk koproduksi film yang mereka buat dan distribusi film untuk mengamplifikasi pesan yang ingin disampaikan. Distribusi ini bukan hanya sasaran komersial, melainkan lebih untuk menembus ke berbagai festival film bergengsi seperti Cannes, Toronto, Busan, Berlin, Venice, sampai Locarno.
No Other Land membuktikan premis ini. Kemenangan di panggung Academy Awards sebagai film dokumenter terbaik rupanya tak menjamin film ini akan diputar di Amerika Serikat dengan situasi politik terkini. Bahkan, pelantar digital yang biasanya berlomba memutar film peraih piala Oscar pun belum menunjukkan gelagat untuk mengambil film ini.
Kendati demikian, film ini telah bergerak secara independen sebelum melangkah ke ajang penghargaan tersebut melalui berbagai festival. No Other Land tayang perdana pada Februari 2024 di Festival Film Internasional Berlin ke-74. Di festival ini, film yang menunjukkan persahabatan Adra dan Abraham dengan kehidupan yang paradoks meraih dua penghargaan.
Selanjutnya, film ini diputar di Festival Film Dokumenter Internasional Kopenhagen pada Maret 2024. Festival Film Internasional Toronto juga memasukkan karya ini dalam TIFF Docs. Festival Film Internasional Busan juga turut memutarnya. Jogja-Netpac Asian Film Festival pun tak ketinggalan. Belakangan, film ini mulai masuk ke bioskop-bioskop di beberapa negara dengan cara independen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/8451bd4f7aebda3d753ef2baf6584905-TOPSHOT_US_ENTERTAINMENT_FILM_AWARD_OSCARS_PRESS_ROOM_127940818.jpg)
No Other Land bukan merupakan film dari sutradara Palestina pertama yang masuk nominasi Academy Awards. Pada 2006, film Paradise Now (2005) milik Abu-Assad dinominasikan untuk Oscar dalam kategori film berbahasa asing terbaik dengan negara asalnya adalah ”wilayah Palestina”. Pada 2014, Abu-Assad melalui Omar (2013) kembali masuk nominasi tetapi tak menang.
Kendati demikian, film Abu-Assad tersebut menandai pertama kalinya negara asal dalam nominasi dinyatakan sebagai Palestina. Sejak itu, film-film Palestina lainnya telah dinominasikan untuk kategori tersebut tetapi hanya terhenti pada nominasi atau masuk daftar calon nomine. Salah satunya adalah Bye bye Tiberias (2023) yang dibesut Soualem.
Tahun ini, dua film Palestina selain No Other Land hanya masuk daftar kandidat. Dua film tersebut adalah From Ground Zero (2024), sebuah koleksi dari 22 film yang dibuat di Gaza, arahan Masharawi terhadap 22 sutradara muda Gaza, dan An Orange From Jaffa (2024) dari Mohammed Almughanni yang bercerita tentang bahaya yang dihadapi oleh warga Palestina karena pos pemeriksaan Israel.
Spekulasi kemenangan No Other Land karena ada kolaborasi dengan pembuat film Israel sempat muncul. Hal ini mengingatkan pada Academy Awards 2012 ketika 5 Broken Cameras (2011) yang dibuat Emad Burnat dari Palestina dan Guy Davidi dari Israel masuk nominasi kategori dokumenter.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/f272679e76383e05558e4750bcbb7e89-97th_Academy_Awards_Show_127940243.jpg)
Abraham dalam pidato kemenangannya menyatakan dengan bersatu, maka suara mereka akan lebih kuat. Benarkah demikian?
Sebab, sudah banyak film yang berbicara mengenai Palestina dengan fakta keras dari penjajahan Israel dengan berbagai penindasan dan kekerasannya. Bahwa okupasi itu sepaket dengan pelanggaran kemanusiaannya. Namun, arah angin geopolitik dari negara kunci tetap mengingkari fakta itu.
Semoga No Other Land bukan hanya rintik kecil yang membangunkan kembali kesadaran, melainkan bisa menjadi guliran ombak yang menggulung untuk mewujudkan Palestina yang merdeka dari ketidakadilan.
Penulis:
Riana A IbrahimEditor:
Dahono Fitrianto