Daya Tahan Pemain LKG BRI Indonesia Belum Ideal untuk Piala Gothia 2025

Dari 18 pemain LKG BRI Indonesia, hanya satu pemain lulus poin VO2Max. Masih minimnya kondisi fisik pemain berimbas pada kemampuan mereka ketika menguasai bola.

10 Mei 2025 19:10 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

TANGERANG SELATAN, KOMPAS — Jelang dua bulan bertanding di Piala Gothia 2025, skuad LKG BRI Indonesia terus meningkatkan kemampuan. Persoalan daya tahan fisik masih menjadi masalah yang bisa menjadi batu sandungan bagi tim lulusan Liga Kompas U-14 Powerd by BRI edisi 2024-2025 itu beprestasi di Gothenburg, Swedia, Juli mendatang.

Pada sesi latihan, Sabtu (10/5/2025) sore, di Lapangan Kera Sakti, Tangerang Selatan, Banten, Pelatih Kepala LKG BRI Indonesia TB Wahyudiansyah bersama asisten pelatih Edi memberikan lima sesi latihan. Tiga sesi latihan awal bertujuan untuk meningkatkan ketahanan dan kecepatan pemain.

Latihan itu diikuti oleh 17 pemain. Satu pemain lainnya, yaitu penyerang sayap kiri, Muhammad Fauzan Alhadar, hanya ikut serta pada sesi pemanasan dengan berlari kecil. Setelah itu, ia menepi ke sisi lapangan dan hanya menyaksikan rekannya berlatih karena sedang tidak fit.

Tiga pemain LKG BRI Indonesia, yaitu Rayina Pamungkas, Puma Nandhito, dan Abdullah Husain Putra (kiri ke kanan), untuk Piala Gothia 2025 beradu kecepatan pada sesi latihan di Lapangan Kera Sakti, Tangerang, Banten, Sabtu (10/5/2025). Pemain berlomba dengan waktu untuk meningkatkan kondisi fisik mereka.

Menu pertama latihan pemain dibagi ke dalam tujuh kelompok kecil terdiri dari dua orang dan satu kelompok lainnya berisi tiga orang. Mereka berlari mengitari lapangan selama 15 menit. Dua kiper, yaitu Fikri Pratama Gunawan dan Fazil Darvesh, menjadi kelompok pertama yang memulai sesi latihan itu.

Selanjutnya, mereka menggiring bola dengan berlari kecepatan penuh. Terdapat empat pemberhentian untuk jarak lari setengah lapangan. Pada setiap pemberhentian itu, pemain wajib menaruh bola dan kembali berlari menuju ke rekannya yang menunggu di titik mula untuk melakukan tos.

Mereka kembali berlari ke arah bola, lalu melanjutkan dribel ke kerucut pemberhentian berikutnya. Ketika mencapai titik pemberhentian terakhir, pemain harus kembali menggiring bola untuk menyerahkan bola kepada rekan sekelompoknya.

Pada sesi latihan itu, mayoritas pemain tidak bisa menempatkan bola sejajar dengan titik pemberhentian. Mereka sudah kelelahan sehingga menaruh bola di sembarang posisi sebelum berlari kembali ke arah rekan sekelompok. Situasi itu membuat Wahyu beberapa kali mengingatkan pemain untuk menahan bola terlebih dahulu agar tidak bergerak.

”Setelah melihat data VO2Max pemain, kami menganggap perlu meningkatkan daya tahan dan kecepatan mereka. Mereka tidak hanya memiliki fisik kuat. Tetapi, mereka wajib memiliki kondisi fisik sama baiknya ketika tanpa dan dengan bola,” tutur Wahyu setelah sesi latihan yang berlangsung 1,5 jam itu.

Dalam data VO2Max terkini, hanya gelandang serang, Oksal Kristian Gani, yang memiliki poin VO2Max mencapai batas yang ditentukan tim pelatih, 55. Oksal yang membela tim Cipta Cendikia mencatatkan angka VO2Max sebesar 56.

Gelandang LKG BRI Indonesia, Lutfi Helmi Hanafi, menggiring bola pada latihan di Lapangan Kera Sakti, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (10/5/2025). Menuju Piala Gothia 2025, para pemain wajib membenahi kondisi fisik mereka.

Sisa 17 pemain LKG BRI Indonesia lainnya masih perlu meningkatkan ketahanan fisik mereka demi bisa bersaing deng tim-tim remaja terbaik dunia pada Piala Gothia 2025, 13-19 Juli mendatang. Bahkan, 11 pemain masih memiliki poin VO2Max di bawah 50.

”Saya memahami sesi latihan ini berat. Lebih baik mereka menangis saat latihan dibandingkan sudah di pertandingan sebenarnya,” kata Wahyu yang melatih Oneway SS di Liga Kompas U-14 musim ini.

Oksal mengakui sesi latihan ketahanan dan kecepatan yang diberikan pelatih sangat menguras energi. Meskipun sudah terbiasa dengan latihan fisik berat, Oksal mengakui dirinya masih perlu meningkatkan kemampuan fisiknya. ”Terasa paling berat ketika sesi latihan sambil menguasai bola,” ucapnya.

Akurasi berkurang

Sesi latihan fisik itu berimbas pula pada akurasi tembakan pemain pada sesi latihan ketiga. Sebanyak 15 pemain nonkiper belari melewati dua rintangan sebelum melepaskan tembakan di depan lingkaran kotak penalti.

Sebagian besar pemain gagal menaklukkan Fikri dan Fazil. Hal itu berlaku pula kepada pencetak gol terbanyak Liga Kompas U-14 2024-2025, Rayina Pamungkas. Tidak ada tembakan penyerang penghasil 15 gol untuk Babek Soccer School itu yang tepat sasaran ke gawang.

Quote

Lebih baik mereka menangis saat latihan dibandingkan sudah di pertandingan sebenarnya.

Akurasi operan yang kurang mumpuni juga terlihat pada sesi latihan operan jauh di antara dua sisi lapangan. Ada pemain yang bisa melambungkan bola, tetapi tidak tepat ke rekan kelompoknya, lalu terdapat pemain lain yang gagal mengangkat bola untuk melayang di udara.

Latihan itu ditutup dengan simulasi laga yang berlngsung pada 15 menit terakhir. Wahyu menginstruksikan anak asuhannya untuk melakukan serangan dengan satu sentuhan.

Setiap pemain hanya diperbolehkan mengontrol bola dan langsung melepaskan operan pendek atau umpan silang. Meskipun sudah kelelahan setelah menjalani latihan fisik, semua pemain masih menyajikan wajah ceria pada sesi simulasi laga.

Dua pemain LKG BRI Indonesia, Oksal Kristian Gani dan Dek Mang Raditya Pamungkas (kiri ke kanan), berlari dengan kecepatan penuh pada sesi latihan di Lapangan Kera Sakti, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (10/5/2025). Pemain harus membenahi poin VO2Max mereka demi bersaing di Piala Gothia 2025.

Dek Mang Raditya Pamungkas, bek tengah Persigawa, mendapat posisi baru sebagai gelandang. Dengan posisi itu, Dek Mang bisa menyumbang gol bagi timnya melalui proses fast break atau serang balik cepat.

Ketika disinggung posisi baru itu, Dek Mang mengatakan, ”Saya berusaha tampil semaksimal mungkin sesuai arahan pelatih”.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul