Adu program kesehatan mental hingga perlindungan perempuan tersaji dalam debat antarcalon wakil gubernur Jawa Barat pada debat publik pertama di Kota Bandung.
12 Nov 2024 05:43 WIB · Politik & Hukum
Oleh Jumarto Yulianus - [email protected]
BANDUNG, KOMPAS — Adu program kesehatan mental hingga perlindungan perempuan tersaji dalam debat publik pertama Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat di Kota Bandung, Senin (11/11/2024) malam. Para calon wakil gubernur menawarkan program terbaiknya masing-masing pada segmen tanya jawab antarcalon wakil gubernur.
Pembahasan mengenai kesehatan mental dimulai dari pertanyaan cawagub Jabar nomor urut 1, Gitalis Dwi Natarina, kepada cawagub nomor urut 4, Erwan Setiawan. Gitalis menyebutkan, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia, tingkat depresi masyarakat Jabar paling tinggi, yaitu 3,3 persen.
”Kesehatan mental atau depresi bisa menjadi pemicu bunuh diri. Apa program Anda untuk menyelamatkan generasi Z dari gangguan kesehatan mental?” kata Gitalis.
Erwan mengatakan, kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, termasuk kegiatan Pramuka, harus ditingkatkan untuk mencegah depresi. ”Bagaimana mendidik moral dan budi pekerti mereka agar meningkat sehingga kepercayaan diri mereka pun semakin meningkat. Kalau mereka tidak minder dan putus asa, penurunan (kesehatan) mental mereka bisa dihindari,” katanya.
Menurut Gitalis, generasi muda harus bahagia. Untuk itu, harus ada layanan konseling gratis berbasis digital. Layanan ini sangat penting karena saat ini banyak generasi muda yang takut untuk mencurahkan isi hati atau curhat. ”Mereka bisa mencurahkan isi hatinya pada layanan berbasis digital,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/11/809af34c-f780-4524-9c63-719f00366d87_jpg.jpg)
Cawagub nomor urut 2, Ronal Sunandar Surapradja, kemudian bertanya kepada Gitalis terkait masalah kesehatan dan penurunan stunting. ”Kasus gagal ginjal pada anak-anak di Jabar semakin lama semakin meningkat. Bagaimana caranya untuk mengatasi gagal ginjal pada anak?” kata Ronal.
Gitalis mengatakan, kasus gagal ginjal wajib mendapat pengawasan dari orangtua karena banyak anak yang mengonsumsi makanan yang tidak sehat. ”Solusinya, kami memiliki kartu keluarga bahagia. Tentunya ini akan memberikan gizi kepada anak-anak yang selama ini gizinya kurang teperhatikan,” katanya.
Menurut Ronal, penyebab gagal ginjal itu dari hipertensi dan juga konsumsi gula yang berlebih. Untuk itu, harus ada edukasi kepada anak-anak agar mereka tidak mengonsumsi gula berlebih.
”Namun, pasien gagal ginjal butuh fasilitas hemodialisis. Itu yang akan saya dan Pak Jeje (Jeje Wiradinata) bangun dan siapkan, bahkan sampai di puskesmas akan ada alat hemodialisis atau cuci darah untuk para pasien gagal ginjal, terutama anak-anak,” katanya.
Selanjutnya, cawagub nomor urut 3, Ilham Akbar Habibie, bertanya kepada Gitalis, bagaimana cara mengintegrasikan kaum disabilitas agar mereka tidak merasa termarjinalisasi dan bisa menerima pendidikan dengan kualitas yang sama seperti yang lain.
Menurut Gitalis, penyandang disabilitas harus bahagia dan sehat dengan adanya beasiswa atau kartu pendidikan bahagia. Selain itu, juga perlu pembangunan unit sekolah baru untuk program inklusi atau sekolah luar biasa (SLB) serta program peningkatan kualitas tenaga pendidik inklusi.
Ilham mengatakan, dirinya sepakat dengan apa yang disampaikan Gitalis. Namun, fasilitas untuk disabilitas sebaiknya dibuat berdasarkan disabilitas tertentu agar tidak semua disabilitas dilayani di satu sekolah. ”Itu akan sangat merepotkan. Jadi, perlu ada konsentrasi pelayanan di tempat-tempat tertentu,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/11/e7222a36-e8d1-4bad-beb5-5e2dc42f5b92_jpg.jpg)
Di kesempatan terakhir, Erwan melemparkan pertanyaan kepada Ronal terkait isu perempuan dan anak. Erwan mengatakan, di Jabar ada Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2023 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak. Namun, masih banyak ketimpangan jender dan masih rendahnya perlindungan terhadap perempuan. ”Bagaimana melindungi kaum perempuan?” katanya.
Ronal mengatakan, pihaknya akan membuat sistem laporan kekerasan seksual berbasis aplikasi real time. Laporan kekerasan akan langsung ditindaklanjuti. Pihaknya pun mendukung perempuan Jabar untuk maju, tumbuh, dan berkembang.
”Kami akan siapkan daycare gratis untuk penitipan anak dan kami akan memberikan kuota minimum 35 persen di instansi yang ada di Pemprov Jabar (untuk perempuan). Ini lebih besar daripada kuota perempuan yang ada di DPR,” katanya.
Debat publik perdana Pilkada Jabar diikuti empat pasangan calon. Debat kali ini mengusung tema ”Membangun Jawa Barat Menuju Masyarakat Digital yang Sejahtera dan Berdaya Saing Global”.
Tema ini dibagi ke dalam tujuh subtema, yaitu kesehatan dan penurunan stunting, mentalitas dan karakter generasi muda, kemiskinan dan pengangguran, pengembangan kemampuan digital, reformasi birokrasi yang berkelanjutan, isu perempuan, serta pendidikan inklusif dan berkualitas.
Penulis:
Jumarto YulianusEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan