Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan, ”deep learning” bukan kurikulum, melainkan pendekatan belajar.
17 Feb 2025 15:58 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mematangkan kajian tentang pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning untuk menyempurnakan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Sejumlah masukan dari berbagai pihak dihimpun sebelum diterapkan secara nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, dirinya belum bisa menandatangani Peraturan Menteri Dikdasmen yang akan menggantikan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.
Saat ini, naskah akademik untuk memperkuat konsep deep learning yang diusungnya sejak pertama menjadi menteri menggantikan Nadiem Makarim masih digodok. Selama konsep ini belum ditetapkan, pendidikan di Indonesia masih menggunakan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013 dengan pendekatan yang diajarkan sekarang.
”Ini masih on going proses, masih mungkin saja ada ide-ide yang memperkaya konsep yang kami miliki dan masih mungkin diperkaya dengan bagaimana penerapannya karena ini belum saya tanda tangani, ini belum menjadi keputusan,” kata Abdul Mu'ti saat seminar nasional sosialisasi program deep learning di Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA, Jakarta, Senin (17/2/2025).
Namun, Menteri sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini mengungkapkan bahwa nantinya penerapan deep learning akan dipantau dengan mekanisme sekolah model. Artinya, belum semua sekolah akan menerapkan deep learning pada awal penetapan kebijakannya.
Deep learning diharapkan menjadi solusi atas perubahan masa depan yang sulit diprediksi.
Untuk menuju hal tersebut, Kemendikdasmen akan melatih para pelatih yang nantinya akan mengajari guru-guru untuk bisa mengajar dengan pendekatan deep learning. Jika semua guru sudah dirasa siap, pendekatan ini akan diperluas menjadi kurikulum nasional.
”Jadi, nanti setelah naskah akademiknya selesai, kami akan melakukan training of trainers (pelatihan untuk pelatih), nanti pelatihnya para widyaiswara di balai-balai UPT (unit pelaksana teknis) yang kami punya di semua provinsi, baru nanti dari sini melatih para guru,” ucapnya.
Mu’ti juga meminta perguruan tinggi untuk turut terlibat dalam misi melatih para guru untuk lebih berkembang ini. Mu’ti menegaskan bahwa ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan semua pihak perlu turut terlibat memajukan pendidikan dasar dan menengah sebagai fondasi ilmu generasi masa depan bangsa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/17/572bb3032dc1562f4e0f8296723487c6-Screenshot_2025_02_17_152926.png)
Dalam kesempatan ini, Mu’ti memaparkan bahwa pendekatan deep learning bukan hal baru, melainkan perlu diperkuat pelaksanaannya di dunia pendidikan Indonesia. Proses belajar mendalam merupakan bagian dari menemukan makna (meaningful) dari pembelajaran dengan rasa gembira (joyful) dan sadar (mindful) ketika dia belajar dan meraih pencerahan.
”Itulah kenapa saya menggunakan istilah joyful, bukan fun learning. Sebab, selama ini istilah fun itu sudah mengalami makna peyorasi. Fun sering dimaknai funny atau lucu, gitu,” ujar Mu’ti.
Anggota Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam di Kemendikdasmen, Yuli Rahmawati, menambahkan, deep learning diharapkan menjadi solusi atas perubahan masa depan yang sulit diprediksi. Permasalah mutu pendidikan, seperti rendahnya literasi, numerasi, dan berpikir tingkat tinggi yang membentuk ketimpangan pendidikan harus diselesaikan.
Skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan kondisi pendidikan Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Nilai literasi turun dari 397 pada 2015 menjadi 359 di tahun 2022, numerasi turun dari 386 menjadi 366, dan sains turun dari 403 menjadi 383 pada periode yang sama.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar RI Canberra ini menegaskan, deep learning akan berjalan sukses jika materi yang diajarkan tidak terlalu banyak. Menurut dia, materi yang didapat oleh peserta didik harus sesuai dengan ukuran kemampuan, menekankan pentingnya nilai pembelajaran, dan dapat transformasikan ke dalam banyak konteks.
”Dalam penerapan pembelajaran mendalam semua pihak yang terlibat saling menghargai dan menghormati dengan mempertimbangkan potensi, martabat, dan nilai-nilai kemanusiaan,” ucap Yuli.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Ichwan Susanto