DeepSeek, Ketika Perang Teknologi China dan AS Sesungguhnya Dimulai

Perkembangan baru telah menimbulkan kekhawatiran tentang apakah keunggulan global Amerika Serikat dalam kecerdasan buatan menyusut.

29 Jan 2025 10:00 WIB · Opini

Oleh Andreas Maryoto

Orang kerap menduga, perlombaan atau peperangan teknologi digital telah dimulai ketika perusahaan teknologi dari banyak negara berlomba membuat inovasi beberapa tahun lalu. Akan tetapi, sesungguhnya peperangan itu muncul ketika teknologi kecerdasan buatan atau akal imitasi generatif asal China bernama Deepseek muncul beberapa hari lalu.

Seketika sejumlah saham perusahaan teknologi rontok begitu Deepseek diperkenalkan ke publik. Di bursa pada Senin (27/1/2025), saham perusahaan perangkat keras Nvidia anjlok 17 persen hingga ditutup pada 118,42. Demikian pula saham perusahaan cip untuk akal imitasi (AI), Broadcom (AVGO) anjlok 17,4 persen menjadi 202,13 dan Marvell Technology (MRVL) anjlok 19,1 persen menjadi 100,33. Advanced Micro Devices (AMD) turun 6,4 persen menjadi 115,01.

Quote

Sudah barang tentu kemunculan Deepseek membuat perusahaan teknologi AI kalang kabut.

Saham cip terkait dengan teknologi AI lainnya juga anjlok pada hari itu. Perusahaan pembuat cip, Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSM), anjlok 13,3 persen menjadi 192,31. Saham IPO perusahaan bernama Astera Labs (ALAB) anjlok 28 persen menjadi 83,16.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun berkomentar dan meminta semua pihak mencermati perkembangan ini karena baru beberapa hari lalu ia mengumumkan proyek Stargate yang merupakan investasi teknologi AI senilai 500 miliar dollar AS untuk empat tahun ke depan, sementara itu Deepseek muncul dan telah mampu mengalahkan kemampuan produk AI generatif asal Amerika Serikat, ChatGPT.

Grafik televisi terlihat di jendela kantor pusat Nasdaq di Times Square, saat Nasdaq anjlok hampir 4 persen pagi ini pada 27 Januari 2025 di New York City. Pasar saham Eropa dan Asia sebagian besar merosot pada hari Senin dan Wall Street diperkirakan akan dibuka turun tajam karena pembicaraan bahwa program AI generatif China yang lebih murah, DeepSeek, dapat mengungguli pesaing besar, terutama di Amerika Serikat.

Deepseek hanya membutuhkan investasi 6 juta dollar AS. Amerika Serikat seperti tertampar. Dominasi mereka dalam pengembangan AI terancam oleh kekuatan baru asal China. Publik kemudian menduga-duga, saat inilah sebenarnya perang teknologi atau perlombaan teknologi antara China dengan Amerika Serikat dimulai di tengah suasana persaingan kedua negara di berbagai bidang di panggung global.

Orang pun kemudian mempersamakan peristiwa ini dengan kejadian pada masa lalu ketika mereka berlomba dalam peluncuran satelit. Peristiwa tahun 1957 itu dikenal sebagai Krisis Sputnik saat Uni Soviet meluncurkan satelit buatan pertama.

Pada masa itu muncul ketakutan dan kecemasan publik di negara-negara Barat soal kesenjangan teknologi yang dirasakan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang disebabkan oleh peluncuran Sputnik 1. Publik Barat merasa mereka tertinggal dalam pengembangan teknologi ini. Krisis ini merupakan peristiwa penting dalam Perang Dingin hingga memicu perlombaan teknologi di kedua pihak selama bertahun-tahun.

Keunggulan

Apa yang menyebabkan Deepseek lebih unggul dibandingkan dengan ChatGPT milik Microsoft, Gemini milik Google, atau MetAI milik Meta? Pertama model yang dikembangkan oleh Deepseek berbiaya sangat murah dan dalam waktu singkat, yaitu dua bulan. Seperti disebut di atas mereka hanya butuh investasi 6 juta dollar AS untuk melatih modelnya, sementara apabila melihat investasi perusahaan teknologi lain seperti ChatGPT 100 juta dollar AS, Gemini 191 juta dollar AS, dan Meta menghabiskan 720 juta dollar AS untuk model Llama3.

Keunggulan lainnya adalah pada kemampuan Deepseek. Sebuah artikel di laman Wired mengatakan, Deepseek berfokus pada memaksimalkan dan mengoptimalkan sumber daya berbasis pada kemampuan perangkat lunak karena mereka tidak memiliki akses ke prosesor AI atau cip terbaru dari Nvidia dan perusahaan lainnya. Sejak 13 Januari lalu Amerika Serikat telah mengeluarkan kebijakan pembatasan penjualan cip ke China.

Mereka dikabarkan menggunakan cip lama dengan kemampuan terbatas. Deepseek menemukan metode yang lebih efisien untuk melatih modelnya, seperti menggunakan skema komunikasi khusus antar cip, mengurangi ukuran bidang untuk menghemat memori, dan penggunaan pendekatan campuran model yang inovatif. Meski demikian, ada pihak yang meragukan dengan metoda itu.

Dalam serangkaian uji tolok ukur oleh pihak ketiga, seperti dilaporkan Investor’s Business Daily, model Deepseek mengungguli Llama 3.1 milik Meta, GPT-4o milik OpenAI, dan Claude Sonnet 3.5 milik Anthropic dalam akurasi mulai dari pemecahan masalah yang kompleks hingga kemampuan mengerjakan soal matematika serta dalam kemampuan pengodean (coding).

Ilustrasi foto ini menunjukkan aplikasi DeepSeek di telepon seluler di Beijing pada tanggal 27 Januari 2025. Chatbot kecerdasan buatan milik perusahaan Tiongkok DeepSeek telah melejit ke puncak tangga unduhan di Apple Store, mengejutkan para pakar dan analis industri dengan kemampuannya menyamai pesaingnya di AS.

Bagi pengguna, Deepseek bisa digunakan tanpa membayar sementara ChatGPT dan lain-lain harus membayar untuk menggunakan kemampuannya secara maksimal. Sudah barang tentu kemunculan Deepseek membuat perusahaan teknologi AI kalang kabut. Mereka tidak hanya tersaingi, tetapi bakal terdisrupsi dengan temuan Deepseek tersebut.

Perkembangan baru tersebut telah menimbulkan kekhawatiran tentang apakah keunggulan global Amerika Serikat dalam kecerdasan buatan menyusut. Panggung AI dicemaskan sudah mulai dikuasai China. Publik juga mempertanyakan masa depan atau nasib pengeluaran besar-besaran sejumlah perusahaan teknologi untuk membangun model AI dan pusat data.

Tidak mengherankan apabila kemudian isu yang diembuskan adalah soal keamanan kecerdasan buatan asal China ini. Isu lama yang selalu muncul begitu Amerika Serikat mulai tersisih. Kita akan menunggu langkah berikutnya perusahaan Amerika Serikat dalam menyaingi China seperti ketika mereka merangkak menyaingi Uni Soviet dalam perlombaan teknologi ruang angkasa pada masa Perang Dingin.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita masih perlu meningkatkan sumber daya manusia di bidang kecerdasan buatan. China bisa menyalip ketika akses cip dibatasi. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa ada cara untuk menjadi pemenang dibandingkan mengeluh atau mengikuti cara-cara yang konvensional. Investasi untuk berbagai pengembangan AI, sebagai contoh Sahabat AI, sepertinya harus ditinjau ulang ketika Deepseek tersedia gratis. Kita masih harus membuat loncatan ketika panggung dunia dikuasai China dan Amerika Serikat dengan mengingkatkan kemampuan sumber daya manusia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Andreas Maryoto
 | 

Editor:

Nasru Alam Aziz