Kehadiran DeepSeek lagi-lagi membuktikan, teknologi kecerdasan buatan datang dari Hangzhou.
30 Jan 2025 08:00 WIB · Ekonomi
DeepSeek, model asisten kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)asal China, mengguncang dunia. Dengan modal yang lebih efisien, ia memukul saham perusahaan teknologi ternama. Kehadiran DeepSeek lagi-lagi membuktikan, teknologi mutakhir datang dari Hangzhou.
Didirikan pada 2023, DeepSeek mulai mengembangkan produk AI. Mulanya, DeepSeek meluncurkan DeepSeek Coder, yang menggunakan model bahasa besar atau LLM milik MIT (Massachusetts Institute of Technology). Model ini memahami bahasa manusia.
Inovasi teranyar adalah DeepSeek R1 dan V-3 yang diluncurkan akhir 2024. Versi terbaru ini mampu menjawab berbagai pertanyaan pengguna. Kemampuannya mirip asisten AI yang sudah lebih dulu hadir, seperti ChatGPT dari OpenAI, Llama milik Meta, dan Gemini dari Google.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/29/025a65a855102961abd768f44b202478-1000000148.jpg)
Sejumlah sumber menyebutkan, kemunculan DeepSeek memukul saham perusahaan teknologi. Secara total, indeks saham semikonduktor Amerika Serikat turun 9,2 persen dalam sehari. Ini yang terparah sejak Maret 2020. Semikonduktor adalah bahan yang dibutuhkan dalam pengembangan AI.
Nvidia, perusahaan manufaktur semikonduktor Amerika Serikat, juga terdampak dengan kondisi ini. Harga sahamnya anjlok 16,9 persen atau setara hampir 600 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9.600 triliun, hampir 2,7 kali lipat nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintah (APBN) 2025.
Menariknya, DeepSeek mengklaim hanya mengeluarkan modal 5,6 juta dollar AS untuk pelatihan dan pengembangan. Dengan modal lebih efisien dari AI buatan AS, DeepSeek mampu mengembangkan model penghitungan matematika hingga kode pemrograman yang unggul.
OpenAI, misalnya, menurut media bisnis CNBC, menyerap modal hingga 5,4 miliar dollar AS setahun untuk AI. Google mengeluarkan modal kerja 51 miliar dollar AS pada 2024 dan Microsoft menghabiskan 13 miliar dollar AS untuk investasi di OpenAI (Kompas.id, 28/1/2025).
”Yang kami temukan, DeepSeek berkinerja terbaik, atau kira-kira setara dengan model (AI) terbaik Amerika dan menggambarkan perlombaan antara AS dan China sebagai ’perang AI’,” ujar Alexandr Wang, CEO Scale AI, salah satu perusahaan AI di AS, kepada CNBC.
Namun, DeepSeek punya keterbatasan dalam menjawab isu sensitif dalam politik China. Meski demikian, perusahaan besutan Liang Wenfeng, lulusan Universitas Zhejiang, ini lagi-lagi menguatkan Hangzhou sebagai kota teknologi tingkat dunia. Tempat berbagai raksasa teknologi.
Hangzhou terletak di Provinsi Zhejiang, bagian tenggara China. Dengan luas 16.800 kilometer persegi, kota ini dihuni oleh penduduk sekitar 12,3 juta jiwa. Meski bukan ibu kota Negara, kota ini mampu ”melahirkan” banyak perusahaan teknologi pengembang AI.
Sebelum DeepSeek, Alibaba lebih dulu lahir di Hangzhou. Perusahaan e-dagang ini didirikan oleh Jack Ma, warga asli Hangzhou, pada 1999 di sebuah apartemen setempat. Dengan modal 60.000 dollar AS kala itu, ia menghubungkan perusahaan kecil menengah ke pasar global.
Ketika pertama kali melantai di bursa saham (initial public offering/IPO) pada 2014, harga saham Alibaba dibuka dengan 92,7 dollar AS dan ditutup di harga 93,89 dollar AS. Ada 271 juta saham yang berpindah tangan. Angka ini lebih dua kali lipat dari perputaran saham saat Twitter melantai ke bursa (Kompas, 22/9/2014).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/05/e8c13e34-7925-4c9e-a1b1-9eedde3661f0_jpg.jpg)
Kini, Alibaba Group tidak hanya menguasai 80 persen transaksi jual beli daring di China, tetapi juga memiliki sistem pembayaran nontunai (Alipay) hingga komputasi awan (Alibaba Cloud). Bahkan, Alibaba jadi mitra strategis PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) di Indonesia.
Selain Alibaba, perusahaan teknologi asal Hangzhou lainnya adalah Unitree, yang fokus pada pengembangan robotik. Salah satu pencapaian Unitree ialah robot H1, yang menjadi salah satu humanoid (benda yang menyerupai manusia) tercepat di dunia, dengan kemampuan berlari 3,3 meter per detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/26/463e3de1-06ec-4208-8d07-709947bd7397_jpg.jpg)
Robot H1 ini juga tampil dalam Festival Gala, yang merayakan Tahun Baru China 2025. Di video di akun X Unitree, berbagai robot itu berbaris dan menari bersama manusia. Tangan robot itu lincah memutar benda serupa payung, sementara kakinya melangkah ke kiri dan kanan.
Perusahaan teknologi lainnya adalah NetEase, yang fokus pada pengembangan gim daring dan AI. NetEase bahkan mendirikan studio global di Jepang, Kanada, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Eropa. Marvel Rivals dan FragPunk’s adalah beberapa gim yang dikembangkan.
Selain sebagai tempat lahirnya perusahaan teknologi, Hangzhou juga menjadi kantor bagi korporasi teknologi ternama, seperti Huawei. Perusahaan yang fokus pada telekomunikasi dan informatika ini bahkan membangun pusat pelatihan seluas 13 hektar di Hangzhou pada 2019.
Alibaba Cloud, dari grup Alibaba, juga membangun Yunqi Cloud Town seluas 13,8 kilometer di dekat West Lake. Ini menjadi tempat untuk belajar dan mengembangkan komputasi awan atau cloud. Dengan teknologi ini, data dapat disimpan di awan, tidak butuh banyak perangkat keras.
Inovasi ini termasuk dalam pengembangan kota cerdas ”City Brain” yang diinisiasi Alibaba pada 2016. Proyek ini mulanya mencoba mencari solusi atas kemacetan kota dengan memanfaatkan data lalu lintas dan kamera pemantau di jalan, yang dipadukan dengan AI dan komputasi awan.
Media The Times danThe Sunday Times menulis, setelah setahun berjalan, City Brain mampu mengendalikan 128 lampu lalu lintas, mengurangi kemacetan 15 persen, mengantisipasi penundaan ambulans hingga 50 persen, serta memotong waktu untuk parkir puluhan menit.
Hangzhou disebut sebagai kota pertama di China yang memperkenalkan tiket transportasi berbasis kode batang digital serta parkir nirsentuh. Kota ini menggunakan teknologi blockchain, yang menyimpan dan mengelola data dalam bentuk rantai blok, hingga 120 juta data sehari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/08/d040fa76-a6c0-4e71-ad88-ebf531f09458_jpg.jpg)
Ketika Kompas berkunjung ke Hangzhou pada September 2023, seiring pergelaran Asian Games 2022, adopsi teknologi itu terasa di kehidupan warga. Saat melintasi pintu tol, misalnya, pengendara tidak lagi mengeluarkan kartu, datanya terbaca oleh kamera. Arus lalu lintas juga tak macet meski ramai.
Transaksi jual beli di pinggir jalan menggunakan kode digital dan aplikasi pembayaran, seperti Alipay. Jian Wang, pendiri Alibaba Cloud, dalam bukunya Being Online (2021), menuliskan, ”Ketika orang AS membayar dengan tagihan langsung, orang di China memakai telepon pintar.”
Lalu, bagaimana Hangzhou menjelma menjadi kota inovasi? Jian Wang menilai, dukungan infrastruktur pemerintah, seperti ketersediaan internet dengan kecepatan tinggi, merupakan hal penting. ”Tidak ada kota di dunia yang memiliki program, seperti City Brain, tanpa infrastruktur,” tulisnya.
Tidak ada kota di dunia yang memiliki program, seperti City Brain, tanpa infrastruktur.
Dukungan pemerintah itu juga tampak dari pendanaan. Media South China Morning Post pada 2020 menuliskan, Pemerintah Hangzhou mendukung pengembangan AI dengan menawarkan subsidi hingga 30 juta yuan atau 4,3 juta dollar AS per proyek bagi perusahaan pengembang AI.
Hadirnya berbagai perusahaan teknologi juga turut mendorong ekosistem Hangzhou sebagai kota inovasi. Perekonomiannya pun tumbuh dan menjadi provinsi keempat terbesar untuk produk domestik bruto di China, yakni 246,1 miliar dollar AS pada 2022. Ini setara dengan Portugal.
Tidak heran, kota yang dihuni lebih dari 7.000 tahun lalu itu telah melahirkan inovasi, termasuk DeepSeek. Pemkot Hangzhou bahkan menyebut, ”Dengan mengeklik mouse Anda di Hangzhou, Anda akan terhubung ke dunia.”
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Aloysius Budi KurniawanPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra