Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar empat kali lipat dari 2,04 miliar dollar AS pada 2023 menjadi 8,85 miliar dollar AS pada 2024.
20 Feb 2025 18:30 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Neraca transaksi berjalan Indonesia pada 2024 kembali mencatat defisit yang melebar hingga empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pelebaran defisit ini berdampak pada ketahanan eksternal dan tecermin dalam pergerakan nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2024, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar 8,85 miliar dollar AS atau setara 0,6 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini meningkat empat kali lipat dibandingkan periode 2023, yang mencatatkan defisit 2,04 miliar dollar AS atau 0,1 persen dari PDB.
Melebarnya defisit transaksi berjalan tersebut terutama dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan barang yang menyusut. Pada 2024, surplus neraca perdagangan barang Indonesia tercatat 39,92 miliar dollar AS, turun 13,7 persen dibandingkan tahun lalu.
Masih merujuk NPI 2024, penyusutan surplus neraca perdagangan barang tersebut disebabkan oleh kenaikan ekspor yang tidak setinggi impor. Kinerja ekspor meningkat sejalan dengan kenaikan harga komoditas global di tengah penurunan permintaan negara mitra dagang utama, sedangkan peningkatan impor dipengaruhi oleh kebutuhan ekspor dan permintaan domestik.
Lebih lanjut, defisit transaksi berjalan turut didorong oleh meningkatnya defisit neraca jasa dan pendapatan primer. Adapun defisit neraca jasa-jasa pada 2024 meningkat 5,6 persen secara tahunan menjadi 18,66 miliar dollar AS, sedangkan defisit pendapatan primer meningkat 0,21 persen secara tahunan menjadi 36,09 miliar dollar AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/20/f2d8fe4256c315a2d58322576fe56d0c-Screenshot_2025_02_20_173725.png)
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan, defisit transaksi berjalan memang memiliki korelasi yang erat dengan fluktuasi nilai tukar rupiah. Artinya, tekanan terhadap transaksi berjalan akan tecermin juga dalam pergerakan rupiah.
”Sejauh ini, defisit transaksi berjalan bisa dikatakan masih terjaga. Biasanya investor mematok defisit transaksi berjalan hingga 3 persen dari PDB. Meski sekarang defisit transaksi berjalannya naik, belum sampai ke arah situ,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (20/2/2025).
Sejalan dengan pelebaran defisit neraca transaksi berjalan tersebut, David memperkirakan, nilai tukar rupiah masih akan relatif stabil pada angka sekitar Rp 16.000 per dollar AS. Pada penutupan pasar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Kamis ini, rupiah ditutup Rp 16.344 per dollar AS atau terdepresiasi 1,15 persen dibandingkan penutupan akhir 2024.
Ke depan, pengaruh dari kebijakan tarif dari Trump membuat ekspektasi (perdagangan) untuk semester I-2025 ini masih negatif. Perdagangan global yang penuh ketidakpastian ini juga pasti akan berpengaruh ke Indonesia. Di sisi lain, dari sisi komoditas, belum ada katalis baru, kecuali kopi, cokelat, dan CPO.
David menambahkan, penyusutan surplus neraca perdagangan yang memperlebar defisit transaksi berjalan tidak lepas dari faktor normalisasi harga komoditas global. Meski harga komoditas kopi, cokelat, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) naik, harga batubara dan mineral lainnya turun.
”Ke depan, pengaruh dari kebijakan tarif dari Trump membuat ekspektasi (perdagangan) untuk semester I-2025 ini masih negatif. Perdagangan global yang penuh ketidakpastian ini juga pasti akan berpengaruh ke Indonesia. Di sisi lain, dari sisi komoditas, belum ada katalis baru, kecuali kopi, cokelat, dan CPO,” tuturnya.
Dalam satu dekade terakhir, neraca transaksi berjalan Indonesia hanya mencatatkan surplus dua kali, yakni pada 2021 dan 2022. Defisit transaksi berjalan yang tercatat paling dalam terjadi pada 2018 sebesar 31,1 miliar dollar AS atau 2,98 persen dari PDB dan pada 2019 sebesar 30,4 miliar dollar AS atau 2,72 persen dari PDB.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/27/4d7d70a7-9927-4092-802e-dd9afca2103e_jpg.jpg)
Menurut David, defisit transaksi berjalan yang berangsur-angsur terjadi dalam satu dekade terakhir terutama disebabkan oleh defisit neraca jasa-jasa. Sektor jasa yang berkontribusi atas defisit tersebut antara lain jasa asuransi dan dana pensiun serta jasa angkut perkapalan.
Merujuk data NPI 2024, jasa transportasi mencatatkan defisit 8,83 miliar dollar AS atau meningkat 1,15 persen secara tahunan. Di sisi lain, jasa asuransi dan dana pensiun mencatatkan defisit 2,1 miliar dollar AS atau meningkat 14,48 persen secara tahunan.
Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, surplus barang yang lebih tinggi dan peningkatan ekspor nonmigas mendorong perbaikan defisit transaksi berjalan pada triwulan IV-2024. Namun, defisit pendapatan primer melebar karena imbal hasil yang lebih tinggi dari investasi langsung dan portofolio.
”Kami memperkirakan defisit transaksi berjalan 2025 akan melebar menjadi 1,18 persen dari PDB, didorong oleh permintaan domestik yang kuat dan agenda propertumbuhan yang mendorong impor. Sementara itu, ekspor menghadapi tantangan dari ’Perang Dagang 2.0’. Namun, defisit tetap terkendali dibandingkan dengan tingkat sebelum pandemi,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/30/27bc8c30-b47a-44aa-b173-06c94ed0bf78_png.png)
Perkiraan tersebut sejalan dengan laporan Dana Moneter Internasional (IMF) bertajuk ”World Economic Outlook: Policy Pivot, Rising Threats” yang dirilis pada Oktober 2024 lalu. IMF memperkirakan, defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar 2 persen pada 2025 dan menjadi 1,4 persen pada 2029.
Josua menambahkan, neraca transaksi finansial pada 2025 diperkirakan tetap positif, didukung oleh investasi langsung dan investasi lain. Kendati demikian, investasi portofolio dapat membukukan defisit di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Kami menggarisbawahi pentingnya kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas rupiah dan menekan inflasi impor. Kami mempertahankan perkiraan pada akhir tahun nanti BI Rate sebesar 5,75 persen, cadangan devisa 152 miliar dollar AS-156 miliar dollar AS, serta rupiah dalam rentang Rp 16.200-Rp 16.600 per dollar AS.
Secara keseluruhan, kinerja NPI pada 2025 akan mencatatkan defisit yang mengarah pada penurunan cadangan devisa secara moderat pada akhir tahun. Hal ini dapat membatasi ruang penurunan suku bunga acuan akibat ketidakpastian global yang mengurangi aliran masuk modal.
”Kami menggarisbawahi pentingnya kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas rupiah dan menekan inflasi impor. Kami mempertahankan perkiraan pada akhir tahun nanti BI rate sebesar 5,75 persen, cadangan devisa 152 miliar dollar AS-156 miliar dollar AS, serta rupiah dalam rentang Rp 16.200-Rp 16.600 per dollar AS,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/c3835026-3f20-4fe1-b024-f347716c16c2_jpg.jpg)
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, perkembangan NPI menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap kuat di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih berlanjut. Secara keseluruhan, NPI 2024 mencatatkan surplus 7,2 miliar dollar AS, naik dibandingkan tahun lalu yang surplus 6,3 miliar dolar AS.
Kenaikan surplus tersebut terutama didorong oleh kinerja transaksi modal dan finansial yang lebih baik. Adapun NPI pada 2025 diprakirakan tetap sehat ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut serta defisit transaksi berjalan yang terjaga dalam kisaran defisit 0,5-1,3 persen dari PDB.
”Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal,” kata Ramdan dalam keterangan resmi.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Muhammad Fajar Marta