Rencana jahat itu berkelindan dengan keinginan yang telah didengungkan di Israel untuk merelokasi warga Palestina dari Gaza dan keinginan menduduki Tepi Barat sebagai impian membentuk Israel Raya.
09 Apr 2025 08:18 WIB · Opini
Tidak ada lagi kata-kata dalam nalar kemanusiaan yang mewakili kekejaman Israel terhadap warga Palestina. Ada rencana lebih jahat di balik tindakan mereka.
Kondisi Jalur Gaza sudah luluh lantak setelah 1,5 tahun digempur militer Israel. Warga Palestina di enklave itu menderita dan hidup terlunta-lunta. Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan Palestina di wilayah tersebut melemah. Kondisi ini tak mengurangi tindakan Israel untuk terus menggempur Jalur Gaza tanpa peduli jatuhnya korban warga sipil.
Seperti diberitakan, sedikitnya 44 warga Palestina—sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak—tewas akibat gempuran Israel pada fasilitas-fasilitas sipil, seperti rumah-rumah warga dan tenda pengungsi, Minggu (6/4/2025). Kementerian Kesehatan di Gaza, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (8/9/2025) menyebut sedikitnya 58 warga Palestina jadi korban serangan Israel dalam 24 jam terakhir.
Seperti dituturkan warga Gaza, para korban sipil itu bukan hanya tidak bersenjata, tetapi juga sedang tidur saat tempat tinggal dan pengungsian mereka dibom. Sebagian lain tengah berkumpul di dekat sebuah toko roti ketika serangan udara Israel menghantam mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/09/2b4312eb7305a736882ec7b02b755104-AFP_39GX9YZ.jpg)
Pemandangan seperti itu terjadi hampir setiap hari, termasuk sejak kolapsnya kesepakatan gencatan senjata, pertengahan Maret lalu. Tingkat kekejaman dalam gempuran-gempuran Israel tersebut juga semakin melewati batas nalar.
Pada 23 Maret 2025 di Rafah, seperti diungkapkan Presiden Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina Younis Al-Khatib di Ramallah, Senin (7/4/2025), 15 petugas medis dan tim penyelamat "ditembaki pada bagian atas tubuh dengan niat sengaja membunuh". Saat ditembaki, mereka sedang mengendarai ambulans untuk menyelamatkan korban serangan Israel. Kesimpulan itu didasarkan pada hasil otopsi jenazah mereka, yang ditemukan dikubur massal, beberapa hari setelah insiden.
Seperti pada semua gempuran yang mereka lakukan, militer Israel selalu berkilah, mereka tengah menarget Hamas dan para anggota kelompok perlawanan Palestina lainnya. Narasi ini dimunculkan untuk melegitimasi apa yang kerap disebut sebagai "hukuman kolektif" bagi warga Palestina.
Penulis dan analis politik Palestina Ahmed Najar menyebut insiden 23 Maret dan kekerasan demi kekerasan oleh Israel itu sebagai dehumanisasi bangsa Palestina yang ingin dianggap normal. (Al Jazeera, 6/4/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/09/1fca6a04b2f5b9d45ca457de56208b0a-1000000211.jpg)
Sejumlah tentara Israel memberikan testimoni pada Breaking the Silence, kelompok yang didirikan veteran Israel tahun 2004 untuk mengungkap tindakan militer Israel atas Palestina, bahwa zona penyangga selebar 1 kilometer di sekeliling perbatasan Gaza-Israel sedang disiapkan dijadikan "zona pembunuhan". Siapa pun orang Palestina, yang berada di zona itu, akan jadi target untuk dibunuh (The Guardian, 7/4/2025).
Rencana jahat tersebut berkelindan dengan keinginan yang telah didengungkan di Israel untuk merelokasi warga Palestina dari Gaza dan keinginan menduduki Tepi Barat sebagai impian membentuk Israel Raya. Hingga hari ini, tak satu pun pihak bisa menghentikan kesewenang-wenangan Israel tersebut.
Ada upaya yang tengah dirintis Presiden Perancis Emmanuel Macron, dengan menggandeng beberapa negara—kabarnya termasuk Indonesia—untuk kembali mendorong perundingan dan gencatan senjata di Gaza. Apapun upayanya, meski akan membentur kebebalan Israel, perlu terus dicoba.
Penulis:
REDAKSIEditor:
Muhammad Samsul Hadi, Adi PrinantyoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan, Lucia Dwi Puspita Sari