Islamabad dikabarkan terus menjalin diplomasi lewat kanal-kanal di balik layar mereka selama beberapa pekan terakhir. Pakistan memanfaatkan hubungan dekatnya.
30 Mar 2026 13:30 WIB · Internasional
AP/Pakistan Ministry of Foreign Affairs
Pakistan menyatakan sedang mempersiapkan perundingan langsung Amerika Serikat-Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sebulan. Selama ini, Islamabad menjaga hubungan baik dengan Teheran dan Washington. Pakistan juga memiliki kerja sama keamanan dengan Arab Saudi dan terus membuka jalur komunikasi dengan semua pihak.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan, Pakistan siap menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan AS-Iran. Langkah ini, kata Dar, juga disambut baik oleh China.
”Pakistan sangat senang karena Iran dan AS sama-sama menyatakan kepercayaan mereka kepada Pakistan untuk memfasilitasi perundingan. Pakistan merasa terhormat menjadi tuan rumah dan memfasilitasi perundingan yang bermakna antara kedua pihak dalam beberapa hari mendatang,” katanya setelah pertemuan dengan para menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir di Islamabad, Minggu (29/3/2026) waktu setempat.
Menurut Dar, pertemuan dengan para menlu itu membahas upaya mengakhiri perang dan membuka dialog AS-Iran. Mereka juga membicarakan formula teknis untuk membuka kembali Selat Hormuz, menstabilkan pelayaran dan arus energi, serta membahas cara mengakhiri perang lebih cepat dan permanen.
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan, pertemuan di Islamabad bertujuan membuka dialog langsung antara AS dan Iran. Selama perang ini, komunikasi Washington-Teheran lebih banyak melalui perantara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/30/4aa7f78f-e13e-4243-89a0-4ae3d7a2828f.jpg)
Meski begitu, hingga Senin belum jelas apakah AS dan Iran benar-benar sudah sepakat hadir. Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih tak menanggapi permintaan konfirmasi soal rencana pembicaraan itu. Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menolak berkomentar.
Islamabad dikabarkan terus menjalin diplomasi lewat kanal-kanal di balik layar selama beberapa pekan terakhir. Pakistan memanfaatkan hubungan dekatnya dengan Iran dan AS.
Pakistan sangat senang karena Iran dan AS sama-sama menyatakan kepercayaan mereka kepada Pakistan untuk memfasilitasi perundingan.
Selama konflik berlangsung, Pakistan terus membuka komunikasi langsung, baik dengan Iran, AS, maupun Arab Saudi. Kantor Perdana Menteri Pakistan menyatakan, PM Shehbaz Sharif berbicara melalui telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Sabtu (28/3/2026).
Selama lebih dari satu jam percakapan, Sharif memaparkan langkah diplomatik Pakistan untuk menciptakan ruang perundingan. Kantor Sharif juga menyatakan, Pezeshkian menekankan bahwa kepercayaan diperlukan agar negosiasi dan mediasi bisa berjalan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/30/5c0ec5dd-6aea-49f4-b581-10faeea11af3.jpg)
Sementara jalur Pakistan ke AS berjalan melalui militer. Kantor berita Reuters melaporkan, Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir secara rutin berhubungan dengan Wakil Presiden AS JD Vance. Informasi diperoleh dari sumber di Pakistan.
Sumber yang sama mengatakan, proposal-proposal yang dibahas di Islamabad diteruskan ke Gedung Putih. Bahkan, sebagian di antaranya sudah dibahas dengan AS dan Iran. Salah satunya soal pembukaan Selat Hormuz.
Media The Financial Times juga melaporkan bahwa Munir telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump pekan lalu. Dalam pembicaraan itu, Pakistan menawarkan diri menjadi tuan rumah pembicaraan langsung antara AS dan Iran. Trump sempat mengklaim pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung, tetapi Teheran membantahnya.
Sejumlah pengamat menilai, Pakistan mempunyai potensi menjadi penghubung komunikasi damai. Sebab, Pakistan mempunyai akses diplomatik dan saluran kerja sama dengan Teheran. Akses Islamabad ke Washington juga membaik di bawah Jenderal Munir. Pakistan pun tetap menjaga hubungan erat dengan Arab Saudi serta negara-negara Teluk.
Dari sisi masyarakat, kedekatan dengan Iran juga didasari besarnya populasi Muslim Syiah di Pakistan. Pakistan memiliki populasi Syiah terbesar kedua di dunia, lebih dari 15 persen dari total penduduknya. Bagi Syiah Pakistan, Ayatollah Ali Khamenei juga merupakan pemimpin agama mereka. Tidak lama setelah Khamenei tewas, Pemerintah Pakistan berupaya meredam protes keras yang dipimpin penganut Syiah di Karachi, Lahore, dan Islamabad.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/bde01da6-4290-4a32-951d-a72eaa4e6b0c.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/30/7019bec0e6a9c3ac7a6e260bc321f890-Iran_US_Pakistan_What_to_know.jpeg)
Peneliti Iran dan Syiah, Babak Vahdad, mengatakan, hubungan Pakistan dengan Iran menguat sejak tahun lalu. ”Islamabad penting bagi Teheran karena tiga alasan, yakni stabilitas di perbatasan timur, kerja sama melawan kelompok militan, dan perannya dalam keseimbangan kawasan yang juga mencakup negara-negara Teluk,” katanya, dikutip dari media The New Arab.
Berbatasan sepanjang 909 kilometer, kedua negara saling membutuhkan untuk menjaga keamanan perbatasan dan kontraterorisme. Ancaman keamanan di garis perbatasan itu datang dari kelompok-kelompok bersenjata ditambah ancaman ISIS-Khorasan.
Zeeshan Shah, analis yang berbasis di Washington menilai, Pakistan memiliki posisi yang tidak dimiliki tetangga Iran lainnya. Menurut dia, saat ini Pakistan sebagai satu-satunya negara yang masih bisa menyediakan jalur komunikasi di belakang layar antara Iran dan Arab Saudi. Sebab, Turki dan Qatar telah terkena serangan Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/25/2b88e260-5b3e-460f-9800-1d86cb456284.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/24/57041169dac757e4e18c3219ddf80eea-20260324_NNN_Pengungsi_Iran_mumed.png)
Sejauh ini, Pakistan belum diserang Iran dan telah mempertahankan saluran terbuka dengan semua pihak. ”Setelah Teheran menyerang makin banyak negara di kawasan, Pakistan menjadi satu-satunya tetangga yang dapat memainkan peran mediasi,” ujarnya.
Namun, Shah menilai posisi Islamabad juga rentan. Perang AS-Iran menempatkan Pakistan dalam posisi sangat rumit karena hubungan dekatnya dengan negara-negara Arab Teluk. Kerumitan itu bertambah karena Pakistan juga memiliki pakta pertahanan dengan Arab Saudi.
Islamabad memiliki Strategic Mutual Defence Agreement dengan Riyadh. Namun, tidak seperti Pasal 5 NATO, pakta itu tidak memuat kewajiban otomatis untuk ikut campur dalam konflik besar. Kesepakatan itu sengaja dibuat lentur sehingga Pakistan tetap punya ruang manuver, meski tetap harus memperhitungkan kepentingan keamanan Arab Saudi.
Pada 18 Maret, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan bahkan memperingatkan bahwa toleransi Riyadh terhadap Iran mulai mencapai batasnya.
Mantan Menteri Informasi Provinsi Baluchistan Jan Achakzai mengatakan, terkait pakta pertahanan dengan Arab Saudi, Pakistan sedang berjalan jalur yang sempit dan tegang. Pakta itu bisa menjadi ganjalan bagi Iran.
Sebab, kerja sama keamanan tersebut untuk mencegah serangan ke negara-negara Teluk, menyatakan solidaritas bersama, dan memprioritaskan stabilitas kawasan.
Tekanan itu juga diperberat oleh kondisi keamanan Pakistan sendiri. Hanya dua hari sebelum perang Iran pecah, Pakistan memulai operasi militer terhadap Afghanistan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/13/94245e19-86a5-446b-9f91-d7ae307a4210.jpg)
Vahdad menyebutkan, normalisasi hubungan Iran dan Arab Saudi sebelumnya membantu menjaga keseimbangan sektarian di Pakistan. ”Setelah rekonsiliasi antara Iran dan Arab Saudi, keseimbangan sektarian di Pakistan pada dasarnya terjaga. Namun, dalam skenario perang saat ini, krisis antara Riyadh dan Teheran berisiko membangkitkan kembali ketegangan sektarian masa lalu,” ucapnya.
Menurut dia, Pakistan bisa memainkan peran efektif, tetapi lebih sebagai fasilitator di balik layar, bukan sebagai mediator sungguhan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/25/352f8b5b84bb2d69af378b896b03752f-20260325_H01_NNN_Tanker_Hormuz_mumed.png)
Namun, posisi Washington dan Teheran masih berbeda jauh. Pekan lalu, AS telah mengajukan daftar 15 butir sebagai kerangka kemungkinan kesepakatan damai. Para pemimpin Iran menolak negosiasi di bawah tekanan.
Sementara televisi pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa Teheran telah menyiapkan proposal tandingan lima butir. Isinya, antara lain, penghentian pembunuhan pejabat Iran, jaminan tidak ada serangan lanjutan, reparasi, dan pengakuan atas kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Sejauh ini AS, Israel, dan Iran masih bertahan pada posisi dan syarat masing-masing. Para diplomat yang berkumpul akhir pekan lalu di Islamabad bahkan sudah pulang ke negara masing-masing pada Minggu. Padahal, pembicaraan semula dijadwalkan berlanjut hingga Senin. (REUTERS/AP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul