Delapan Transfer Arsenal, Cukupkah Lewati Liverpool?

Berkat jendela transfer terakhir, Arsenal kini punya skuad paling dalam di Inggris. Namun, apakah itu cukup bagi mereka untuk menjadi juara dan melewati Liverpool?

05 Sep 2025 09:00 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Kata orang bijak, pengalaman adalah guru terbaik. Arsenal mencoba lebih bijak dengan belajar dari kesalahan musim lalu. Mereka membenahi rencana dan eksekusi perekrutan pemain, serta membawa sosok penanggung jawab baru di bursa transfer. Hasilnya langsung terlihat jelas.

Arsenal seperti seorang shopaholic. Mereka terus belanja hingga menyudahi jendela transfer musim panas dengan memboyong delapan pemain sekaligus. Bek tim nasional Ekuador, Piero Hincapie, menjadi pemain terakhir yang diresmikan, pada tenggat transfer, Selasa (2/9/2025) dini hari WIB.

Liverpool boleh saja memecahkan rekor transfer Liga Inggris dengan Florian Wirtz dan Alexander Isak. Namun, Arsenal tetap memuncaki daftar pengeluaran net terbesar dengan 257 juta pound sterling (Rp 5,68 triliun). Jumlah itu menjadi yang terbanyak dalam sejarah ”Si Meriam”.

Andrea Berta, Direktur Olahraga Arsenal, disanjung bagai pahlawan oleh para penggemar. Kinerja Berta begitu optimal dalam perekrutan pemain, apalagi jika disandingkan dengan pendahulunya, yaitu Edu Gaspar. Perbandingan keduanya bagai langit dan dasar lautan.

Musim panas 2024, Edu hanya membawa empat pemain baru. Dua pemain di antaranya berstatus pinjaman, yaitu penyerang Raheem Sterling dan kiper Neto yang jarang dimainkan karena kualitas di bawah standar klub. Aktivitas transfer buruk itu sangat membebani klub saat diterpa badai cedera.

Liverpool's Dominik Szoboszlai, left, challenges Arsenal's Eberechi Eze during the English Premier League soccer match between FC Liverpool and FC Arsenal in Liverpool, England, Sunday, Aug. 31, 2025. (AP Photo/Jon Super)

Berbeda dengan kali ini. Berta tidak hanya memboyong pemain berjumlah dua kali lipat. Delapan pemain baru itu juga berkualitas, berada di usia prima, dan berpotensi merebut posisi starter. Mereka di antaranya gelandang timnas Spanyol, Martin Zubimendi, dan pemain sayap timnas Inggris, Eberechi Eze.

Kedalaman skuad Arsenal untuk musim 2025-2026.

Manajer Arsenal Mikel Arteta pun memiliki skuad sangat dalam. Dia bisa membentuk dua tim berbeda yang seimbang secara kualitas sehingga ancaman cedera bisa lebih diredam. ”Andrea seperti yang saya harapkan. Profesional dan penuh tekad. Saya senang bekerja dengannya,” ujar Arteta, seperti dikutip situs resmi klub.

Jika dinilai, Berta pantas mendapatkan 9 dari 10. Satu-satunya hal yang kurang dari mantan eksekutif Atletico Madrid itu hanyalah penjualan. Arsenal gagal menjual pemain sesuai dengan harga yang diharapkan. Adapun masalah itu sudah melekat dalam tubuh klub jauh sebelum kedatangan Berta.

Lewati Liverpool

Pertanyaan selanjutnya dan terpenting, apakah agresivitas dalam pembelian pemain itu akan berujung dengan gelar juara Liga Inggris untuk Arsenal? Fokus utama Si Meriam adalah melewati Liverpool, tim juara bertahan yang juga sangat jor-jordan di jendela transfer.

Tanda tanya itu tertuju kepada Arteta. Sang manajer telah diberikan senjata lengkap untuk mengakhiri rentetan status runner-up selama tiga musim beruntun. Tidak hanya soal kedalaman skuad, kualitas lini serang yang menjadi titik lemah tim asuhan Arteta juga sudah ditingkatkan.

Arsenal mendatangkan tiga pemain ofensif sekaligus, termasuk Viktor Gyokeres yang bertipe striker murni. Selama hampir enam tahun di Arsenal, Arteta baru kali ini memiliki tipe pemain seperti itu. Gyokeres diharapkan bisa meningkatkan jumlah gol klub, terutama dari permainan terbuka.

Quote

Sejak musim lalu saya tidak pernah percaya masalah Arsenal adalah penyelesaian akhir. Problem mereka itu kreasi peluang.

Di musim 2024-2025, Arsenal hanya menghasilkan 50 gol dari permainan terbuka. Catatan itu sangat jauh jika dibandingkan dengan Liverpool (66 gol). Arsenal terlalu bergantung dari eksekusi bola mati, sebanyak 24,6 persen gol Martin Odegaard dan rekan-rekan berasal dari situasi tersebut.

Setelah tiga pertandingan awal berlalu di musim 2025-2026, bersama para pemain baru, serangan Arsenal ternyata belum banyak berkembang. Mereka sudah mencetak enam gol, ketiga paling produktif di liga, tetapi hanya dua gol yang berasal dari permainan terbuka. Sisanya dari bola mati.

Penyerang Arsenal Viktor Gyokeres berupaya melewati hadangan bek Manchester United Matthijs de Ligt dalam pertandingan pekan pembuka Liga Inggris di Stadion Old Trafford pada Minggu (17/8/2025) WIB. Gyokeres menjalani debut yang patut dilupakan karena nyaris tidak memberikan kontribusi selama tampil 60 menit.

Data Opta cukup untuk memperlihatkan betapa rendah kualitas serangan Arsenal. Nilai kualitas peluang Si Meriam dari permainan terbuka hanya 1,54 xG (expected goals). Itu adalah catatan terendah kedua di liga, hanya lebih baik dibandingkan tim promosi Sunderland (1,29 xG).

”Sejak musim lalu saya tidak pernah percaya masalah Arsenal adalah penyelesaian akhir. Problem mereka itu kreasi peluang. Di dua laga tandang Arsenal musim ini belum ada perubahan. Mereka masih bertumpu dari bola mati,” kata mantan bek timnas Inggris, Jamie Carragher, kepada Sky Sports.

Minim kreasi peluang itu sangat dirasakan oleh Gyokeres. Sang penyerang baru menghasilkan tiga tembakan setelah bermain 240 menit. Satu tembakan di antaranya berasal dari tendangan penalti. Bandingkan dengan penyerang Manchester City Erling Haaland yang sudah mencatat 14 tembakan.

Sebagai juru taktik, Arteta menjadi sasaran kritik. Dia dinilai masih terlalu hati-hati terutama saat berhadapan dengan tim-tim besar, seperti Liverpool, pada akhir pekan lalu. Sang manajer juga belum mampu memaksimalkan para pemain baru di lini serang.

Theo Walcott, eks penyerang Arsenal sekaligus mantan rekan Arteta, berkata, perubahan butuh waktu. Arteta masih beradaptasi dengan timnya yang kini punya lebih banyak senjata di lini depan. Sang manajer tidak ingin gegabah langsung mencoba banyak hal dalam laga besar dan pada awal musim.

Liverpool's Dominik Szoboszlai, left, challenges Arsenal's Gabriel Martinelli during the English Premier League soccer match between FC Liverpool and FC Arsenal in Liverpool, England, Sunday, Aug. 31, 2025. (AP Photo/Jon Super)

”Klub sudah mendukungnya dengan investasi besar. Dia punya banyak pilihan pemain di mana-mana. Namun, dia memilih kembali ke mantranya (untuk berhati-hati). Para manajer terlalu takut kalah, itulah masalahnya. Sebab, saat kalah, mereka tetap dipandang kurang berani,” kata Walcott dalam siniar ”It’s Called Soccer!”

Tentu, terlalu cepat menilai perubahan Arsenal hanya dari tiga laga. Terlepas dari itu, masalah dan solusi Si Meriam sebenarnya tampak jelas di depan mata sang manajer. Mampukah Arsenal melewati Liverpool? Teka-teki itu akan terjawab dengan bagaimana kemampuan Arteta untuk melanjutkan tongkat estafet yang diberikan Berta.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan