Demonstrasi Pengojek Daring dan Mahasiswa di Semarang Berujung Ricuh

Unjuk rasa sebagai bentuk solidaritas atas meninggalnya Affan Kurniawan turut digelar di Semarang. Aksi di depan Polda Jateng itu diwarnai kericuhan.

29 Agt 2025 19:46 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kristi Dwi Utami

SEMARANG,KOMPAS — Demonstrasi yang dilakukan pengemudi ojek daring dan mahasiswa di depan kantor Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat (29/8/2025) petang, berakhir ricuh. Polisi memukul mundur massa dengan meriam air dan tembakan gas air mata.

Demonstrasi yang diikuti ratusan pengemudi ojek online atau ojol dan mahasiswa dari sejumlah universitas itu dilakukan sebagai solidaritas atas tewasnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol yang dilindas kendaraan taktis kepolisian di Jakarta, Kamis (28/8/2025) malam.

Massa aksi menuntut para polisi yang melindas Affan dihukum berat dan meminta polisi agar menghentikan kekerasan terhadap masyarakat.

Massa aksi berkumpul di depan Polda Jateng pada Jumat mulai pukul 15.20 WIB. Saat salah seorang peserta aksi hendak berorasi, muncul Thomas, pria yang mengaku sebagai koordinator demonstrasi ojol Jateng.

Thomas yang mengaku baru saja bertemu dengan pihak Polda Jateng itu meminta pengemudi ojol meninggalkan lokasi karena aksi itu disebut bukan aksi mereka. ”Ojol nanti malam akan mengadakan aksi damai. Doa bersama dan (aksi) lilin nanti malam di halaman Polda Jateng,” kata Thomas, Jumat petang.

Pengojek daring dan mahasiswa melakukan demonstrasi di depan kantor Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat (29/8/2025) petang. Mereka berunjuk rasa menuntut para polisi yang menyebabkan tewasnya pengojek daring bernama Affan Kurniawan, di Jakarta, dihukum berat. Mereka juga meminta polisi menghentikan kekerasan terhadap masyarakat.

Setelah itu, para pengojek dikumpulkan, menjauh dari massa mahasiswa. Sebagian kemudian meninggalkan lokasi. Namun, sebagian lagi memilih untuk bertahan.

Mereka yang bertahan mengaku tidak setuju dengan Thomas dan merasa bahwa Thomas tidak memiliki otoritas terhadap mereka. ”Tadi ojol disuruh pulang, katanya takut nanti ricuh. Ya, kami tidak mau lah, emangnya dia siapa?” ujar salah satu pengojek daring yang tak mau disebutkan namanya.

Edo (31), pengojek daring asal Semarang, juga memilih bertahan dan melanjutkan demonstrasi. Edo mengaku terpanggil untuk bersolidaritas atas tewasnya Affan.

”Lihat video yang ojol dilindas polisi itu miris sekali rasanya. Dari polisinya juga semena-mena sekali, itu manusia lho yang dilindas,” ucap Edo.

Kericuhan mewarnai unjuk rasa pengojek daring dan mahasiswa di depan Markas Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat (29/8/2025) petang.

Sekitar pukul 16.10 WIB, sejumlah orang melempar air mineral dalam kemasan botol ke arah gerbang Polda Jateng. Polisi lantas menembaki massa menggunakan meriam air.

Aksi polisi itu membuat massa marah. Mereka lantas melempari polisi dengan kayu, bambu, dan batu. Aksi itu pun dibalas dengan tembakan gas air mata yang dilakukan puluhan kali.

Mereka lantas berlarian menyelamatkan diri. Sebagian demonstran yang sedang mencari perlindungan dari dampak gas air mata ditangkap dan dipukuli sejumlah orang. Tak hanya itu, orang-orang itu juga menyeret dan menendangi massa aksi yang mereka tangkap.

Melihat temannya mengalami kekerasan dari aparat, demonstran semakin marah. Mereka yang awalnya berpencar langsung kembali ke hadapan polisi dan melempari polisi dengan sejumlah benda.

Kericuhan mewarnai unjuk rasa pengojek daring dan mahasiswa di depan kantor Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat (29/8/2025) petang. Mereka berunjuk rasa menuntut para polisi yang melindas pengojek daring bernama Affan Kurniawan hingga tewas di Jakarta dihukum berat. Mereka juga meminta polisi menghentikan kekerasan terhadap masyarakat.

Hingga Jumat sekitar pukul 19.45, demonstran masih bertahan di Jalan Pahlawan, Kota Semarang. Mereka menolak mundur meski sudah berkali-kali ditembaki gas air mata oleh polisi.

Sementara itu, Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Jateng Komisaris Besar Syaiful Anwar mengatakan, pihaknya berkomitmen melaksanakan pengamanan secara transparan, profesional, dan humanis.

Quote

Lihat video yang ojol dilindas polisi itu miris sekali rasanya. Dari polisinya juga semena-mena sekali, itu manusia lho yang dilindas.

Syaiful juga mengklaim, polisi yang bertugas tidak membawa senjata api, tongkat pemukul, ataupun benda berbahaya lainnya. Tabung-tabung gas air mata yang akan digunakan juga disebutnya sudah dicek untuk memastikan kelaikannya.

”Tabung gas air mata kami pastikan dalam kondisi baik dan belum melewati masa kedaluwarsa,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra