Abdul Gani (57) kehilangan istrinya dalam banjir bandang di Salareh Aia Timur, Agam. Kini, dengan selembar foto, ia berkeliling ke posko-posko mencari info keberadaan istri.
02 Des 2025 08:34 WIB · Lingkungan
KOMPAS/YOLA SASTRA
Abdul Gani (57) memperlihatkan foto perempuan berjilbab hitam yang dicetak pada selembar kertas HVS. Itu gambar istrinya, Marsoni (52), yang hilang dalam banjir bandang atau galodo di Salareh Aia Timur. Hingga kini sang istri belum jelas keberadaannya.
”Saya ke sini untuk memberitahukan ke orang-orang, misalnya wartawan, kepolisian, TNI, dan BNPB, bahwa sampai sekarang istri saya belum ditemukan,” kata Gani ketika dijumpai di sekitar pos lapangan tanggap darurat bencana Kecamatan Palembayan di kantor Wali Nagari Salareh Aia Utara, Selasa (1/12/2025) sore.
Sebelum ke posko di Salareh Aia Utara, Gani juga berkeliling ke tempat lain, termasuk posko di Puskesmas Koto Alam, Nagari Salareh Aia. Ia juga menunjukkan foto sang istri kepada petugas di puskesmas yang merupakan pos tempat jenazah korban ditangani sebelum dibawa ke RSUD Lubuk Basung.
”Setiap jenazah yang datang di puskesmas saya perhatikan, tapi istri saya belum juga ketemu,” ujar Gani, yang kini hidup sebatang kara. Putri satu-satunya keluarga itu juga telah meninggal lima tahun lalu karena sakit.
Banjir bandang menghantam permukiman di Kecamatan Palembayan, terutama di Nagari Salareh Aia dan Nagari Salareh Timur, Kamis (27/11/2025) sekitar pukul 17.00 WIB. Rumah Gani di Jorong Subarang Aia, Nagari Salareh Aia Timur, tak luput dari galodo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/4c40f2a4d21abca87ad2df77e3dff984-1000913430.jpg)
Saat kejadian, hanya sang istri, Marsoni, yang ada di rumah. Sementara itu, Gani belum pulang dari berjualan krepes dan es krim tradisional keliling dengan sepeda motor. Ketika hendak pulang pukul 17.30 WIB, ia terjebak di Jorong Munggun.
”Permukiman sudah jadi lautan (air berlumpur). Saya tidak bisa ke mana-mana, terkurung, sedangkan istri di rumah sendirian,” kata Gani.
Kamis itu, Gani belum dapat langsung melihat kondisi rumahnya. Akses jalan ke Jorong Subarang Aia tertutup lumpur. Barulah pada Sabtu (29/11/2025) ia dapat mengakses lokasi rumahnya.
”Rumah saya sudah licin semua. Jangankan fondasi, rumput pun hilang, tak ada rumput sehelai pun di sana,” ujar Gani dengan air mata tertahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/9aa3b70127da854120c23e164c0294c0-1000911282.jpg)
Gani kemudian berkeliling dengan sepeda motornya yang tersisa untuk mencari keberadaan istri ke pos-pos terkait. Ia bertanya ke petugas dan menjelaskan ciri-ciri sang istri.
Pada Senin, Gani juga mencetak gambar sang istri dengan kertas HVS untuk memudahkan petugas. File foto didapat dari ponsel sanak-saudaranya. ”Saya mohon difotokopi di kantor wali nagari supaya aparat tahu,” kata Gani, yang kini hidup menumpang di rumah abang iparnya.
Gani merasa hidupnya hampa dan terbuang akibat bencana yang melanda. Ia kini hidup bergantung dari makanan bantuan. Peralatan produksi dagangan juga raib disapu galodo. Bertemu dengan jenazah sang istri bakal sedikit mengobati duka.
”Mohon bantuannya, mudah-mudahan ketemu, biar jelas nampak wajahnya. Mau di mana pun dimakamkan, saya ikhlas, tidak harus dibawa ke Salareh Aia, asal istri saya ketemu,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/a277f23eb9e3e0199dfc5da45a601381-1000911284.jpg)
Imwarizal (52), abang ipar Gani, berharap adiknya itu dapat segera ditemukan. Dialah kini yang menemani Gani berkeliling mencari informasi keberadaan Marsoni.
”Apa pun keadaannya yang penting ketemu agar bisa dikebumikan,” kata Imwarizal.
Tim SAR gabungan dari berbagai instansi masih berupaya mencari korban. Ada yang dilakukan dengan menyisir lokasi bencana secara manual, ada pula yang menggunakan alat berat.
Apa pun keadaannya, yang penting ketemu agar bisa dikebumikan.
Data dari Posko Penanggulangan Bencana Alam Polres Agam di Nagari Salareh Aia mencatat, korban jiwa banjir bandang di Kecamatan Palembayan mencapai 116 orang hingga Senin sore. Belum semuanya teridentifikasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/81fbb01689552eed7515ada3be4980b3-1000911310.jpg)
”Korban banjir bandang di Palembayan diperkirakan totalnya 300 orang lebih. Sekarang baru ditemukan 116 orang. Yang lainnya belum ditemukan. Ada 202 rumah hanyut akibat banjir bandang,” kata Kepala Polres Agam Ajun Komisaris Besar Muari.
Banjir bandang di Kabupaten Agam, terutama Kecamatan Palembayan, merupakan yang terparah di Sumbar. Jumlah korban jiwa di wilayah ini lebih dari separuh total korban jiwa dalam banjir bandang dan longsor di sejumlah daerah di Provinsi Sumbar.
Hingga 1 Desember 2025 pukul 21.00 WIB, jumlah korban jiwa dalam bencana di Sumbar sebanyak 166 orang. Korban jiwa dari Agam tercatat sebanyak 118 orang.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto