Kampoeng Ramadhan Jogokariyan, yang telah memasuki tahun ke-22, menjadi magnet yang menarik kunjungan warga.
19 Feb 2026 08:04 WIB · Nasional
KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENG
Nama Jogokariyan selalu terngiang kala Ramadhan tiba, di Kota Yogyakarta. Di kampung kecil tersebut suasana Ramadhan terasa begitu kental, terutama pada sore hari menjelang waktu berbuka. Jogokariyan pun menjadi magnet yang setiap hari menarik ribuan orang untuk datang.
Salah satunya adalah Winda (30), warga Palbapang, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Bersama anak dan suaminya, dia datang ke Jogokariyan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta, Rabu (18/2/2026) sore.
Masjid Jogokariyan, seperti banyak masjid lain di Yogyakarta, mengikuti keputusan Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Rabu. Masjid itu pun menggelar shalat Tarawih pertama pada Selasa (17/2/2026) malam.
Karena itulah, Winda tak ragu menempuh perjalanan sejauh sekitar 12 kilometer tersebut dengan sepeda motor. Kerinduannya pada suasana Ramadhan di Jogokariyan harus dituntaskan sesegera mungkin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/18/4b00059cab128be22c651fdd70943533-20260218eng04.jpeg)
”Saya setiap Ramadhan kalau ada waktu luang pasti ke sini. Cari jajanan sekaligus berbuka puasa di Masjid Jogokariyan,” ujarnya.
Bagi Winda, suasana Jogokariyan saat Ramadhan begitu khas, sulit ditemui di tempat lain. Saking berkesannya, pada Ramadhan tahun lalu dia sampai empat kali berkunjung ke Jogokariyan.
Tahun ini jumlah porsinya bertambah menjadi 3.800 porsi, dari 3.500 porsi pada tahun lalu.
Setiap tahun, jalan sepanjang sekitar 500 meter yang membelah kampung di sudut barat daya Kota Yogyakarta itu disulap menjadi pasar sore. Ratusan pedagang menjajakan beraneka rupa kuliner yang dapat memenuhi segala selera.
Gapura berhias menambah semarak suasana. Di ruas jalan sekitar Masjid Jogokariyan, yang letaknya persis di titik tengah ruas Jalan Jogokariyan, hiasan makin meriah dengan ornamen lampu kertas dan kain warna-warni yang digantung melintang di ketinggian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/18/eca21624cfa678961e74fb101349250a-20260218eng01.jpeg)
Satu keistimewaan yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang yang tersaji di masjid, yakni takjil gratis. Tak tanggung-tanggung, pada tahun ini Masjid Jogokariyan menyediakan 3.800 porsi hidangan berbuka setiap hari.
”Tahun ini, jumlah porsinya bertambah dari 3.500 porsi pada tahun lalu,” ujar Ketua Panitia Kampoeng Ramadhan Jogokariyan Muhammad Falah Akbar.
Takjil gratis yang disiapkan itu pun bukan kelas camilan atau kudapan, melainkan menu makan berat. Pada Rabu atau buka puasa hari pertama, misalnya, panitia menyajikan menu berupa nasi opor ayam dengan telur bulat, sambal, dan kerupuk.
Panitia telah menyiapkan menu yang berbeda-beda untuk dihidangkan setiap hari selama Ramadhan ini. Menu itu, antara lain, gulai sapi, tongseng ayam, empal gentong, bakmoy telur, dan bistik galantin.
”Total ada sekitar 20 ragam menu yang disajikan selama Ramadhan ini,” kata Falah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/18/2726f7ffbd1d15ade07f2c229d938cdb-20260218eng06.jpeg)
Dia menjelaskan, pendanaan hidangan berbuka itu diperoleh dari donasi atau sedekah yang dibuka untuk umum. Setiap donatur bisa menyumbangkan satu porsi hidangan senilai Rp 15.000.
Adapun hidangan itu sendiri dimasak oleh ibu-ibu PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) di Kampung Jogokariyan. Terdapat 28 kelompok PKK yang menjadi sukarelawan untuk menyiapkan makanan tersebut setiap hari.
”Jumlah orang yang terlibat berkisar 500-600 orang,” ucap Falah.
Setiap pedagang bisa memperoleh omzet Rp 300.000 hingga Rp 1 juta setiap harinya.
Namun, hidangan berbuka puasa secara gratis itu tak menyurutkan minat pengunjung untuk jajan pada pedagang-pedagang kuliner di Jalan Jogokariyan. Lapak-lapak pedagang tersebut juga diinisiasi panitia Kampoeng Ramadhan Jogokariyan.
Falah mengatakan, pada tahun ini jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang meramaikan pasar sore Kampoeng Ramadhan Jogokariyan sebanyak 400 pedagang. Jumlah itu bertambah dibandingkan pada tahun lalu, yakni 350 pedagang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/05/09/20210509-ADI-Aliran-Uang-Ramadhan-mumed_1620572241.png)
”Kami pernah melakukan riset kecil-kecilan, setiap pedagang bisa memperoleh omzet Rp 300.000 hingga Rp 1 juta setiap harinya,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Takmir Masjid Jogokariyan Muhammad Rizqi Rahim mengatakan, dari jumlah UMKM tersebut, sebanyak 248 lapak diisi warga Kampung Jogokariyan sendiri. Hal ini diharapkan dapat membantu menggerakkan perekonomian kampung.
Di luar itu, Masjid Jogokariyan tentu saja tak lupa menempatkan syiar keagamaan sebagai napas utama selama Ramadhan. Selain ibadah wajib dan sunah, berbagai kegiatan, seperti ceramah dan kajian dengan pembicara tingkat nasional, bisa diikuti warga.
Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta pun mengapresiasi Masjid Jogokariyan dan warga yang setiap tahun rutin menggelar kegiatan ini. Ini merupakan tahun ke-22 penyelenggaraan Kampoeng Ramadhan Jogokariyan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/18/a37bc6dfad1b37ca9309fa0a81267d3e-20260218eng08.jpeg)
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Yogyakarta Yunianto Dwi Sutono mengatakan, Jogokariyan menjadi bagian penting dari wajah Kota Yogyakarta. Yunianto memberikan sambutan mewakili Wali Kota Yogyakarta saat membuka Kampoeng Ramadhan Jogokariyan 2026, Rabu sore.
”Banyak tamu yang datang dari luar daerah untuk menyaksikan bagaimana Ramadhan dirayakan di sini,” ujar Yunianto.
Menurut dia, Masjid Jogokariyan juga memiliki sejarah panjang dalam menggerakkan umat. Dari masjid inilah tumbuh berbagai kegiatan sosial, pelayanan jemaah, dan gerakan pemberdayaan masyarakat. ”Masjid hadir sebagai solusi di tengah persoalan masyarakat,” tuturnya.
Penulis:
Mohamad Final DaengEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto