Jobe Bellingham membayar kepercayaan sebagai pemain mula dengan mencetak gol perdana bersama Borussia Dortmund di Piala Dunia Antarklub 2025.
22 Jun 2025 19:22 WIB · Olahraga
Sepintas, tampaknya sulit membicarakan Jobe Bellingham tanpa membawa sang kakak, Jude. Wajar, mereka memulai di tempat yang sama, Akademi Birmingham City. Kini, Jobe bergabung dengan Dortmund, klub yang dibela Jude dalam kurun 2020-2023.
Namun, Jobe membuktikan bahwa ia bisa jadi bahan pembicaraan tanpa harus melibatkan kakaknya itu yang membela Real Madrid. Jobe perlahan keluar dari bayang-bayang Jude. Ia meniti jalannya sendiri dengan deram pembuktian.
Berselang empat tahun, sembilan bulan, dan satu minggu dari gol pertama Jude untuk Borussia Dortmund di Piala Jerman melawan Duisburg pada 2020, Jobe mengukir kisahnya sendiri di klub yang sama. Di Stadion Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, Sabtu (21/6/2025), dalam lanjutan laga Piala Dunia Antarklub 2025, Jobe mencetak gol pertamanya untuk Dortmund dalam debut penuhnya bersama klub itu.
Setelah mencetak gol pertamanya, Jude mengoleksi 23 gol lainnya dalam total 132 pertandingan untuk Dortmund sebelum bergabung dengan Real Madrid pada 2023.
Jobe jelas menunjukkan tanda-tanda bakat serupa dengan kakaknya. Namun, meski perbandingan itu tak terhindarkan, Jobe juga menunjukkan bahwa dia adalah dirinya sendiri yang juga punya kemampuan untuk bersinar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/30388035-a3bb-490a-9740-58ff9906a0ac_jpg.jpg)
Jobe Bellingham bahkan memilih untuk memakai ”Jobe” daripada nama belakangnya sebagai nama di bagian belakang jerseinya. Dia seolah ingin menciptakan identitasnya sendiri, terpisah dari saudaranya.
Jobe bergabung dengan Dortmund dari Sunderland hanya beberapa hari sebelum Piala Dunia Antarklub 2025. Pemain asal Inggris ini mendapatkan kesempatan debut dari bangku cadangan dalam laga pertama Dortmund yang berakhir imbang tanpa gol melawan Fluminense.
Pada pertandingan kedua, Jobe mendapatkan kesempatan bermain sebagai pemain mula. Kesempatan ini merupakan kejutan kecil, tetapi dia tampil dan membuat perbedaan saat dibutuhkan.
Ada begitu banyak pengawasan ketat terhadap Jobe jika dia tidak bermain dengan baik. Itu tidak adil karena dia masih sangat muda. - Mike Dodds -
Golnya ke gawang Sundowns pada menit ke-45 untuk kemenangan 4-3 Dortmund memperlihatkan antisipasi dan ketenangan Jobe. Gol itu juga menggambarkan kelincahan gelandang yang baru berusia 19 tahun ini.
Gol itu tercipta setelah Jobe mengatur waktu larinya dengan sempurna, tiba di dalam kotak penalti pada waktu yang tepat. Saat bola muntahan mengarah padanya, Jobe menguasai bola dengan dada, lalu menjauhkan bola dari pengawalan lawan. Dia lantas melepaskan tendangan voli ke gawang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/6e65c8f2-b9e1-4c33-9cef-4ba4a5e0a9f9_jpg.jpg)
Kemampuan itu tidak muncul tiba-tiba. Menurut pengakuan Jobe, proses gol tersebut merupakan hasil latihan berkali-kali, sesuatu yang memang dia asah. Jobe menilai, penting bagi seorang gelandang untuk menempa aspek itu.
”Saya berlatih proses seperti itu berkali-kali, bukan penyelesaian yang tepat. Akan tetapi, tiba di tepi kotak penalti sebagai gelandang adalah sesuatu yang harus Anda kuasai dengan sangat baik,” ucap Jobe dikutip kepada DAZN.
”Jika Anda bisa mencetak gol, menyumbang gol-gol semacam itu dalam jumlah tertentu per musim, maka Anda melakukannya dengan sangat baik,” ujarnya.
Menurut mantan gelandang Chelsea, John Obi Mikel, seorang gelandang bisa saja hanya mendistribusikan bola, lalu diam saja. Namun, Jobe menunjukkan keinginannya untuk tiba di kotak penalti dan ingin hadir di sana saat bola ternyata mengarah ke situ.
Bukan Jude. Melihat Jobe justru membuat Obi Mikel teringat gelandang legendaris dari Inggris lainnya, Frank Lampard. ”Lampard mencetak sekitar 20 gol setiap musim dengan berada di sana dan tiba di waktu yang tepat. Saya pikir Jobe akan mencetak banyak gol untuk Dortmund,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/13/a133ad34-69a2-47d0-a1ef-2ceee2ba2b76_png.png)
”Yang saya suka darinya adalah dia sangat langsung. Begitu menguasai bola, dia melihat ke atas, mengumpan ke depan, berlari ke depan. Dia ingin tiba di kotak penalti pada waktu yang tepat, dan itulah yang dia lakukan.”
”Kontrol dada dan tendangan voli, dia tidak akan mencetak gol ini jika dia tidak mengumpan dan kemudian berlari ke depan,” ujar Obi Mikel kemudian.
Jobe berkembang dalam permainan dan menunjukkan kekuatan dan tenaga di lini tengah bergerak ke arah depan. Jobe menekan dengan tujuan untuk memaksa lawan melakukan banyak kesalahan.
Kemampuannya menjadi penghubung antarlini hingga menjadi pemecah kebuntuan sebenarnya sudah terlihat di Sunderland. Di klub ini pula Jobe menunjukkan bahwa dia tidak hanya menumpang nama besar sang kakak.
Selama dua tahun di Wearside, Jobe hampir selalu hadir. Dia menjadi pemain inti dalam 85 dari 95 pertandingan Championship, kasta kedua Liga Inggris, dengan seragam Sunderland. Musim lalu, dia hanya absen dalam enam pertandingan, yaitu tiga karena skorsing dan tiga lainnya karena cedera.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/a4c990ab-3fb7-4ad0-82fd-6b2af30768e6_jpg.jpg)
Jobe bermain setiap menit dalam upaya klub yang berakhir sukses untuk promosi ke Liga Primer Inggris. Dari 40 pertandingan yang dimainkan pada musim reguler Championship, Jobe menyumbang empat gol dan tiga asis. Catatan ini mungkin tampak sederhana, tetapi kontribusinya melampaui angka-angka itu.
Mike Dodds, mantan manajer interim Sunderland, pernah mengatakan, karena nama belakangnya dan perbandingannya, terkadang ada analisis berlebihan untuk Jobe. Padahal, itu bukanlah sesuatu yang adil untuk Jobe.
”Ada begitu banyak pengawasan ketat terhadap Jobe jika dia tidak bermain dengan baik. Itu tidak adil karena dia masih sangat muda dan saya rasa orang-orang tidak menghargai betapa bagusnya dia untuk usianya,” kata Dodds kepada The Athletic pada 2024.
Terlepas dari itu, dengan deramnya, Jobe perlahan keluar dari bayang-bayang kakaknya. Dia melanjutkan upayanya untuk menciptakan identitas sendiri. Selanjutnya adalah melihat bagaimana dia mampu menjalani itu dengan penuh konsistensi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto