LIGA INGGRIS

Derbi London: Potensi Chelsea Bayangi Dominasi Arsenal

Derbi London nanti jadi momen terbaik bagi Chelsea untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Arsenal. Dengan presensi skuad terbaik, mereka tidak punya alasan lagi.

28 Feb 2026 15:00 WIB · Olahraga

AP Photo/Alastair Grant

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, SABTU — Chelsea memang belum pernah menang lagi atas Arsenal sejak sekitar 2021. Namun, dari pertemuan pada musim ini, mereka seolah bisa merasakan jarak yang semakin dekat untuk menaklukkan tim tetangga. Potensi ”Si Biru” itu akan bertabrakan dengan dominasi Arsenal yang merupakan realitas di derbi London.

Chelsea akan mengunjungi Arsenal dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Minggu (1/3/2026) pukul 23.30 WIB. Itu akan menjadi laga ketiga mereka di tahun ini. Mereka sudah bertemu dalam dua laga semifinal Piala Inggris di awal tahun. Chelsea takluk berturut-turut, 2-3 (kandang) dan 0-1 (tandang).

Sejak dipegang pelatih Liam Rosenior, awal Januari 2026, Chelsea baru pernah kalah dua kali dari dari 12 laga di seluruh kompetisi. Keduanya terjadi saat melawan Arsenal. ”Anda pasti akan kecewa jika kalah dari salah satu tim rival asal London, apalagi di semifinal kompetisi,” kata Rosenior menjelang derbi London pertamanya di liga.

Meskipun begitu, sang pelatih melihat banyak sisi positif dari pertemuan itu. Chelsea masih bisa merepotkan Arsenal walaupun bermain tanpa para pemain terbaik. Mereka tidak bisa diperkuat kapten tim sekaligus bek sayap andalan Reece James. Gelandang serang Cole Palmer juga hanya bisa tampil sebagai pengganti di laga kedua.

Gelandang Arsenal Martin Zubimendi berseteru dengan gelandang Chelsea Enzo Fernandez setelah laga pertama semifinal Piala Liga Inggris di Stadion Stamford Bridge, London, Inggris, Kamis (15/1/2026). Chelsea kalah 2-3 dalam pertandingan tersebut.

Dalam laga kedua semifinal di Stadion Emirates, awal Februari, Chelsea bahkan mampu menyulitkan tuan rumah dari sisi defensif dengan menampilkan lima bek sekaligus. Arsenal yang sudah unggul agregat satu gol, baru bisa memastikan kemenangan di menit-menit akhir, saat ”Si Biru” tampil menyerang total.

”Saya rasa ada masalah ketersediaan pemain. Bukan alasan. Bahkan, di laga pertama, saya juga baru memegang klub ini. Kita harus melihat itu dengan konteks yang tepat. Struktur permainan kami sangat bagus ketika tanpa bola. Dengan bola, mungkin kami bisa lebih agresif lagi. Kami ingin hasilnya berubah pada Minggu nanti,” ujar Rosenior.

Keyakinan besar dari kubu Chelsea sudah bersemi sejak pertemuan pertama di liga, akhir November lalu, saat masih dilatih Enzo Maresca. James dan rekan-rekan mampu menahan imbang Arsenal, 1-1, di kandang walaupun bermain hanya dengan 10 orang sejak babak pertama. Mereka bahkan lebih unggul dari sisi permainan.

Chelsea tidak akan datang dengan skuad penuh dalam derbi nanti. Beberapa pemain inti tidak tersedia, seperti bek sayap Marc Cucurella (cedera) dan Wesley Fofana (kartu merah). Namun, mereka memiliki skuad terbaik jika dibandingkan dengan tiga duel sebelumnya. Para pemain kunci, seperti James dan Palmer, tersedia.

Duel di akhir pekan pun menjadi momen pembuktian terbaik bagi ”Si Biru”. Mereka  akan terus berada di bayang-bayang Arsenal jika tidak mampu merealisasikan potensi besar yang dimiliki. Ada jurang antara keyakinan dan kenyataan. Realitasnya, Arsenal sudah menggantikan status Chelsea sebagai penguasa London belakangan ini.

Pemain sayap Chelsea Estevao (tengah) dikepung oleh dua pemain Arsenal, Martin Zubimendi (kanan) dan Leandro Trossard, dalam laga pertama semifinal Piala Liga Inggris di Stadion Stamford Bridge, London, Inggris, Kamis (15/1/2026).

Arsenal sudah hampir lima tahun tidak pernah kalah dari Chelsea, menang tujuh kali dari 10 laga terakhir di seluruh kompetisi. Terakhir kali mereka kalah, pada Agustus 2021, tim rival masih dipimpin pelatih Thomas Tuchel. Chelsea sudah menjalani derbi dengan lima pelatih berbeda sejak itu, dan selalu berujung antiklimaks.

Bukan tanpa alasan, Arsenal mulai disematkan status ”Raja London”. Mereka tidak hanya dominan ketika bertemu Chelsea, tetapi juga saat menghadapi tim London lain. Sejak ditangani manajer Mikel Arteta, rekor kemenangan Arsenal atas tim-tim London mencapai 60,89 persen (42 menang dari 69 laga). Itu merupakan persentase tertinggi, melampaui para manajer legendaris, seperti Jose Mourinho dan Arsene Wenger.

”Si Meriam” baru saja menunjukkan dominasi itu saat melumat Tottenham Hotspur dalam kemenangan 4-1 di markas lawan, pekan lalu. Modal besar itu yang dibawa Declan Rice dan rekan-rekan untuk membungkam potensi Chelsea. Di sisi lain, Chelsea datang dengan dua hasil imbang beruntun versus tim promosi.

Arteta berkata, penting untuk tidak terbuai dengan hasil masa lalu. ”(Tren positif) tidak mengubah persiapan kami. Kami tahu betapa pentingnya laga ini. Apa yang terjadi dua pekan atau dua tahun lalu sudah tidak relevan. Setiap laga punya konteks berbeda karena para pemainnya mungkin berbeda, begitu juga suasana dan urgensi tim. Kami hanya mempersiapkan yang terbaik,” jelas sang manajer.

Tuan rumah akan kembali mengandalkan striker Viktor Gyokeres yang juga tampil di tiga pertemuan sebelumnya. Bedanya, Gyokeres sedang berapi-api saat ini, apalagi setelah mencetak sepasang gol ke gawang Tottenham. Tidak ada satu pun pemain dari Liga Inggris yang lebih produktif dibandingkan Gyokeres (8 gol) pada 2026.

Arsenal's Viktor Gyoekeres, left, shoots to score his side's fourth goal during the English Premier League soccer match between Tottenham Hotspur and Arsenal in London, Sunday, Feb. 22, 2026.(AP Photo/Ian Walton)

Arsenal hanya perlu mencari cara untuk melayani sang striker, seperti saat di derbi London Utara pada pekan lalu. ”Kami tahu kualitasnya, dia tidak diragukan lagi adalah striker yang luar biasa. Kami hanya perlu mengembangkan kualitasnya dan lebih memahaminya. Dia selalu menuntut lebih kepada diri sendiri untuk membantu tim,” kata Arteta.

Isu disiplin juga bisa menjadi pembeda dalam derbi. Chelsea selalu bermasalah dengan isu tersebut sejak awal musim. Mereka sudah enam kali mendapatkan kartu merah di liga sepanjang musim ini, termasuk di laga terakhir. Jumlah itu merupakan yang terbanyak di liga. Berbanding terbalik dengan Arsenal yang belum pernah menerima kartu merah. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase