Desa yang bisa diakses masih di Tapanuli Utara. Korban meninggal mulai bisa dievakuasi. Sementara lokasi Tapanuli Tengah, Selatan, dan Sibolga masih terisolasi.
28 Nov 2025 20:51 WIB · Lingkungan
KOMPAS/NIKSON SINAGA
TARUTUNG, KOMPAS — Setelah empat hari penanganan, satu per satu desa yang terisolasi akibat banjir bandang dan longsor di Sumut mulai bisa ditembus. Namun, desa yang bisa diakses masih di sisi Tapanuli Utara. Korban meninggal mulai bisa dievakuasi. Sementara lokasi Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga masih terisolasi. Namun, akses komunikasi mulai bisa dilakukan ke sebagian wilayah.
Pantauan Kompas, Jalan Tarutung-Sibolga sudah bisa diakses sampai Kilometer 38 di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (28/11/2025).
Petugas gabungan sudah membersihkan puluhan titik longsor yang sebelumnya menutup jalan, mulai dari Kilometer 14. Selama empat hari penanganan, sejumlah alat berat berhasil membuka lebih dari 30 titik longsor di sepanjang 24 kilometer jalan.
”Saat ini masih tersisa 24 kilometer lagi untuk bisa tembus sampai Kota Sibolga. Pembersihannya kami perkirakan bisa memakan waktu (sampai) beberapa hari ke depan,” kata Kepala Kepolisian Resor Tapanuli Utara Ajun Komisaris Besar Ernis Sitinjak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/28/31581cf9-7d53-4455-8e95-8a5d6cd8c0cb_jpg.jpg)
Setelah akses jalan bisa dibuka, petugas gabungan langsung mengirim bahan pokok ke dua desa yang sudah empat hari terisolasi, yakni Desa Sibalanga dan Pagaranpisang. Petugas juga membuka dapur umum di dua desa itu.
Sejumlah ekskavator dan mobil pemadam kebakaran juga langsung dikerahkan untuk mengevakuasi korban yang tertimbun lumpur dan material longsor.
Di Desa Sibalanga, kata Ernis, sebanyak 15 warga dilaporkan hilang dan diduga tertimbun lumpur. Petugas langsung bekerja dan menemukan dua orang korban meninggal. Keduanya langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah Tarutung untuk identifikasi.
Petugas juga membuka dapur umum di dua desa tersebut. Mereka menghidupkan generator listrik untuk layanan listrik darurat. Petugas juga membuka layanan internet satelit, tetapi sinyalnya masih sangat terbatas sehingga sulit digunakan.
Ernis mengatakan, pihaknya berfokus membuka jalur ke arah Tapanuli Tengah, mengevakuasi korban, dan memasok bahan pokok.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/28/0081d7b6-ba2b-4ad1-8814-9ec06b40f6c2_jpg.jpg)
Jalan Tarutung-Sibolga disiapkan menjadi jalur utama untuk memasok bahan pokok ke kawasan Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan yang berada di pesisir barat Sumut itu.
Mobil-mobil masih mengantre panjang di jalur itu. Mereka adalah truk pengangkut kebutuhan logistik, warga yang ingin melintas, dan keluarga yang ingin mencari kabar tentang keluarganya.
Dinda Hutabarat (28) dan empat orang saudaranya sudah empat hari berupaya mengakses Desa Sibalanga. Mereka datang dari Medan dan Jakarta. Dia mendapat kabar kalau ayah, ibu, dan seorang adiknya hilang dan diduga tertimbun longsor.
Mereka akhirnya tiba di Desa Sibalanga pada Jumat (28/11/2025) pagi dan menemukan rumahnya sudah roboh dan tertimbun lumpur setinggi tiga meter. ”Semoga orangtua dan adik kami bisa segera ditemukan,” kata Dinda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/28/3cc14d71-4541-45c1-86a8-b109e388afa0_jpg.jpg)
Diana Sitompul (45), sejak Selasa (25/11/2025) hilang kontak dengan suaminya di Kota Sibolga. Dia dan anaknya sudah tiga hari tertahan di Jalan Tarutung-Sibolga. Mereka tidur di dalam mobil yang diparkir di pinggir jalan.
Pada Jumat malam, Diana akhirnya mendapat telepon dari suaminya. Dia menangis sambil memeluk anak perempuannya yang masih berusia lima tahun. ”Sudah empat hari kami menangis terus menunggu kabar dari Bapak. Anak saya sampai berjalan kaki dari Kamis pagi. Sampai sekarang belum sampai di Sibolga,” kata Diana kepada suaminya.
Kepala Bidang Humas Polda Sumut Komisaris Besar Ferry Walintukan mengatakan, sebanyak 12 kabupaten dan kota di Sumut mengalami bencana banjir bandang dan longsor akibat hujan lebat yang terjadi sejak Minggu (23/11/2025).
Hingga Jumat (28/11/2025), sebanyak 62 orang dilaporkan meninggal akibat bencana di Sumut. Namun, masih ada beberapa laporan meninggal yang belum dimasukkan dalam data tersebut. Korban meninggal di sejumlah lokasi di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga juga belum semuanya dilaporkan.
Penulis:
Nikson SinagaEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase