POLITIK AS

Di AS dan Eropa, Unjuk Rasa Anti-Trump ”No Kings” Kembali Bergelora

Pengunjuk rasa memprotes kebijakan pemerintahan Trump yang kontroversial, termasuk perang terhadap Iran, imigrasi, dan peningkatan biaya hidup.

29 Mar 2026 14:30 WIB · Internasional

AFP/ETIENNE LAURENT

Oleh Elsa Emiria Leba

ST PAUL, MINGGU — Ratusan ribu orang di Amerika Serikat turun ke jalan dalam unjuk rasa atas berbagai kebijakan Presiden AS Donald Trump, termasuk perang di Iran. Di Eropa, unjuk rasa serupa juga terjadi.

Kerumunan besar berkumpul dalam unjuk rasa yang bertajuk Menolak Raja (No Kings) di New York, Washington DC, California, Minnesota, dan negara-negara bagian lain sepanjang Sabtu (28/3/2026) waktu setempat. Gelombang unjuk rasa tersebut menjadi gelombang ketiga setelah unjuk rasa yang lalu berhasil menarik hingga jutaan orang.

Para penyelenggara unjuk rasa menyatakan, mereka memprotes kebijakan pemerintahan Trump yang kontroversial. Kebijakan-kebijakan itu, antara lain, perang AS-Israel terhadap Iran, penegakan hukum imigrasi yang menimbulkan korban jiwa, dan meningkatnya biaya hidup.

”Trump ingin memerintah kita sebagai seorang tiran. Akan tetapi, ini Amerika dan kekuasaan adalah milik rakyat, bukan milik calon raja atau kroni miliarder mereka,” kata para penyelenggara, menurut BBC.

Para penyelenggara mencatat, ada lebih dari 3.100 acara berlangsung di 50 negara bagian selama unjuk rasa No Kings pada Maret. Unjuk rasa kali ini diharapkan bisa menarik 9 juta peserta. Tahun lalu, gelombang unjuk rasa No Kings menarik lebih dari 5 juta orang pada Juni 2025 dan 7 juta orang pada Oktober 2025.

Para pengunjuk rasa berkumpul dalam unjuk rasa No Kings yang diselenggarakan oleh Remove the Regime di National Mall, Washington, DC, Amerika Serikat, Sabtu (28/3/2026). Aksi ini merupakan unjuk rasa No Kings ketiga yang digelar secara nasionaluntuk menentang pemerintahan Presiden Donald Trump.
Seorang anak perempuan mengikuti aksi gelombang unjuk rasa Menolak atau No Kings di National Mall, Washington DC, Amerika Serikat, yang diselenggarakan oleh Remove the Regime, Sabtu (28/3/2026). Aksi ini merupakan unjuk rasa No Kings ketiga secara nasional yang digelar untuk menentang pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di Washington, para pengunjuk rasa berbaris di tangga Monumen Lincoln dan memadati National Mall. Seperti pada unjuk rasa No Kings sebelumnya, para pengunjuk rasa mengangkat patung tiruan Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan pejabat lain di pemerintahan. Mereka menuntut pemecatan dan penangkapan para pejabat itu.

”Perang di Iran adalah perang bodoh. Tidak ada yang menyerang kami. Kami tidak perlu berada di sana (Timur Tengah),” tutur Morgan Taylor (45) di Washington, yang berunjuk rasa bersama putranya.

Ribuan orang memadati Times Square, New York. Polisi harus menutup jalan-jalan yang biasanya ramai untuk memberi jalan bagi kerumunan. Sekitar 40.000 orang berdemonstrasi di San Diego, California.

Protes juga berjalan di negara-negara bagian yang cenderung konservatif, termasuk Wyoming, Montana, Utah, dan Louisiana. Di Topeka, Kansas, unjuk rasa berlangsung di luar Gedung Negara dengan para peserta menirukan raja katak dan Trump sebagai bayi. Unjuk rasa bahkan terjadi di Driggs, sebuah kota kurang dari 2.000 penduduk di Idaho yang memberi Trump 66 persen suara dalam pemilihan presiden 2024.

Beberapa negara di Eropa, Amerika Latin, dan Australia pun menggelar unjuk rasa No Tyrants yang menentang tirani, Sabtu. Kerumunan yang terdiri atas sekitar 20.000 orang terbentuk di Paris, Perancis; London, Inggris; Amsterdam, Belanda; Roma, Italia; Madrid, Spanyol; dan Lisabon, Portugal. Protes-protes itu juga diikuti oleh warga ekspatriat AS.

Para pengunjuk rasa menyebut Trump sebagai fasis dan penjahat perang, serta menyerukan pemakzulan presiden. ”Saya memprotes semua perang Trump yang ilegal, tidak bermoral, sembrono, dan tidak berdaya,” ucap Ada Shen, salah satu penyelenggara di Perancis.

Protes Minnesota

Unjuk rasa di Minnesota, khususnya, menjadi pusat perhatian. Ribuan orang berkumpul di gedung parlemen negara bagian itu guna menyuarakan penolakan terhadap kebijakan agresif Trump, termasuk operasi imigrasi oleh Badan Penegakan Bea Cukai dan Imigrasi AS (ICE). Pada Januari lalu, dua warga AS, yakni Renee Nicole Good dan Alex Pretti, tewas oleh ICE.

Para pengunjuk rasa membawa spanduk. Salah satu spanduk bertuliskan, ”Kami punya peluit, mereka punya senjata. Revolusi dimulai di Minneapolis”.

Ratusan ribu orang mengikuti aksi unjuk rasa No Kings di St Paul, Minnesota, Amerika Serikat, Sabtu (28/3/2026). Aksi ini merupakan bagian dari gelombang protes nasional yang digelar untuk menentang pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Para pengunjuk rasa membawa poster di dekat resor Mar-a-Lago milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam aksi unjuk rasa nasional No Kings di Palm Beach, Florida, Kamis (28/5/2026). Aksi protes yang digelar di beberapa kota di AS ini merupakan bagian dari gelombang unjuk rasa yang menentang pemerintahan Trump yang dinilai otoriter.
Seorang pengunjuk rasa memperlihatkan poster bergambar orang-orang yang tewas selama operasi imigrasi di depan Balai Kota Los Angeles, California, Sabtu (28/3/2026), dalam aksi unjuk rasa nasional No Kings. Aksi protes di beberapa kota di AS ini digelar untuk menentang Presiden Donald Trump atas apa yang mereka nilai sebagai kecenderungan otoriter dan kebijakan yang melanggar hukum.
Seorang pria mengenakan kostum Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat aksi unjuk rasa nasional No Kings untuk memprotes penegakan imigrasi dan kebijakan federal di depan Balai Kota Los Angeles, California, Sabtu (28/3/2026). Aksi ini merupakan unjuk rasa No Kings ketiga yang digelar secara nasional untuk menentang pemerintahan Trump.
Seorang peserta aksi mengangkat poster bertuliskan Menolak Raja atau No Kings di depan Gedung Capitol, Washington DC, Amerika Serikat, saat unjuk rasa untuk mendorong pemakzulan, penghukuman, dan penggulingan rezim pada Sabtu (28/3/2026).
Seorang pria berdiri sambil memegang bendera Amerika Serikat terbalik dalam unjuk rasa No Kings di Washington DC, Sabtu (28/3/2026). Aksi protes nasional ini digelar untuk menentang Presiden Donald Trump, dengan jutaan warga meluapkan kemarahan atas apa yang mereka nilai sebagai kecenderungan otoriter dan kebijakan yang dianggap melanggar hukum.

Gubernur Minnesota Tim Walz mengatakan, perlawanan terhadap Trump menjadikan mereka ”jantung dan jiwa” dari segala hal baik tentang AS. Walz merupakan calon wakil presiden dari Partai Demokrat pada tahun 2024 melawan Trump.

”Mereka menyebut kami radikal. Anda benar sekali, kami telah diradikalisasi oleh belas kasih, kesopanan, proses hukum yang adil, demokrasi, dan melakukan semua yang kami bisa untuk menentang otoritarianisme,” tutur Walz.

Sejumlah aktivis, selebritas, tokoh ternama, dan pejabat Demokrat berpartisipasi dalam unjuk rasa, termasuk penyanyi Joan Baez, aktris Jane Fonda, dan Senator Bernie Sanders. Penyanyi Bruce Springsteen membawakan lagu penghormatan untuk dua korban ICE yang berjudul ”Streets of Minneapolis”.

”Kekuatan dan komitmen kalian memberi tahu kami bahwa ini masih Amerika. Dan mimpi buruk ini, dan serangan ke kota-kota Amerika, tidak akan dibiarkan begitu saja,” ujar Springsteen.

Penyanyi Bruce Springsteen tampil di atas panggung saat ratusan ribu orang mengikuti aksi unjuk rasa No Kings di St. Paul, Minnesota, Amerika Serikat, Sabtu (28/3/2026). Aksi ini merupakan bagian dari gelombang protes nasional terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Sebelum Springsteen naik panggung, para penyelenggara memutar video dari aktor kawakan Robert De Niro. De Niro mencela Trump, memuji gerakan rakyat, dan mengucapkan selamat kepada warga Minnesota karena telah mengusir ICE dari kota.

”Donald Trump mungkin berpura-pura tidak mendengarkan, tetapi dia tidak bisa mengabaikan jutaan orang di jalanan hari ini,” kata Randi Weingarten, Presiden Federasi Guru Amerika.

Reaksi Gedung Putih

Juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, menggambarkan unjuk rasa No Kings sebagai produk dari ”jaringan pendanaan sayap kiri”. ”Satu-satunya orang yang peduli dengan Sesi Terapi Kegilaan Trump itu adalah para reporter yang dibayar untuk meliputnya,” katanya dalam pernyataan.

Komite Kongres Republik Nasional (NRCC), sebagai pendukung Trump, turut mencela unjuk rasa yang didukung sejumlah politisi Demorat tersebut. Juru bicara NRCC Maureen O’Toole menamai demonstrasi itu sebagai ”unjuk rasa benci Amerika”.

Beberapa negara bagian AS mengerahkan pasukan Garda Nasional untuk menjaga keamanan saat protes. Mayoritas protes berjalan damai, tetapi tidak tanpa insiden. Di Los Angeles, dua orang ditangkap karena menyerang petugas penegak hukum federal, menurut Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS). Penangkapan juga terjadi di Dallas, Texas, setelah para pengunjuk rasa mengganggu unjuk rasa pendukung No Kings.

Para pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan; Hentikan Perang, Stop ICE, Mogok Nasional pada 1 Mei”, saat berbaris dalam unjuk rasa nasional No Kings di Chicago, Amerika Serikat, Sabtu (28/3/2026). Aksi yang berlangsung di berbagai kota di AS ini merupakan bagian dari gelombang protes besar terhadap Presiden AS Donald Trump, termasuk kebijakannya dalam operasi imigrasi dan perang di Timur Tengah.
Bongkahan beton yang hancur berserakan di tanah saat polisi berkuda Los Angeles mengenakan masker gas mendekat dalam aksi protes nasional No Kings di Los Angeles, California, Amerika Serikat, Sabtu (28/3/2026). Aksi ini merupakan unjuk rasa No Kings ketiga yang digelar secara nasional untuk menentang pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump telah memperluas cakupan kekuasaan presiden. Ia menggunakan perintah eksekutif untuk membubarkan sebagian pemerintah federal, mengerahkan Garda Nasional ke kota-kota AS, dan membalas musuh-musuh politiknya.

Para kritikus memperingatkan, beberapa langkah pemerintahan Trump tidak konstitusional. Alhasil, demokrasi AS terancam. Namun, Trump menolak tuduhan telah bertindak seperti seorang diktator.

”Mereka menyebut saya sebagai raja. Saya bukan raja,” kata Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Oktober 2025.

The New York Times pada Februari 2025 melaporkan, Trump pernah menyamakan dirinya dengan seorang raja saat merayakan langkah pemerintahannya untuk menjegal salah satu program di New York. Gedung Putih selanjutnya menyebarkan gambar ilustrasi Trump mengenakan mahkota di sampul majalah yang menyerupai Time.

Unjuk rasa kali ini terjadi menjelang perhelatan pemilu paruh waktu di AS pada November 2026. Pemilu itu akan menentukan ulang posisi mayoritas di Kongres yang tengah dikuasai Republikan. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menemukan, tingkat kepuasan publik terhadap Trump telah turun ke 36 persen, terendah sejak ia kembali menjabat. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji