Start lomba dimajukan 30 menit untuk mengatasi sengatan matahari di Magelang. Ada tips untuk para pelari agar bisa menaklukkan Bank Jateng Borobudur Marathon 2024.
19 Nov 2024 18:15 WIB · Olahraga
Jika ada satu lagu yang paling tidak cocok menjadi musik latar Borobudur Marathon, maka itu adalah ”Mengejar Matahari” milik penyanyi ternama Ari Lasso. Para peserta ajang lomba lari jalan raya di Magelang, Jateng, tersebut justru berjibaku ”dikejar” matahari.
Peserta tahun lalu, Lestari Octavia (48), merasakan sendiri, sengatan matahari terasa berbeda di Magelang. ”Saya finis jam 9-an saja (separuh maraton) sudah kerasa sepanjang rute, menyengat. Panasnya luar biasa. Apalagi suami yang maraton,” kata perempuan asal Depok, Jabar, itu.
Start 30 menit lebih awal itu suatu batu loncatan yang cukup baik tahun ini. Kami ingin lebih awal agar semua peserta bisa menyelesaikan lomba sebelum terlalu panas.
Pada edisi 2023, lomba dihentikan pada pukul 10.30 WIB atau satu setengah jam lebih awal. Keselamatan pelari diprioritaskan. Banyak yang terserang heat stroke akibat cuaca terlampau panas. Jika lomba dilanjutkan, tenda medis berpotensi tidak bisa menampung lagi para peserta yang butuh perawatan.
Belajar dari pengalaman berharga tahun lalu, berbagai penyesuaian dilakukan untuk Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 pada Minggu (1/12/2024). Salah satunya waktu start lomba maraton dimajukan setengah jam lebih awal jadi pukul 04.30 WIB. Lomba dimulai pukul 05.00 pada edisi lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/21/c5d3f5d2-1f7b-4ca2-9e17-eeef62ee885c_jpg.jpg)
Menurut Direktur Lomba Borobudur Marathon 2024 Andreas Kansil, start lebih ideal jika dilakukan satu jam lebih cepat. Namun, itu sulit direalisasikan tahun ini karena faktor kesiapan pengamanan jalur oleh pihak kepolisian dan dinas perhubungan setempat serta area yang masih sangat gelap.
”Start 30 menit lebih awal itu suatu batu loncatan yang cukup baik tahun ini. Kami ingin lebih awal agar semua peserta bisa menyelesaikan lomba sebelum terlalu panas. (Walaupun sudah masuk musim hujan), berharap suhu sejuk agak sulit karena lomba di negara tropis,” ujar Andreas.
Sistem peringatan cuaca diberlakukan untuk pertama kali pada edisi nanti. Panitia akan memberikan indikator kondisi cuaca di sepanjang rute lewat bendera berwarna hijau, kuning, merah, dan hitam. Semakin gelap warna bendera, cuaca lebih panas. Warna hitam, contohnya, berarti kondisi sangat tidak ideal dan para pelari harus lebih berhati-hati.
Indikator itu terbilang krusial karena cuaca terik tidak selalu menandakan kondisi sedang tidak ideal. Kelembaban tinggi yang tidak terlihat turut berperan besar. Seperti di Jakarta Running Festival 2024, Oktober lalu, banyak peserta terserang heat stroke walaupun suhu masih ideal untuk berlari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/19/2bdfd6a2-c87e-4c18-af5f-584eccde22b1_jpg.jpg)
Mengantisipasi badai serangan heat stroke, sistem pelayanan medis turut ditingkatkan. Selain meningkatkan kapasitas tenda medis hingga dua kali lipat, ajang lomba lari jalan raya berstatus ”Label” dari World Athletic itu juga menghadirkan sistem baru bernama pusat komando medis.
Nantinya, setiap petugas medis akan menggunakan kamera yang tersambung langsung ke aplikasi konferensi video Zoom. Terdapat satu orang koordinator yang akan memantau dan mengatur alur kerja para petugas. Diharapkan, pelayanan bisa menjadi lebih cepat dan efisien.
Direktur Medis Borobudur Marathon 2024 dr Andi Kurniawan memberikan tips untuk bisa bertarung dengan cuaca panas. Cara paling ampuh adalah aklimatisasi atau penyesuaian tubuh terhadap kondisi cuaca. Latihan harus sudah mulai dilakukan sejak dua pekan sebelum lomba.
”Misalnya saya biasa (finis) maraton dalam enam jam. Berarti, kan, start dari pukul 04.30 dan selesai 11.00. Jadi, selama dua minggu saya harus berlari pada pukul 09.00-11.00 untuk aklimatisasi supaya tubuh kita beradaptasi dengan cuaca pada jam itu,” kata Andi, dokter spesialis kedokteran olahraga.
Para pelari juga harus lebih mengenal kemampuan diri sendiri. Beberapa gejala heat stroke antara lain gangguan napas, kebingungan, dan suhu tubuh naik hingga 40 derajat celsius. Jika mengalami hal itu, mereka harus segera memperlambat laju atau berhenti sejenak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/19/e1224d94-502f-4205-8a2f-7b0132d0a6db_jpg.jpg)
Waktu tidur, kata Andi, perlu menjadi perhatian. Dengan lomba dimulai lebih cepat, peserta maraton juga harus tidur lebih awal. ”Jadi, harus bangun lebih pagi agar sempat pemanasan. Jangan sampai tergesa-gesa dan tubuh tidak siap untuk lomba. Kalau bisa, tidur delapan jam. Itu mutlak,” tuturnya.
Demi mengurangi risiko, Borobudur Marathon tetap akan memberlakukan cut-off point di tiga titik untuk lomba maraton. Titik satu di Km 10,3 (1 jam 40 menit), titik dua di Km 21,1 (3 jam 30 menit), dan titik ketiga di Km 35 (5 jam 50 menit). Selain itu, terdapat juga spons dan air dingin di banyak titik rute untuk menormalkan suhu tubuh.
Tantangan berlari dari matahari di Borobudur Marathon memang tidak mudah, tetapi itu sebanding dengan pengalaman yang didapatkan. Seperti dirasakan Lestari yang kembali untuk kedua kali pada tahun ini, bersama suami dan anak, walaupun sedang dalam kondisi cedera paha.
”Saya pertama ikut tahun lalu dan memutuskan ikut lagi tahun ini. Rutenya menyenangkan. Start di candi dan cheering (dari warga) juga menyenangkan. Buat saya, ketika orang yang tidak lari ikut bersenang-senang, vibes-nya sangat positif,” pungkas Lestari yang diberikan rambutan oleh warga sekitar saat berlari.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji Dewabrata