Tanah Thailand selalu berpihak kepada tim beregu putri Indonesia dalam edisi-edisi sebelumnya, tetapi tidak sama halnya dengan tim Thailand yang selalu menghantui.
09 Des 2025 18:35 WIB · Olahraga
humas pp pbsi
BANGKOK, KOMPAS — Sebelum ini, SEA Games sudah tiga kali digelar di Thailand. Ada satu hal yang tidak pernah berubah dari setiap gelaran di ”Negeri Seribu Pagoda” tersebut, yaitu tim beregu putri bulu tangkis Indonesia selalu pulang dengan emas. Takdir baik diharapkan berpihak lagi di final kali ini walaupun realitas terkini berkata sebaliknya.
Terakhir kali SEA Games berlangsung di Thailand, edisi 2007, terakhir pula tim putri ”Merah Putih” meraih kejayaan dalam ajang dua tahunan tersebut. Tanah Thailand selalu membawa berkah untuk Indonesia, termasuk pada SEA Games edisi 1985 dan 1995. Jika sekali mungkin hanya kebetulan, berbeda kalau sudah tiga kali beruntun.
Setelah paceklik emas 18 tahun, Indonesia kembali ke ”tanah impian”. Putri Kusuma Wardani dan rekan-rekan kini hanya terpaut satu kemenangan dari emas beregu putri SEA Games Thailand 2025. Mereka akan menantang tuan rumah Thailand dalam laga final di Stadion Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Rabu (10/12/2025).
Jadi, ’nothing to lose’ sajalah. Setelah 2007, sekarang 2025, itu sudah 18 tahun (tidak juara). Ya, kalau memang mau buat sejarah lagi, ya, di sini. Beregu, kan, kita tidak bisa prediksi, ada tegang dan faktor lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/be064dd8c99049f7831b205e33458c96-RAN04451.JPG)
”Kayanya lupa juga mereka (soal momen itu), ha-ha-ha,” kata Putri, tunggal utama Indonesia, saat ditanya apakah tim termotivasi lebih berkat kenangan manis di 2007. ”Motivasi aku (lebih) karena ikut di SEA Games Vietnam saat kami kalah dari Thailand. Sekarang ingin jadi juara dan mengalahkan Thailand,” lanjutnya.
Tanah Thailand memang selalu bertuah bagi tim putri. Namun, kisah-kisah di masa lalu itu sudah kurang relevan dari konteks jarak waktu ataupun peta kekuatan. Di 2007, misalnya, Indonesia masih sangat dominan di level Asia Tenggara. Terbukti, mereka menyapu bersih emas SEA Games di tujuh nomor yang dipertandingkan ketika itu.
Tim putri Indonesia era 2007 juga berisikan nama-nama legendaris, seperti Maria Kristin Yulianti, Greysia Polii, hingga Liliyana Natsir. Saat bersamaan, bulu tangkis putri Thailand belum berkembang pesat seperti sekarang. Adapun di final nanti, Thailand datang berstatus juara bertahan beregu putri di lima edisi beruntun.
Mirisnya, di tiga edisi terakhir, Thailand selalu menaklukkan Indonesia di final. ”Jadi, nothing to lose sajalah. Setelah 2007, sekarang 2025, itu sudah 18 tahun (tidak juara). Ya, kalau memang mau buat sejarah lagi, ya, di sini. Beregu, kan, kita tidak bisa prediksi, ada tegang dan faktor lainnya,” kata pelatih tunggal putri Indonesia, Imam Tohari.
Menurut Imam, tim tuan rumah jauh lebih diunggulkan jika berdasarkan hitung-hitungan di atas kertas. Thailand memiliki tiga tunggal putri yang masuk ranking 12 besar dunia, yaitu Pornpawee Chochuwong (6), Ratchanok Intanon (8), dan Supanida Katethong (12). Jika mereka semua menang, Indonesia dipastikan tamat.
”Thailand tiga tunggalnya kuat. Kita punya dua ganda. Karena itu, saya berharap tunggal ini bisa nyolong satu, siapa pun yang besok diturunkan. Kita di tunggal mengandalkan Putri dan Gregoria (Mariska Tunjung), tetapi secara prestasi terakhir para pemain lawan masih lebih di atas,” jelas Imam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/08/8e6e5d5e-674d-4084-9c59-e42a09a9c117.jpg)
Putri (7) hanya kalah satu peringkat dunia dari Chochuwong. Namun, atlet 23 tahun itu tertinggal 1-8 dalam rekor pertemuan dengan sang lawan. Satu-satunya hal positif dari rekor itu adalah kemenangan Putri diraih dalam pertemuan terakhir di perempat final Piala Sudirman 2025, Mei lalu.
Gregoria, peringkat ke-10 dunia, kalah jauh dalam rekor pertemuan dari Intanon 3-10. Greogria juga takluk dalam pertemuan terakhir di Kumamoto Masters 2025, November lalu. Ditambah performa peraih perunggu Olimpiade Paris 2024 itu dipertanyakan seusai takluk dari pemain muda Malaysia, Wong Ling Ching, di semifinal kemarin.
Di sektor ganda putri, Indonesia mengandalkan Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari. Rachel/Febi sedang dalam momentum positif setelah merepotkan ganda ranking dua dunia Pearly Tan/Thinaah Muralitharan. Febriana/Meilysa sudah menyumbang poin di semifinal.
Jika pertandingan berlangsung hingga partai kelima, Indonesia bisa lebih diunggulkan dari sisi psikologis. Putri dan kawan-kawan sudah melewati partai sengit di semifinal saat menang 3-2 atas Malaysia. Poin penentu itu dipersembahkan tunggal 19 tahun Mutiara Ayu Puspitasari yang tampil begitu berani dan percaya diri.
Mutiara siap memberikan yang terbaik jika dipercaya lagi. ”Kalau saya diturunkan lagi, ada semangat lebih karena, kan, tinggal selangkah lagi. Saya main, kan, di partai kelima. Komposisi tim cukup kuat saat ini, jadi saya cukup yakin kami bisa juara,” kata pemain yang berada di peringkat ke-76 dunia tersebut.
Adapun tim putri Thailand baru bermain sekali dalam SEA Games kali ini, saat semifinal. Mereka menang mudah atas Singapura 3-0. Ganda kedua dan tunggal ketiga mereka belum pernah tampil. Tim tuan rumah mendapatkan keuntungan dalam undian jadwal untuk lolos langsung ke semifinal tanpa bertanding.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Kelvin Hianusa dan Rebiyyah Salasah dari Bangkok, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto