Militer Israel memandu jurnalis melihat kondisi Gaza.
07 Nov 2025 08:11 WIB · Internasional
AP/Ohad Zwigenberg
Sebuah kendaraan militer Israel berjalan membelah jalan yang penuhi bangunan rusak layaknya melewati kawasan yang porak-poranda. Di beberapa sudut nampak pasukan Israel berjaga di tempat tersembunyi dengan persenjataan lengkap.
Hamparan kota yang dulu indah dan tertata kini musnah, berganti gundukan puing yang tak lagi berbentuk. Tidak nampak adanya tanda-tanda kehidupan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/07/e0f473a6-e269-4582-88c2-a8254c828d57_jpg.jpg)
Beberapa bangunan yang masih berdiri di wilayah utara Gaza ini tampak menonjol dari tanah, bagaikan tulang-tulang yang patah. Di sekitarnya, lingkungan perkotaan yang dulunya padat telah hancur, dirobohkan, atau dihancurkan menjadi puing-puing dan debu.
Militer Israel, Rabu (5/11/2025), memandu kelompok kecil jurnalis, termasuk salah seorang fotografer AP dalam kelompok itu. Para jurnalis dibawa dalam tur ke sebuah area di tepi timur Kota Gaza yang dihancurkan karena dituding sebagai pangkalan militan Hamas.
Penghancuran Shijaiya, sebuah permukiman luas yang berada di dekat kibbutz di Gaza dimulai saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang telah memicu perang. Sejak Januari, militer telah secara sistematis menghancurkan permukiman di Gaza utara, Rafah di bagian paling selatan wilayah Palestina, dan di Khan Younis di dekatnya, sebagaimana ditunjukkan oleh foto-foto satelit.
”Yang perlu kita lakukan di wilayah ini adalah memastikan bahwa ini adalah zona bebas teror, dan Hamas tidak kembali ke wilayah ini,” ujar juru bicara militer, Letkol Nadav Shoshani, kepada para wartawan saat kunjungan tersebut. Shoshani menambahkan, wilayah yang telah dihancurkan tidak akan bisa dibangun kembali karena merupakan teror yang dibuktikan dengan adanya terowongan sedalam 100 meter di bawah rumah yang sekarang menjadi reruntuhan.
Shoshani mengatakan, baru-baru ini, militan bahkan telah berupaya memasang persenjataan baru di daerah tersebut. Selama kunjungan dua jam ke daerah tersebut, tidak ada tanda-tanda keberadaan siapa pun kecuali tentara Israel. Salah satu dari mereka mengenakan kaus bertuliskan slogan yang menjelaskan misi mereka.
Sejauh mata memandang hanya hancurnya kehidupan di Gaza.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto