Presiden Prabowo Subianto melihat masih terlalu banyak penyelewengan, korupsi, dan manipulasi yang dilaksanakan justru di tubuh pemerintahan dan kekuasaan.
02 Jun 2025 12:00 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto menilai, Pancasila semestinya tak hanya menjadi slogan. Justru para elite bangsa perlu melaksanakan nilai-nilai Pancasila, memperbaiki diri, dan menghilangkan korupsi.
Hal ini disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam amanatnya pada upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (2/6/2025).
Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila segera dimulai setelah pukul 09.00 WIB Presiden Prabowo tiba di Kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta. Sesaat sebelumnya, Wakil Presiden Gibran Rakabumingraka juga hadir.
Selain itu, tampak hadir Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Hadir pula Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP Try Sutrisno sekaligus Wakil Presiden (1993-1996) serta Wakil Presiden (2004-2009 dan 2014-2019) Jusuf Kalla dan para menteri Kabinet Merah Putih.
Saya, sebagai Presiden RI, melihat masih terlalu banyak penyelewengan, korupsi, manipulasi yang dilaksanakan justru di tubuh pemerintahan, di tubuh kekuasaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/be0bffc6-1071-4de9-a7cb-b3cc3b799800_jpg.jpg)
Presiden Prabowo Subianto bertindak sebagai inspektur upacara. Kolonel Marinir Ahmad Hadi Alhasni yang lulusan Akademi TNI Angkatan Laut (AAL) 2001 dan saat ini menjabat Komandan Pangkalan TNI AL Mataram Nusa Tenggara Barat bertindak sebagai komandan upacara. Adapun Brigadir Jenderal (TNI) Edi Saputra yang juga Kepala Staf Garnisun Tetap 1 Jakarta menjadi perwira upacara.
Setelah mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta, teks Pancasila dibacakan Ketua MPR Ahmad Muzani. Ketua DPD Sutan Bachtiar Najamudin kemudian membacakan Pembukaan UUD 1945.
Pancasila, menurut Presiden Prabowo, dirumuskan dan dicapai sebagai konsensus besar bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Pancasila harus diakui sebagai prestasi cemerlang bangsa Indonesia yang ditakdirkan bersatu kendati terdiri atas ribuan kelompok etnis dengan bahasa berbeda-beda.
”Tapi, berkat kearifan pendiri bangsa, kita dapat bersatu di tengah perbedaan. Ternyata Pancasila inilah yang telah memperkenankan kita bersatu di tengah dinamika dunia, di tengah ketidakpastian,” tutur Prabowo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/01/a66be0b8-c026-4b0c-8103-c31f317123f5_png.png)
Seiring kemajuan sebagai salah satu kekuatan di dunia, Presiden pun melihat Indonesia masih memiliki banyak kekurangan. ”Sikap mental para elite bangsa, terutama mereka yang memegang jabatan penting sebagai wakil rakyat, sebagai utusan rakyat, mandataris rakyat. Saya, sebagai Presiden RI, melihat masih terlalu banyak penyelewengan, korupsi, manipulasi yang dilaksanakan justru di tubuh pemerintahan, di tubuh kekuasaan,” kata Prabowo.
Presiden pun menggunakan peringatan Hari Pancasila untuk mengajak seluruh unsur yang mendapat kepercayaan dan mandat rakyat guna mengembalikan nilai-nilai luhur perjuangan bangsa. ”Mari kita gunakan momentum untuk memperbaiki diri, untuk memperbaiki sistem masing-masing,” ujarnya.
Keteladanan dan integritas para elite bangsa diperlukan. Di sisi lain, Presiden Prabowo pun menegaskan tak akan ragu menegakkan UUD 1945 dan aturan perundangan.
”Jangan anggap negara ini tidak ada. Jangan menganggap negara ini bisa dipermainkan. Jangan anggap NKRI bisa dibohongi, bisa ditipu. Untuk kesekian kali lagi, di tempat bersejarah ini, atas nama seluruh rakyat Indonesia, saya memperingati seluruh unsur segera benah diri, segera bersihkan diri karena negara akan bertindak,” tutur Presiden.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/6a8a12bf-e7a1-4ae0-8fef-8b6fb52f56bd_jpg.jpg)
Presiden menambahkan, tak akan ragu menyingkirkan mereka yang tak setia dengan Indonesia dan melanggar undang-undang tanpa memandang asal keluarganya. Ketegasan ini diperlukan karena kekayaan negeri ini harus dinikmati seluruh bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, semua penyelewengan dan kebocoran uang negara harus berhenti. ”Semua pejabat yang tidak mampu melaksanakan tugas sebaiknya mundur sebelum saya berhentikan,” kata Prabowo.
Presiden pun mengatakan, Pancasila jangan hanya menjadi slogan apalagi hanya sekadar menjadi mantra.
Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily menilai, Presiden menegaskan kembali supaya Pancasila betul-betul dijiwai dan menjadi landasan hidup bangsa, terutama bagi para elite. Oleh karena itu, para penyelenggara negara harus menjadi teladan serta terus diingatkan tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila menjadi jiwa dalam setiap kebijakan.
Semua nilai Pancasila harus dibumikan dan ditunjukkan dalam perilaku sebaik-baiknya. Dalam pendidikan pemimpin nasional, Lemhannas sangat menekankan karakter dan integritas. Karakter mengutamakan kepentingan bangsa dan negara menjadi penting. Hukum pun harus ditegakkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/c0e2a9b1-ad30-4d92-afe8-068ea3d66666_jpg.jpg)
Peringatan Hari Lahir Pancasila ini juga menjadi saat pertama Gibran Rakabuming Raka bertemu dengan Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Seusai upacara, menurut Ketua MPR Ahmad Muzani, Presiden Prabowo sempat berbincang, berbisik-bisik, dan bercanda dengan Megawati.
Gibran pun disebut Muzani, menyalami Megawati serta menanyakan kabar kesehatannya. Di meja ruang tunggu, Gibran duduk berhadapan dengan Megawati.
Sejak Pemilu Presiden 2024, hubungan Megawati dengan keluarga Joko Widodo memburuk. Sebab, Jokowi mendukung Prabowo yang berpasangan dengan Gibran, putra Jokowi, dalam Pilpres 2024. Sementara itu, PDI-P mengusung pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Muzani mengaku tak mendengar apa yang dibisikkan Megawati dan Prabowo. Namun, dia bersyukur para pemimpin bangsa saling bertegur sapa, mengobrol, dan bersalaman.
Di ruang tunggu itu duduk dalam meja yang sama, antara lain, Presiden Prabowo, Megawati, Try Soetrisno, Jusuf Kalla, Muzani, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/4f1774db-1c58-404e-97dd-fd8542462a59_jpg.jpg)
Tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016. Tak hanya menetapkannya sebagai Hari Lahir Pancasila, 1 Juni menjadi hari libur nasional.
Tanggal 1 Juni ini dipilih dari munculnya istilah Pancasila dalam pidato Ir Soekarno di sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pidato ini menjadi tonggak sejarah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila sekaligus mengukuhkan peran Soekarno dalam merumuskan ideologi Pancasila.
Sidang BPUPKI itu sendiri berlangsung sejak 29 Mei sampai 1 Juni 1945 dan menghadirkan tokoh-tokoh, seperti Soepomo dan M Yamin.
”Namanya bukan Panca Dharma, tetapi—saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Panca Sila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi,” tutur Soekarno dalam pidatonya, 1 Juni 1945.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/06/20/c0a4478d-bbfa-409e-8a85-ea794a016291_jpg.jpg)
Adapun lima sila yang diusung Soekarno saat itu adalah kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, serta Ketuhanan yang Maha Esa.
Pidato Soekarno saat itu juga menekankan nasionalisme, persatuan, dan demokrasi. Indonesia merdeka pun ditegaskan bukan untuk satu orang atau untuk suatu golongan.
”Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara ’semua buat semua’. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya, tetapi ’semua buat semua’,” tegas Soekarno masih dalam pidatonya.
Setelah Sidang BPUPKI, Panitia Sembilan dibentuk dan menghasilkan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945 yang menjadi dasar awal Pembukaan UUD 1945. Sila pertama disempurnakan untuk mencerminkan kebinekaan Indonesia. Selanjutnya, pada 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengesahkan lima sila Pancasila yang dikenal hingga kini.
Penulis:
Nina SusiloEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .